Narasi "Halu" Soal Presiden Komunis Yaman: Siapa yang Sedang Berbohong?

 


Rabu, 6 Mei 2026

Faktakini.info

Narasi "Halu" Soal Presiden Komunis Yaman: Siapa yang Sedang Berbohong?

Belakangan ini muncul narasi yang sangat percaya diri namun kosong data dari ceramah Gus Abbas Billy yang mengeklaim bahwa pemimpin negara komunis di Yaman Selatan adalah dari kalangan Ba'alawi, dengan mencatut nama Abdurrahman Al-Jufri. Mari kita tampar narasi "halu" ini dengan kenyataan sejarah yang tidak bisa dibantah.

1. Buta Sejarah: Mencampuradukkan Komunisme dan Nasionalisme

Narasi ini menyebut Abdurrahman Al-Jufri sebagai "Presiden Komunis". Ini adalah kebohongan publik yang nyata.

Fakta Telak: Abdurrahman Al-Jufri adalah Wakil Presiden pada tahun 1994. Catat: Tahun 1994!

Fakta Pahit: Komunisme di Yaman sudah mati dan bubar pada tahun 1990. Bagaimana mungkin seseorang disebut pemimpin komunis di saat ideologi itu sudah jadi bangkai sejarah? Ini adalah upaya paksa mencocok-cocokkan data yang sangat amat amatir.

2. Memfitnah Korban Menjadi Pelaku

Narasi ini bukan cuma salah data, tapi jahat secara sejarah.

Di era komunis Yaman Selatan (1967-1990), kalangan Ba'alawi (Habaib) justru adalah korban persekusi paling berdarah. Mereka dipenjara, dibunuh, dan sekolah agamanya ditutup paksa oleh rezim Marxis-Leninis.

Mengatakan mereka adalah pemimpin komunis sama saja dengan memfitnah korban penjajahan sebagai penjajahnya. Ini adalah penghinaan terhadap ribuan nyawa ulama yang syahid di tangan rezim komunis asli (seperti Abdel Fattah Ismail dkk, yang jelas-jelas bukan Ba'alawi).

3. Asal Bunyi (Asbun) Soal Jabatan

Dalam catatan resmi negara Yaman, tidak pernah ada nama "Abdurrahman Al-Jufri" di daftar Presiden. Menambah-nambahkan jabatan "Presiden" dan label "Komunis" hanya menunjukkan bahwa narator tidak pernah membaca buku sejarah dan hanya mengandalkan sentimen kebencian.

Kesimpulan: PEMBODOHAN PUBLIK!

Narasi "Presiden Komunis Yaman adalah Ba'alawi" adalah SAMPAH SEJARAH. Ini adalah produk fitnah yang diracik dari ketidaktahuan dan disebarkan untuk memicu perpecahan. Siapa pun yang menyebarkan narasi ini tanpa data valid hanya sedang mempermalukan dirinya sendiri di depan fakta sejarah dunia.

Jangan mau dibodohi oleh narasi yang teriak paling kencang tapi datanya paling kosong!