Habib Saleh Alhabsyi, Pendekar yang Terlupakan
Ahad, 26 April 2026
Faktakini.info
Habib Saleh Alhabsyi, Pendekar yang Terlupakan
Ada nama-nama yang tidak tertulis besar di buku sejarah, namun jejaknya terukir dalam di hati mereka yang tahu. Saleh Alhabsyi adalah salah satunya. Guru Besar Lembaga Karate-Do Indonesia (Lemkari) ini adalah seorang pendekar sejati — bukan dari cerita, tetapi dari tatami.
Tiga Mahkota Asia yang Tak Tertandingi
Di era ketika karate Asia dikuasai oleh raksasa-raksasa dari Jepang dan Korea, seorang pemuda Indonesia berdiri tegak dan mengibarkan merah putih tiga kali berturut-turut di ajang APUKO (Asian Pacific Union of Karate-do Organizations) — cikal bakal federasi karate Asia yang kita kenal sekarang:
Juara 1 APUKO I (1973) — Singapura
Juara 1 APUKO II (1976) — Jakarta, Indonesia
Juara 1 APUKO III (1978) — Taipei, Taiwan
Tiga mahkota. Tiga benua berbeda. Satu nama: Saleh Alhabsyi.
Ketika Indonesia Membungkam Negeri Karate
Jepang adalah tanah kelahiran karate. Mengalahkan karateka Jepang bukan sekadar menang pertandingan — itu adalah pernyataan kepada dunia.
Dalam salah satu momen paling monumental dalam sejarah bela diri Indonesia, Saleh Alhabsyi berhasil menumbangkan karateka dari Jepang dengan skor telak. Kemenangan ini konon membuat namanya tercatat dengan hormat di lingkaran karate Jepang sendiri — sebuah pengakuan yang tidak datang sembarangan, dan sebuah rekor yang disebut belum terpecahkan oleh karateka Indonesia manapun hingga hari ini.
Ia tidak sekadar menang. Ia membuktikan bahwa dari bumi Nusantara bisa lahir seorang pendekar kelas dunia.
Sabuk Hitam, Hati Emas
Gelar Dan V dan status Dewan Guru Lemkari Pusat yang ia sandang bukan ornamen — itu adalah cerminan dari puluhan tahun dedikasi tanpa kompromi . Saleh bukan tipe guru yang menjaga jarak dengan muridnya. Ia turun langsung ke dojo-dojo, dari Jakarta hingga pelosok Sulawesi, memastikan api karate tetap menyala di tangan generasi berikutnya.
"Karate itu bukan untuk menyerang orang, tetapi bagaimana kita safety dan menguasai diri," begitu pesan yang selalu ia tanamkan kepada para muridnya .
Filosofi itu bukan ceramah. Itu adalah cara hidupnya.
Legenda yang Tak Butuh Panggung
Namanya tidak menghiasi headline olahraga nasional. Wajahnya tidak terpampang di billboard.
Tapi di setiap dojo Lemkari — dari Makassar, Gorontalo, hingga Jakarta — namanya disebut dengan nada yang berbeda: penuh hormat, penuh rindu.
Saleh Alhabsyi tidak membutuhkan validasi. Tatami sudah menjadi saksinya. Dan bagi mereka yang pernah berdiri di hadapannya — baik sebagai lawan maupun sebagai murid — ia adalah bukti nyata bahwa Indonesia pernah, dan akan selalu bisa, melahirkan pendekar kelas dunia.
Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu jalan agar namanya kembali dikenal oleh generasi yang belum sempat menyaksikannya.
HAA-Dehills Institute
