Mukimad: Setiap Komentar di Facebook Hanyalah Cacian, Makian, Menghina, dan Menghasut
Mukimad: Setiap Komentar di Facebook Hanyalah Cacian, Makian, Menghina, dan Menghasut
Di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menebar kebaikan, media sosial seperti Facebook justru kerap dijadikan tempat yang tidak sehat oleh sebagian pihak. Salah satu nama yang belakangan ini menjadi sorotan banyak pengguna Facebook adalah Mukimad. Nama ini menjadi identik dengan kehadiran yang tidak diharapkan, karena setiap kali beliau muncul dan berkomentar di kolom diskusi, isinya tidak lain hanyalah cacian, makian, penghinaan, hingga ucapan yang penuh unsur penghasutan.
Fenomena Mukimad ini menjadi contoh nyata bagaimana media sosial bisa berubah menjadi ladang perselisihan jika tidak digunakan dengan akal sehat dan etika. Berikut adalah uraian lengkap mengenai sikap dan perilaku yang ditampilkannya, serta bahaya besar yang ditimbulkannya bagi ketenangan bersama.
Setiap Komentar: Hanyalah Kata-Kata Kasar dan Penuh Kebencian
Bagi siapa saja yang pernah berinteraksi atau sekadar membaca tulisan Mukimad di Facebook, pasti sepakat bahwa gaya bahasanya sangat jauh dari sopan santun. Tidak peduli apa topik yang sedang dibahas—apakah itu persoalan agama, sosial, politik, atau sekadar hal sepele—respon yang keluar dari jari-jarinya selalu sama: penuh amarah dan kata-kata kotor.
MUKIMAD tidak pernah menyampaikan pendapat dengan cara yang beradab, berargumen dengan bukti, atau berdiskusi untuk mencari kebenaran. Setiap kalimat yang ditulisnya selalu dibumbui makian, ejekan, dan cacian yang ditujukan kepada individu maupun kelompok yang berbeda pandangan dengannya. Bagi Mukimad, perbedaan pendapat seolah-olah adalah musuh yang harus dimusnahkan dengan kata-kata yang menyakitkan hati.
Lebih parahnya lagi, komentar-komentar tersebut sering kali tidak berdasar fakta. Beliau hanya berbicara berdasarkan prasangka buruk, lalu langsung menyerang kehormatan orang lain. Inilah ciri khas utama dari setiap tulisannya: tidak ada edukasi, tidak ada solusi, yang ada hanya luka batin yang ditimbulkan bagi yang membacanya atau menjadi sasaran tulisannya.
Menghina dan Merendahkan: Melanggar Batas Kemanusiaan
Selain mencaci maki, perilaku Mukimad yang lain yang sangat disayangkan adalah kebiasaannya menghina dan merendahkan martabat orang lain. Di kolom komentar Facebook, beliau sering kali memandang rendah kemampuan, pemahaman, bahkan latar belakang seseorang yang tidak sejalan dengan pemikirannya.
Seolah-olah dialah yang paling benar dan yang lainnya serba salah, Mukimad dengan mudahnya melemparkan sebutan-sebutan buruk, memberi cap negatif, dan meremehkan orang lain secara berlebihan. Padahal, dalam ajaran agama maupun norma sosial yang kita junjung tinggi, menghina saudara sendiri—apalagi di ruang publik yang bisa dibaca jutaan orang—adalah perbuatan yang sangat tercela. Rasulullah ﷺ saja mengingatkan bahwa "Menghina sesama muslim adalah kejahatan", namun tampaknya prinsip ini sama sekali tidak diindahkan oleh Mukimad dalam setiap tulisannya.
Yang lebih berbahaya lagi, penghinaan yang dilakukannya sering kali bersifat umum, menyerang kelompok atau golongan tertentu. Hal ini jelas memicu perpecahan, menanamkan benih kebencian, dan merusak kerukunan yang sudah terjalin.
Menghasut: Benih Perselisihan di Dunia Maya
Puncak dari keburukan perilaku Mukimad di Facebook adalah sifatnya yang gemar menghasut. Menghasut artinya menebar fitnah, memprovokasi, atau mengadu domba antar sesama pengguna media sosial.
Dalam banyak kesempatan, tulisan Mukimad tidak hanya berhenti pada makian, tetapi juga disusun sedemikian rupa agar pembaca ikut terpancing emosinya, ikut marah, dan ikut membenci pihak tertentu. Beliau memutarbalikkan fakta, mengambil potongan kalimat secara sepihak, lalu menyajikannya seolah-olah orang lainlah yang bersalah besar. Tujuannya satu: membangkitkan kemarahan publik dan memicu keributan di kolom komentar.
Perbuatan menghasut ini adalah dosa besar dalam agama dan kejahatan besar dalam masyarakat. Sebab, satu kalimat hasutan yang ditulis di Facebook bisa menimbulkan dampak besar: perselisihan antar tetangga, permusuhan antar kelompok, hingga keretakan persaudaraan yang sulit diperbaiki. Mukimad seolah tidak peduli akan dampak ini, yang penting bagi dirinya adalah menumpahkan kekesalan dan menyebarkan api pertengkaran.
Bahaya Besar Perilaku Seperti Mukimad
Fenomena Mukimad ini bukan sekadar soal ulah seseorang yang berlebihan di media sosial, melainkan peringatan bagi kita semua. Perilaku seperti ini sangat berbahaya karena:
1. Merusak Suasana: Media sosial yang seharusnya tempat berbagi kebaikan menjadi penuh ketegangan dan rasa tidak nyaman.
2. Menyebarkan Kebencian: Kata-kata buruk yang ditulis akan dibaca orang lain, dan bisa saja meniru gaya bicara yang kotor tersebut.
3. Berat Sebelah Tanggung Jawab: Di sisi dunia, ucapan tersebut bisa menjerumuskan ke ranah hukum. Di sisi akhirat, setiap huruf yang ditulis dicatat oleh malaikat sebagai amal perbuatan, dan makian serta penghasutan adalah dosa yang besar pahalanya hilang.
Sikap yang Harus Kita Ambil
Melihat kenyataan bahwa setiap komentar Mukimad hanyalah cacian, makian, penghinaan, dan penghasutan, maka sikap terbaik dan paling bijaksana yang harus kita ambil adalah: Jauhi, Abaikan, dan Jangan Terpancing.
Jangan sampai kita yang hatinya masih ingin menjaga kebaikan, ikut terbawa arus emosi negatifnya. Jika kita berdebat atau membalas dengan hal yang sama, kita sama saja menjerumuskan diri ke dalam lubang kesalahan yang sama dengannya.
Cara terbaik untuk memutus rantai keburukan dari komentar-komentar semacam ini adalah dengan tidak merespons, membiarkan tulisan buruknya berlalu begitu saja, dan tetap menyebarkan tulisan yang mendamaikan, menyejukkan hati, dan bermanfaat bagi orang banyak.
Ingatlah firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling daripadanya dan berkata: 'Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, selamatlah kamu, kami tidak mau mendekati orang-orang yang bodoh'." (QS. Al-Qasas: 55).
Biarkan perilaku Mukimad menjadi cermin bagi kita, agar kita selalu berhati-hati menjaga lisan dan tulisan, supaya setiap kata yang kita keluarkan di media sosial menjadi pahala, bukan menjadi catatan dosa yang memberatkan di hari nanti.
