Buletin DPD FPI Jabar ke-22: Kutipan Samudera Hikmah dalam khutbah Idul Adha IB-HRS

 


Jum'at, 29 Mei 2026

Faktakini.info

Buletin DPD FPI Jawa Barat Edisi ke-22 Soroti Makna Ketaatan dan Keimanan dalam Khutbah Idul Adha IB-HRS

Bandung — Dewan Pimpinan Daerah Front Persaudaraan Islam (DPD FPI) Jawa Barat kembali menerbitkan Buletin DPD FPI Jawa Barat edisi ke-22 yang terbit pada Jumat, 29 Mei 2026 bertepatan dengan 12 Dzulhijjah 1447 H. Dalam edisi tersebut, dimuat kutipan penuh hikmah dari khutbah Idul Adha Imam Besar Front Persaudaraan Islam, Muhammad Habib Rizieq Shihab (IB-HRS).

Dalam khutbahnya, IB-HRS menegaskan bahwa hakikat keimanan sejati adalah tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa keraguan dan tanpa memilih-milih ajaran agama sesuai hawa nafsu. Beliau mengingatkan kembali kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai teladan ketaatan, pengorbanan, serta kepatuhan total terhadap perintah Allah SWT.

IB-HRS menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS tetap melaksanakan perintah menyembelih putranya meski secara perasaan dan logika manusia hal tersebut sangat berat. Kisah tersebut disebut sebagai gambaran nyata dari kesempurnaan iman dan ketundukan mutlak kepada Allah.

Dalam buletin itu, IB-HRS juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 15 yang menjelaskan ciri-ciri orang beriman sejati, yakni mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa keraguan serta berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah.

Selain itu, beliau turut menyinggung kisah turunnya ayat pengharaman khamr dalam Surah Al-Maidah ayat 90–91. Menurutnya, para sahabat Nabi langsung meninggalkan minuman keras tanpa banyak alasan maupun penundaan, meskipun saat itu minuman tersebut telah tersedia di hadapan mereka. Hal itu disebut sebagai bukti nyata ketundukan total kepada syariat Allah SWT.

IB-HRS juga mengingatkan berbagai kerusakan moral yang terjadi di tengah masyarakat akibat manusia menjauh dari syariat Allah, seperti perzinaan, perselingkuhan, narkoba, perjudian, hingga berbagai bentuk kemaksiatan lain yang dinilai menjadi penyebab kehancuran bangsa dan masyarakat.

Dalam khutbah tersebut, umat Islam diajak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta memperkuat ketakwaan dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Beliau menegaskan bahwa keberkahan suatu negeri akan turun apabila masyarakatnya beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Di akhir penyampaiannya, IB-HRS mengajak umat Islam memperbanyak taubat, sedekah, membaca Al-Qur’an, menjaga keluarga dari kemaksiatan, serta menjadikan Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum memperkuat ketakwaan, pengorbanan, dan kepatuhan total kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan.

TRANSKRIP ISI BULETIN

BULETIN DPD FPI JAWA BARAT

Edisi ke-22 — 12 Dzulhijjah 1447 H / 29 Mei 2026

Kutipan Nasehat Penuh Hikmah dari Khutbah Idul Adha:

IMAM BESAR DPMS

MUHAMMAD HABIB RIZIEQ SHIHAB, Lc. Ma. Ph.D.

IB-HRS dalam khutbah Idul Adha menyampaikan bahwa hakikat keimanan sejati adalah tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa keraguan dan tanpa memilih-milih ajaran agama sesuai hawa nafsu.

Beliau mengingatkan kembali kisah agung Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام sebagai teladan ketaatan, pengorbanan, dan ketundukan total kepada perintah Allah. Disebutkan bagaimana Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah untuk menyembelih putranya sendiri meskipun hal itu sangat berat secara perasaan maupun logika manusia.

Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 15:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang menerima seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya tanpa keraguan sedikit pun, sekalipun terkadang belum mampu dijangkau oleh akal manusia.

Beliau juga mencontohkan bagaimana para malaikat tunduk ketika diperintahkan sujud kepada Nabi Adam عليه السلام tanpa membantah ataupun memperdebatkan perintah Allah.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail disebut sebagai gambaran nyata tentang kesempurnaan iman dalam keluarga. Nabi Ibrahim disebut sempat merenung dan memastikan bahwa mimpi yang beliau lihat benar-benar wahyu dari Allah. Setelah yakin, beliau pun menyampaikan hal itu kepada putranya sebagaimana dikisahkan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

Lalu Nabi Ismail menjawab:

“Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Beliau menegaskan bahwa keimanan sejati adalah mendengar lalu taat. Apa yang Allah halalkan maka dihalalkan, dan apa yang Allah haramkan maka wajib dijauhi.

Dalam penyampaiannya juga disinggung tentang peristiwa turunnya ayat pengharaman khamr dalam Surah Al-Maidah ayat 90–91. Ketika para sahabat mendengar larangan tersebut, mereka langsung meninggalkan minuman keras tanpa banyak alasan dan tanpa penundaan, meskipun saat itu minuman tersebut telah tersedia di hadapan mereka.

Beliau juga menyebut bagaimana para wanita sahabat segera menutup aurat mereka setelah turun perintah hijab. Hal itu disebut sebagai bukti bahwa generasi terbaik umat Islam selalu mendahulukan ketaatan kepada Allah di atas kepentingan pribadi ataupun logika manusia.

Dalam khutbahnya, IB-HRS mengingatkan bahwa berbagai kerusakan moral yang terjadi di tengah masyarakat merupakan akibat manusia menjauh dari syariat Allah. Perzinaan, perselingkuhan, minuman keras, narkoba, perjudian, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya disebut hanya akan mendatangkan kehancuran bagi kehidupan masyarakat.

Beliau mengajak umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta menghidupkan semangat taat kepada Allah dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat.

Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa keberkahan suatu negeri akan turun apabila masyarakatnya beriman dan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى. Beliau mengutip firman Allah:

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.”

Sebaliknya, ketika manusia terus-menerus bermaksiat dan menolak hukum Allah, maka berbagai musibah, kerusakan sosial, dan krisis moral akan semakin meluas.

Di akhir penyampaiannya, IB-HRS mengajak umat Islam untuk memperbanyak taubat, memperbaiki ibadah, menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, menjaga keluarga dari kemaksiatan, serta mendidik anak-anak dengan iman dan akhlak yang baik.

Beliau juga mengajak kaum muslimin agar menjadikan Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat ketakwaan, pengorbanan, dan kepatuhan total kepada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh aspek kehidupan.