Rambut Nabi dan Tes DNA: Ketololan Sekte Imad Gagal Memahami Ucapan Habib Rizieq dan Habib Hanif
Senin, 2 Februari 2026
Faktakini.info
ARTIKEL UTAMA
Kebohongan Tes DNA dan Kepanikan Sekte Imad PWI-LS
Manipulasi Murahan atas Nama Nasab Rasulullah ﷺ
Upaya membentur-benturkan ucapan Habib Rizieq Syihab dengan Habib Hanif Alatas terkait isu tes DNA dan dzurriyah Rasulullah ﷺ adalah salah satu bentuk penipuan intelektual paling kasar yang terus diproduksi oleh sekte Imad PWI-LS. Kelompok orang-orang gila nasab ini tidak sedang berdiskusi secara ilmiah, melainkan mengelola kebencian yang dibungkus jargon “sains”.
Isu ini sengaja dipelintir untuk satu tujuan: merusak nasab yang telah tsabit dan mutawatir, karena mereka gagal total meruntuhkannya melalui jalur ilmu nasab.
Peninggalan Nabi dan Batas Ilmiah
Berbagai peninggalan Nabi Muhammad ﷺ—termasuk rambut—yang beredar di tengah umat Islam diterima dalam bingkai khusnuzan, bukan kepastian ilmiah absolut. Hingga hari ini, tidak ada metode yang mampu memastikan secara final bahwa suatu benda dapat diverifikasi pasti sebagai rambut Nabi ﷺ.
Fakta ini penting, karena seluruh bangunan argumen DNA yang dipaksakan oleh Imad cs berdiri di atas asumsi fiktif.
Ucapan Habib Rizieq yang Dipelintir
Habib Rizieq Syihab menyampaikan ilustrasi hipotetis: jika rambut Nabi ﷺ benar-benar dapat dipastikan keasliannya dan jika diuji DNA, maka akan tampak garis keturunan.
Ini bukan fatwa, bukan kaidah ilmu nasab, dan bukan ajakan menjadikan DNA sebagai metode penetapan nasab.
Namun pernyataan bersyarat tersebut sengaja dipotong dari konteksnya dan disulap menjadi seolah-olah Habib Rizieq mengusulkan DNA sebagai standar nasab. Ini bukan salah paham—ini rekayasa narasi.
Posisi Ilmiah yang Tegas
Habib Hanif Alatas menyampaikan posisi yang sudah menjadi konsensus ulama: tes DNA tidak boleh digunakan untuk penetapan nasab jauh, karena:
tidak akurat untuk lintasan ratusan tahun,
hanya relevan pada nasab dekat (ayah–anak),
berpotensi merusak nasab yang sudah tsabit.
Ini bukan pendapat pribadi, melainkan keputusan lembaga fatwa dunia Islam.
Kepanikan yang Sebenarnya
Bukan habaib yang panik.
Yang panik adalah mereka yang kehabisan instrumen ilmiah, lalu beralih ke DNA sebagai alat propaganda. Ketika DNA pun ditolak ulama, mereka berteriak “takut”.
Padahal yang terjadi adalah penolakan metodologis, bukan ketakutan.
Penutup
Nasab Rasulullah ﷺ tidak dijaga oleh laboratorium, tetapi oleh ilmu, sanad, sejarah, dan pengakuan ulama lintas generasi.
Selama sekte Imad PWI-LS terus hidup dari fitnah, mereka akan terus kalah—secara ilmiah, moral, dan sejarah.
FAQ BANTAHAN
Klarifikasi Tegas Isu Tes DNA, Rambut Nabi, dan Nasab Habaib
Q1: Apakah benar ada rambut Nabi Muhammad ﷺ yang bisa diuji DNA?
A: Tidak ada satu pun benda yang bisa dipastikan secara ilmiah sebagai rambut Nabi ﷺ. Yang ada hanyalah tradisi penghormatan berbasis khusnuzan, bukan verifikasi saintifik.
Q2: Apakah Habib Rizieq pernah menyerukan tes DNA untuk nasab?
A: Tidak. Habib Rizieq menyampaikan ilustrasi andaian (jika—maka), bukan fatwa dan bukan metode penetapan nasab.
Q3: Mengapa ilustrasi itu tidak bisa dijadikan dasar?
A: Karena premisnya tidak terpenuhi. Keaslian rambut Nabi ﷺ tidak bisa dipastikan, sehingga pembahasan DNA berhenti di tataran hipotetis.
Q4: Apakah DNA diakui dalam ilmu nasab?
A: Tidak. DNA bukan kaidah ilmu nasab, baik menurut ulama klasik maupun kontemporer.
Q5: Untuk apa DNA boleh digunakan?
A: Hanya untuk kasus nasab dekat (ayah–anak) dengan syarat ketat, bukan untuk nasab jauh ratusan tahun.
Q6: Apa sikap lembaga fatwa dunia Islam?
A: Menolak penggunaan DNA untuk penetapan nasab jauh karena tidak akurat dan berbahaya bagi nasab tsabit.
Q7: Apakah nasab habaib sudah pasti?
A: Ya. Nasab Ba‘alawi dan habaib bersifat mutawatir, diakui ahli nasab lintas abad, Naqobah Asyraf dunia, dan kitab-kitab otoritatif.
Q8: Mengapa ada yang terus memaksakan DNA?
A: Karena jalur ilmu nasab tertutup bagi mereka. DNA dijadikan alat agitasi, bukan instrumen ilmiah.
Q9: Apakah menolak DNA berarti takut sains?
A: Tidak. Ini soal metodologi, bukan ketakutan. Ilmu hanya sah jika digunakan pada ranahnya.
Q10: Kesimpulan akhir?
A: Nasab Rasulullah ﷺ dijaga oleh ilmu, sanad, dan sejarah, bukan oleh eksperimen spekulatif orang frustasi.
