Fenomena Dendam Kalah Panggung: Membaca Sikap Sekte Imad PWI-LS terhadap Habaib

 

Rabu, 4 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Dalam dinamika dakwah dan keumatan di Indonesia, konflik personal sering kali dibungkus seolah-olah sebagai perbedaan ideologis. Salah satu fenomena yang banyak dibicarakan belakangan ini adalah sikap keras Imaduddin bin Sarmana bin Arsa PWI-LS cs terhadap para habaib.

Jika dicermati secara jernih, persoalan ini tidak semata soal dalil atau manhaj. Ada dimensi psikologis, sosial, dan “panggung dakwah” yang tak bisa diabaikan.

Iri terhadap Nasab, Bukan Sekadar Perbedaan Pemikiran

Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, nasab Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan mulia yang diakui oleh para ulama lintas zaman. Habaib dihormati bukan karena klaim pribadi, melainkan karena sanad keilmuan, nasab, dan peran historis mereka dalam dakwah Islam—termasuk di Nusantara.

Namun, bagi kelompok Imad, kemuliaan ini justru memunculkan kegelisahan batin. Ketika pengakuan umat lebih mudah datang kepada habaib, sementara upaya personal untuk meraih legitimasi keulamaan tak membuahkan hasil, rasa iri kerap bertransformasi menjadi penolakan ideologis yang agresif.

Kalah Panggung, Lalu Menyerang Panggung

Realitas sosial menunjukkan bahwa ceramah para habaib umumnya memiliki daya tarik jamaah yang besar. Majelis mereka hidup, dihadiri lintas kalangan, dan mendapatkan tempat di hati umat. Sebaliknya, Sekte Imas yang kini paling lantang menyerang habaib justru minim basis jamaah, sepi undangan, dan kurang mendapatkan resonansi publik. 

Dalam konteks inilah muncul istilah “kalah panggung” atau “kalah laku”. Bukan dalam makna merendahkan, tetapi sebagai fakta sosial: ketika pesan dakwah tidak diminati, maka yang diserang sering kali bukan metodenya, melainkan figur yang sukses menarik umat.

Tidak Mendapat Tempat di NU

Fakta lain yang sering luput dibahas adalah bahwa Imaduddin dan beberapa figur sehaluan tidak memiliki posisi signifikan di lingkungan Nahdlatul Ulama. NU, dengan sistem keulamaan yang ketat dan berjenjang, menilai ulama bukan dari sensasi, tetapi dari sanad, adab, kontribusi, dan penerimaan jamaah.

Ketika tidak mendapatkan tempat di NU—baik secara struktural maupun kultural—kekecewaan ini lalu dialihkan ke luar, dengan membangun narasi seolah-olah NU dan habaib telah menyimpang, sementara merekalah yang paling benar.

PWI-LS: Wadah Pelarian, Bukan Arus Utama

PWI-LS kerap dipersepsikan sebagai kumpulan figur yang gagal berkompetisi secara sehat di NU, namun tetap ingin mendapatkan status “kyai” dan “ulama besar”. Alih-alih melakukan introspeksi, jalan pintas yang dipilih adalah membangun komunitas eksklusif dengan klaim kebenaran tunggal.

Pola ini bukan hal baru dalam sejarah Islam:

ketika arus utama tidak menerima, maka dibangunlah arus pinggiran dengan retorika perlawanan.

Penutup: Kritik Harus Jujur pada Akar Masalah

Menyerang habaib tidak akan otomatis menjadikan seseorang ulama besar. Menghapus kehormatan nasab tidak akan mengangkat martabat pribadi. Dan membangun popularitas lewat kebencian hanya akan mempersempit pengaruh dakwah itu sendiri.

Jika memang ingin memperbaiki umat, jalan yang ditempuh bukan dengan dendam dan serangan personal, melainkan dengan ilmu, adab, karya nyata, dan keteladanan—sebagaimana tradisi para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak dahulu.

Umat kini semakin cerdas:

mereka bisa membedakan mana kritik ilmiah, dan mana sekadar teriakan orang yang kalah panggung.