Dari Alaska ke Kiritimati: Matahari Terbenam yang Memukau Dunia
Sabtu, 21 Februari 2026
Faktakini.info
UFN
*Dari Alaska ke Kiritimati: Matahari Terbenam yang Memukau Dunia*
Jakarta, Indonesia – Bumi berputar sekali setiap sekitar 24 jam relatif terhadap Matahari. Rotasi ini membelah planet menjadi wilayah terang dan gelap secara terus-menerus. Namun manusia tidak hanya membagi terang dan gelap—kita juga membaginya menjadi zona waktu, hasil kompromi antara astronomi, geografi, dan politik.
Di ujung paling barat sistem waktu modern terdapat UTC−12. Zona ini mencakup pulau terpencil seperti Baker Island dan Howland Island di Samudra Pasifik. Kedua pulau tersebut tidak berpenghuni tetap dan dikelola sebagai kawasan konservasi Amerika Serikat. Meski sunyi dari aktivitas manusia, zona ini tetap diakui sebagai wilayah yang paling akhir memasuki hari baru secara kalender global.
Sebaliknya, di ujung timur sistem waktu terdapat UTC+14, zona paling awal memasuki tanggal baru. Zona ini digunakan oleh Kiritimati, bagian dari negara kepulauan Kiribati. Pada tahun 1995, pemerintah Kiribati memutuskan memindahkan Garis Tanggal Internasional ke arah timur agar seluruh wilayah negaranya berada dalam satu tanggal yang sama. Keputusan tersebut bersifat administratif dan ekonomi, tetapi berdampak pada peta waktu dunia. Sejak itu, Kiritimati dikenal sebagai salah satu tempat pertama yang menyambut pergantian hari dan tahun.
Rentang antara UTC−12 dan UTC+14 mencapai 26 jam. Artinya, pada satu momen tertentu, dua tempat di Bumi dapat berbeda lebih dari satu hari kalender, meski keduanya berada di bawah Matahari yang sama.
*Matahari Terbenam dari Ujung ke Ujung Bumi*
Secara astronomi, waktu terbenam Matahari ditentukan oleh lintang geografis dan posisi tahunan Matahari (deklinasi). Di wilayah dekat ekuator seperti Kiritimati, panjang siang relatif stabil sepanjang tahun. Matahari biasanya terbenam sekitar pukul 18:30–18:50 waktu setempat, dengan variasi musiman yang kecil karena perubahan deklinasi Matahari antara +23,44° dan −23,44°.
Di Baker Island yang juga berada dekat ekuator, Matahari umumnya terbenam sekitar pukul 18:00 waktu lokal. Perbedaan menit ini muncul dari variasi bujur dan persamaan waktu (equation of time), yaitu selisih antara waktu matahari sejati dan waktu rata-rata akibat orbit Bumi yang elips dan kemiringan sumbunya.
Berbeda dengan wilayah tropis, daerah lintang tinggi mengalami variasi ekstrem. Di Anchorage, negara bagian Alaska, panjang siang berubah drastis sepanjang tahun. Pada musim dingin, Matahari bisa terbenam sebelum pukul 16:00. Pada musim panas, Matahari dapat tetap terlihat hingga mendekati tengah malam. Fenomena ini sepenuhnya akibat kemiringan sumbu rotasi Bumi sekitar 23,44°, bukan karena perubahan kecepatan rotasi.
Jika pada suatu hari Matahari terbenam pukul 18:45 di Kiritimati (UTC+14), maka secara universal time peristiwa itu setara dengan pukul 04:45 UTC. Pada saat yang sama, di Jakarta (UTC+7) waktu menunjukkan sekitar pukul 11:45 siang. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana sistem zona waktu memetakan satu peristiwa astronomi ke dalam jam yang berbeda-beda.
*Geometri Kosmik dan Kesepakatan Manusia*
Secara fisika, tidak ada lokasi yang “lebih dahulu” melihat Matahari dalam arti absolut. Matahari menyinari setengah permukaan Bumi secara kontinu. Konsep lebih dulu atau lebih lambat muncul karena pembagian zona waktu dan penetapan Garis Tanggal Internasional sebagai batas administratif.
Keputusan Kiribati pada 1995 adalah contoh jelas bagaimana politik dapat menggeser persepsi global tentang waktu tanpa mengubah sedikit pun hukum astronomi. Rotasi Bumi tetap konstan. Deklinasi Matahari tetap mengikuti mekanika langit. Yang berubah hanyalah angka di kalender dan jarum di jam.
Dari Alaska hingga Kiritimati, dari pulau tak berpenghuni hingga kota modern, Matahari terbenam mengikuti hukum yang sama: geometri bola yang berputar di ruang angkasa. Manusia membaginya menjadi zona, kalender, dan batas tanggal. Alam semesta tetap berjalan dengan ketenangan matematisnya.
