Ceramah Habib Taufiq Assegaf Soal 'Makruh' Dipelintir Pembenci Habaib, Ini Penjelasannya
Selasa, 10 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Soal potongan ceramah Habib Taufiq soal hukum makruh, yang terjadi bukan perkara ilmiah, tapi perang framing.
Ringkas tapi terang ya:
Dalam salah satu ceramah Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf saat menjelaskan hukum makruh, ada bagian ucapan yang tidak utuh terdengar—bisa karena keseleo lidah, bisa karena kalimat lanjutan terpotong, atau intonasi belum selesai dijelaskan.
Potongan pendek itulah yang lalu diambil, dipisahkan dari konteks, dan disebar.
Lalu apa yang terjadi setelahnya?
1. Dipotong dari konteks keilmuan
Dalam kajian fiqih, penjelasan makruh selalu bertingkat:
makruh tanzih
makruh tahrim
makruh karena adab
makruh karena kondisi tertentu
Tapi potongan video itu menghilangkan penjelasan sebelum & sesudahnya, sehingga seolah-olah:
“Habib ini ngawur / salah paham fiqih”
Padahal penjelasan utuhnya nyambung dan standar kitab.
2. Dijadikan bahan olok-olok oleh para pembenci Habaib, bukan diskusi
Kalau niatnya ilmiah, mestinya:
dibahas kitab rujukannya
dibandingkan pendapat ulama
disampaikan lengkap
Yang terjadi justru:
meme
ejekan
potongan 10–20 detik
caption provokatif
Artinya: tujuannya bukan klarifikasi, tapi delegitimasi.
3. Pola lama: cari celah → viralkan → generalisasi
Ini bukan kasus pertama, dan hampir selalu polanya sama:
Cari satu kalimat rawan
Potong
Viralkan
Kesankan “habaib = salah semua”
Padahal kalau standar ini dipakai ke semua ustaz, tidak ada satu pun yang lolos.
4. Reaksi jamaah & santri
Santri dan jamaah yang:
ngaji langsung
biasa dengar ceramah beliau
tahu rujukan kitabnya
➡️ paham itu bukan kesalahan substansi, tapi kesalahan framing.
Makanya sebagian besar tidak terpancing, karena sadar:
orang yang niat nyari salah, dikasih emas pun tetap dibilang besi.
Kesimpulan jujurnya
Yang terjadi bukan “Habib Taufiq salah besar”, tapi:
ucapan dipotong
niat buruk pembenci
ketidaksiapan sebagian orang membedakan fiqih dan konten viral
Ilmu itu butuh duduk, bukan scroll.
Dan ulama dinilai dari manhaj hidupnya, bukan clip 15 detik.
Simak Biar kelihatan mana yang ngaji, mana yang cuma ngedit.
1️⃣ PENJELASAN ILMIAH: APA ITU “MAKRUH” YANG DIMAKSUD
Dalam fiqih Ahlussunnah wal Jama’ah, istilah makruh bukan satu tingkat. Ini poin yang sering sengaja dihilangkan.
🔹 Jenis-jenis makruh:
Makruh Tanzih
➜ Ditinggalkan lebih utama, tapi tidak berdosa jika dilakukan.
Contoh: meninggalkan sunnah rawatib tanpa alasan.
Makruh Tahrim (menurut Hanafiyah)
➜ Hampir mendekati haram, tapi dalilnya zhanni.
Di mazhab lain sering langsung dimasukkan ke haram.
Makruh karena adab / kondisi
➜ Makruh jika dalam situasi tertentu, bukan mutlak.
📌 Dalam ceramah Habib Taufiq, beliau sedang menjelaskan makruh dalam konteks tertentu, bukan membuat kaidah baru.
👉 Tapi potongan video memutus penjelasan konteksnya, sehingga makruh yang bersyarat dipersepsikan seolah makruh mutlak.
Ini kesalahan editing, bukan kesalahan fiqih.
2️⃣ APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI LAPANGAN
Mari jujur dan fair:
❌ Tidak ada fatwa baru
❌ Tidak ada penyimpangan manhaj
❌ Tidak ada bantahan kitab yang valid
Yang ada:
✔️ Ceramah panjang
✔️ Dipotong 10–20 detik
✔️ Disebar dengan caption provokatif
✔️ Dijadikan bahan olok-olok
Kalau ini disebut “kritik ilmiah”, maka meme juga sudah jadi jurnal internasional.
3️⃣ BANTAHAN ILMIAH TAPI TENANG (VERSI NGGAK TERIAK)
Bantahan inti:
Tidak sah menilai pendapat ulama hanya dari potongan ceramah tanpa melihat konteks, rujukan kitab, dan penjelasan lengkapnya.
Karena:
Ulama fiqih berbicara dengan asumsi pendengar paham dasar
Ceramah bukan makalah
Fiqih bukan konten TikTok
📚 Prinsip ushul:
Al-‘ibrah bil-ma’ani la bil-alfazh
Yang dinilai adalah maksud, bukan potongan lafaz.
Kalau standar “keseleo lidah = sesat” dipakai: ➡️ Imam Nawawi, Ibnu Hajar, bahkan Imam Syafi’i pun bisa diseret — karena dalam kitab pun ada ralat dan penjelasan lanjutan.
4️⃣ POLA LAMA PARA PEMBENCI HABAIB (INI PENTING)
Kasus ini tidak berdiri sendiri, tapi bagian dari pola:
Cari satu kalimat rawan
Potong
Hilangkan konteks
Viralkan
Generalisasi: “habaib bermasalah semua”
Ini perang persepsi, bukan diskursus ilmu.
Makanya yang diserang:
ceramah lisan
bukan kitab
bukan karya ilmiah
bukan sanad keilmuan
Karena kalau masuk kitab, mereka tenggelam.
5️⃣ VERSI SATIR ELEGAN (HALUS TAPI NUSUK)
“Lucu juga, orang yang nggak pernah buka kitab fiqih, tiba-tiba jadi mujtahid hanya karena nonton video 15 detik.”
Atau:
“Ulama salah ucap satu kata → dianggap sesat.
Netizen salah paham satu bab → merasa paling selamat.”
Atau yang paling pas:
“Ngaji butuh duduk berjam-jam.
Nyinyir cukup rebahan.”
6️⃣ KESIMPULAN KUNCI (BIAR JELAS POSISINYA)
🔹 Ini bukan skandal ilmiah
🔹 Ini bukan kesalahan manhaj
🔹 Ini bukan penyimpangan aqidah
Ini adalah:
✖️ Potongan ceramah
✖️ Editing berniat buruk
✖️ Konsumsi publik yang malas tabayyun
Dan sejarah selalu sama:
Ulama dihina di zamannya
Baru dihormati setelah wafat
Sementara para pengejek… hilang bersama arsip medsos
