TIKUNGAN DAN JEBAKAN DIJALAN DAKWAH

 



Sabtu, 17 Januari 2026

Faktakini.info

TIKUNGAN DAN JEBAKAN DIJALAN DAKWAH 

Oleh ; Nonop Hanafi ketua FSPP kab Ciamis

Dakwah adalah tugas yang sangat mulia. Ia merupakan wazhīfatur rusul—mega proyek para rasul. Para pelaku dakwah sejatinya adalah pelanjut estafet misi risalah kenabian: mengajak dan menyeru umat manusia agar tunduk dan taat kepada komando Allah ﷻ, membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan sejati hanya kepada Allah, serta mengingkari segala bentuk ketuhanan selain-Nya.

Allah ﷻ memberikan gelar Khairu Ummah kepada umat yang konsisten menjalankan dakwah: menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

(QS. Āli ‘Imrān: 110)

Rasulullah ﷺ pun menggambarkan betapa agungnya pahala dakwah:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada dunia dan seluruh isinya.”

Orang-orang yang mencerahkan umat dengan membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia, serta mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ, kehadirannya di dunia merupakan anugerah besar bagi orang-orang beriman.

Namun, perjalanan dakwah bukanlah jalan yang lurus tanpa rintangan. Ia penuh onak dan duri, sarat dengan ujian, tikungan tajam, bahkan jebakan yang dapat membuat pelaku dakwah tergelincir dan keluar dari kendali syariat.

Lalu, apa saja tikungan dan jebakan di jalan dakwah itu?

1. Sempit dalam Memahami Makna Dakwah

Sebagian orang memahami dakwah hanya sebatas tabligh: ceramah, pidato, atau mimbar. Padahal dakwah memiliki makna yang sangat luas, seluas seluruh pranata kehidupan umat manusia.

Dakwah bisa dilakukan melalui lisan maupun tulisan, melalui media apa pun, dan di mana pun ada interaksi manusia. Bahkan, dakwah melalui akhlak dan perilaku yang baik sering kali menjadi dakwah yang paling tajam dan mengena.

دَلَالَةُ الْحَالِ أَوْلَى مِنْ دَلَالَةِ الْمَقَالِ

“Dakwah melalui perbuatan lebih kuat daripada dakwah melalui ucapan.”

2. Mabuk Pujian

Pelaku dakwah, khususnya yang tampil di panggung publik, akan diuji dengan pujian, sorotan kamera, viralitas media sosial, banyaknya pengikut, dan kerumunan massa.

Jika tidak hati-hati, ujian ini dapat melahirkan penyakit ananiyah (egoisme), ujub, bahkan kultus individu. Akibatnya, sikap menjadi anti-kritik, sulit menerima nasihat, dan merasa berada di “menara gading” yang tak tersentuh.

3. Tahta, Harta, dan Wanita

Inilah tikungan paling berat di jalan dakwah. Jabatan dapat meluluhkan idealisme, harta dapat melemahkan konsistensi, dan wanita dapat mendegradasi moral pelaku dakwah.

Fitnah dunia memang selalu tampil dengan wajah yang memikat. Karena itu, para dai sangat membutuhkan perlindungan dan penjagaan dari Allah ﷻ.

4. Fanatisme Sempit

Fanatisme kelompok juga merupakan jebakan besar, terutama ketika dai memiliki loyalitas berlebihan terhadap ormas, partai politik, atau aliansi tertentu.

Akibatnya muncul sikap:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Setiap kelompok merasa paling benar dan paling hebat.

Fenomena ini membuat kelompok lain dipinggirkan, disalahkan, bahkan dimusuhi. Inilah penyakit dakwah yang sangat menggejala di zaman ini.

5. Monopoli Tafsir Teks Keagamaan

Pemahaman sempit terhadap nash Al-Qur’an dan Hadits juga menjadi tikungan berbahaya. Ketika suatu kelompok merasa paling berhak dan paling otoritatif dalam menafsirkan teks agama, maka lahirlah sikap eksklusif, intoleran, dan mudah menyalahkan sesama pelaku dakwah.

Padahal, khazanah tafsir Islam sangat luas, kaya, dan berlapis. Ketidakmampuan menerima perbedaan ijtihad menjadi pintu awal konflik internal umat.


Bersambung…