SUGENG PWI-LS: DNA O-F2028 CHINA–MONGOL, NAMUN MENGKLAIM CUCU WALISONGO DAN RASUL SAW
Kamis, 22 Januari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Jika publik mengira kegagalan klaim nasab hanya berhenti pada lingkar NAAT, maka nama Sugeng Sugiharto, tokoh yang kerap dikaitkan dengan PWI-LS dan jaringan sekte Imaduddin bin Sarmana bin Arsa, menunjukkan bahwa polanya berulang, metodenya sama, dan ujungnya identik: klaim besar, data nol.
NARASI YANG DIJUAL KE PUBLIK
Dalam berbagai forum, Sugeng Sugiharto disebut-sebut:
mengaitkan diri dengan nasab Arab, Padahal dari mukanya saja dia jelas berwajah China Mongol, namun Sugeng berkulit legam, tidak putih.
melompat pada klaim Walisongo, di channel nya sudah berkali-kali Sugeng mengaku dirinya cucu Walisongo
bahkan diseret ke narasi keturunan Rasulullah SAW secara implisit oleh para pendukungnya. Karena doktrin Imad, walisongo sudah pasti keturunan Rasulullah SAW, karena itu jika Sugeng mengaku sebagai cucu walisongo sudah pasti berarti mengaku cucu Nabi Muhammad SAW juga.
Narasi ini diproduksi dengan retorika sejarah, cerita lisan, dan klaim sepihak, tanpa pengakuan:
ahli nasab mu‘tabar,
sanad nasab tertulis yang diakui,
atau legitimasi Naqobah Asyraf mana pun.
HASIL DNA YANG BEREDAR: POLA SAMA, HASIL SAMA
Berdasarkan hasil tes DNA Y-Chromosome yang beredar luas di kalangan peneliti independen dan pemerhati polemik nasab, Sugeng Sugiharto memiliki haplogroup O-F2028, rumpun genetika yang secara umum dominan pada populasi Asia Timur–Asia Tenggara (China–Mongolia).
➡️ Bukan J1
➡️ Bukan Arab patrilineal
➡️ Tidak ada korelasi genetik dengan Walisongo, apalagi Rasulullah SAW
TABRAKAN DENGAN DISIPLIN NASAB
Para ahli menegaskan bahwa:
Nasab tidak ditetapkan dengan cerita,
Tidak disahkan dengan klaim pribadi,
Tidak pernah sah tanpa pengakuan naqobah dan ahli nasab mu‘tabar.
Dalam konteks ini, klaim Sugeng Sugiharto: ❌ tidak memiliki sanad nasab sahih
❌ tidak diakui lembaga Naqobah Asyraf
❌ tidak ditopang data genetika yang relevan
Namun tetap dipromosikan ke publik awam dengan narasi emosional dan simbol religius.
KESIMPULAN PART 5
Kasus Sugeng Sugiharto memperjelas satu hal penting:
Masalahnya bukan pada DNA.
Masalahnya pada klaim tanpa legitimasi.
Haplogroup O (China–Mongolia) bukan aib.
Yang menjadi masalah adalah Sugeng memaksakan klaim Walisongo dan Rasulullah SAW tanpa dasar nasab yang sah, lalu membungkusnya dengan retorika agama.
Para pengamat menyebut pola ini dengan istilah yang semakin keras terdengar di publik:
BEGAL NASAB — KLAIM BESAR, BUKTI NIHIL.
