"Darah Ba’alawi di Balik Singgasana: Jejak Arab Yaman dalam Keraton Yogyakarta"
Kamis, 22 Januari 2026
Faktakini.info
"Darah Ba’alawi di Balik Singgasana: Jejak Arab Yaman dalam Keraton Yogyakarta"
(Menjawab permintaan Mas Andi Awan Tentang Habib Hasan Munadi Baabud)
Sejarah Nusantara tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh dari perjumpaan banyak bangsa—dan salah satu yang paling awal berbaur dengan penduduk lokal adalah para pendatang Arab Hadhrami (Yaman Selatan). Jauh sebelum kolonialisme Belanda menginjakkan kaki, proses pembauran itu telah terjadi secara alamiah: lewat perdagangan, dakwah, dan pernikahan.
Sebagian dari mereka bahkan menembus tembok-tembok kerajaan Nusantara. Menariknya, banyak keturunan Arab tersebut kemudian melepas nama Arabnya, mengenakan busana lokal, mengikuti adat istiadat setempat, dan hidup sepenuhnya sebagai bagian dari masyarakat Jawa. Inilah wajah asimilasi yang sering luput—atau sengaja dilupakan—oleh mereka yang gemar memutus nasab dan merendahkan peran keturunan Yaman dalam sejarah Indonesia.
Salah satu contoh paling nyata dari pembauran ini adalah Kesultanan Yogyakarta.
– Jejak Arab di Lingkar Dalam Keraton
Dalam penelitiannya, L.W.C. Van den Berg mencatat adanya keluarga Arab yang menduduki posisi penting di Kesultanan Yogyakarta. Meski sebagian besar dari mereka telah kehilangan ciri lahiriah bangsa Arab—baik nama maupun budaya—jejak darah dan peran mereka tetap tercatat dalam sejarah.
Penelitian akademik yang lebih spesifik dilakukan oleh Siti Hidayati Amal (Universitas Indonesia) dalam riset berjudul Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab-Jawa di Luar Tembok Keraton Yogyakarta. Di sana disebutkan beberapa nama dan jalur pencarian yang mengungkap mata rantai keturunan Arab dalam lingkungan keraton.
Salah satu sumber utama adalah Ibu Wida, seorang keturunan Arab-Jawa dari jalur ibu. Dalam Serat Kekancingan (surat keterangan silsilah) dari Keraton Yogyakarta, disebutkan dengan jelas bahwa beliau merupakan keturunan Arab dan Jawa. Dari penelusuran yang dilakukannya, ditemukan silsilah Arab keluarganya sebagai berikut:
Muhammad Shahib Mirbath – Ali Ba’alwi – al-Faqih al-Muqaddam Muhammad – Alwi al-Ghayyur – Ali – Muhammad Mauladawilah – Ali – Abdullah Ba’abud – Abdurrahman Ba’abud – Abu Bakar Ba’abud Kharbasyan – Ahmad – Husein – Abu Bakar – Abdullah – Muchsin – Umar – Muchsin – Abdullah – Alwi Ba’abud – Hasan al-Munadi – Ibrahim Ba’abud – Mohamad Irfan – Ya’kub – Hasan Manadi – Siti S (ibu dari Ibu Wida).
Silsilah ini bukan klaim lisan tanpa dasar, melainkan ditopang dokumen keraton dan riset genealogis yang serius.
– Alwi Ba’abud dan Awal Masuknya Arab Ba’alawi ke Keraton
Sumber penting lainnya adalah Soemitro Oetomo (Tommy)—kerabat Ibu Wida—yang secara tekun menelusuri garis keturunannya. Penelusuran ini tidak dilakukan sembarangan. Ia dibantu oleh sejarawan dan institusi kredibel seperti Peter Carey, Sartono Kartodirdjo, Arnold Toynbee, de Graaf, serta Kantor Arsip Nasional.
Dari hasil riset tersebut, ditemukan bahwa orang Arab pertama yang masuk ke lingkar Keraton Yogyakarta adalah Alwi Ba’abud, seorang keturunan Ba’alawi dari Hadhramaut. Ia datang ke Nusantara melalui jalur perdagangan Jepara dan Demak pada tahun 1755—tahun yang sama dengan Perjanjian Giyanti, ketika Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono I.
Alwi Ba’abud bukan sekadar pedagang. Selain dikenal sebagai pedagang kuda, ia juga seorang tabib. Keahliannya membuatnya dekat dengan Sultan dan akhirnya diangkat sebagai penasihat agama di Keraton Yogyakarta. Hubungan ini bukan hubungan tempelan, melainkan relasi kepercayaan yang lahir dari jasa dan integritas.
– Pernikahan Darah Arab dan Darah Raja
Menurut cerita para pini sepuh, Alwi Ba’abud menikahkan putranya, Hasan al-Munadi, dengan putri Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh), yakni Bendoro Raden Ayu Samparwadi, putri dari Bendoro Mas Ajeng Citrosari.
Kisahnya bermula ketika Samparwadi jatuh sakit. Sultan Hamengku Buwono II mengadakan sayembara bagi siapa saja yang mampu menyembuhkan sang putri. Orang yang berhasil adalah Alwi Ba’abud. Namun karena usianya telah lanjut, ia tidak menikahinya, melainkan menikahkan putranya dengan Samparwadi.
Pernikahan ini berlangsung pada tahun 1789, dan dari pernikahan tersebut lahirlah Ibrahim Ba’abud Madiokusumo—leluhur dari banyak garis keturunan Keraton Yogyakarta yang masih ada hingga hari ini.
– Penutup: Sejarah Tidak Bisa Diputus dengan Caci Makian
Fakta-fakta ini menunjukkan satu hal sederhana: keturunan Arab Ba’alawi bukanlah penumpang gelap dalam sejarah Nusantara, apalagi dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Mereka hadir, berbaur, berjasa, dan bahkan menjadi bagian dari darah raja.
Maka, upaya memutus nasab Habaib atau merendahkan peran keturunan Yaman bukan hanya tidak beradab—tetapi juga bertabrakan langsung dengan arsip, riset akademik, dan dokumen keraton. Sejarah boleh diperdebatkan, tetapi tidak bisa dihapus hanya dengan teriakan kebencian.
Referensi
L.W.C. Van den Berg, Orang Arab di Nusantara. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010.
Siti Hidayati Amal, Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab-Jawa di Luar Tembok Keraton Yogyakarta, Universitas Indonesia.
__________
Oleh Tamzilul Furqon S.Pd.
