Rial Iran Terjun Bebas: Ketika Sanksi AS Menjadi Algojo Ekonomi
Senin, 12 Januari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Kekacauan di Iran saat ini, tak lepas dari peran AS dan Israel selama berpuluh tahun yang telah berhasil melemahkan perekonomian Iran.
Mata uang Iran, rial, kini berada di titik nadir yang nyaris tak terbayangkan. Di pasar bebas per 11 Januari 2026, nilai tukarnya meluncur ke kisaran 1,45–1,5 juta rial per 1 dolar AS. Angka yang bukan sekadar statistik, tetapi cermin betapa rapuhnya ekonomi sebuah negara di bawah tekanan geopolitik berkepanjangan.
Sejak Revolusi 1979, rial telah kehilangan nilainya hingga puluhan ribu kali lipat. Namun kejatuhan kali ini terasa lebih brut4l. Bukan perlahan, melainkan seperti dijatuhkan dari tebing tanpa tali pengaman.
Pemicu utamanya jelas: pemberlakuan kembali mekanisme sanksi PBB yang dikangkangi Amerika pada September 2025, ditambah tekanan sanksi unilateral Amerika Serikat yang kembali diperkeras di era Donald Trump. Akses Iran ke sistem keuangan global terputus, transaksi internasional tersendat, dan ekspor minyak—urat nadi devisa negara—tercekik nyaris sampai mati.
Dampaknya langsung menghantam dapur rakyat. Harga kebutuhan pokok melonjak, daya beli runtuh, tabungan menguap. Uang kertas yang dulu cukup untuk hidup seminggu, kini tak lebih dari sekadar tiket sekali belanja. Rial bukan hanya melemah, tapi kehilangan wibawa.
Di tengah krisis ini, gelombang protes bermunculan di berbagai kota. Rakyat turun ke jalan, bukan karena ideologi, tapi karena perut. Bukan karena ambisi, tapi karena putus asa. Mereka memprotes harga, pekerjaan, dan masa depan yang terasa semakin jauh.
Sanksi disebut sebagai instrumen diplomasi. Tapi di Tehran, ia terasa seperti hukuman kolektif. Yang terpukul bukan hanya elite, tapi jutaan warga biasa yang tak pernah duduk di meja perundingan.
Rial boleh jatuh di papan kurs, tapi yang sebenarnya remuk adalah kepercayaan. Kepercayaan pada stabilitas, pada janji negara, dan pada harapan bahwa hidup besok masih layak diperjuangkan.
Dan ketika mata uang sudah kehilangan makna, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan sunyi: berapa harga sebuah kedaulatan jika harus dibayar dengan kemiskinan massal?
#artist
#matauang
