Habib Ali Kwitang Sebuah Nama yang Mampu membuat Gerah Para pembegal Nasa/Sekte Imadiyah

 

Selasa, 27 Januari 2026

Faktakini.info

"Habib Ali Kwitang Sebuah Nama yang Mampu membuat Gerah Para pembegal Nasa/Sekte Imadiyah"

(Proklamasi Kemerdekaan hasil Munajat Habib Ali Kwitang)

Dalam sejarah Islam Nusantara—khususnya Jakarta—ada nama yang nyaris mustahil dihapus, betapapun keras upaya sebagian pihak yang meragukan ketersambungan nasab para Habaib kepada Rasulullah ﷺ. Nama itu adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, lebih masyhur dikenal sebagai Habib Ali Kwitang.

Ia bukan sekadar tokoh agama. Ia adalah fakta sejarah yang hidup, saksi zaman yang keberadaannya menampar telak narasi simplistis para pemutus nasab dari kelompok Sekte Imadiyah dan affiliasinya.

Habib Ali Kwitang lahir di Batavia (Jakarta) pada 20 April 1870, dan wafat pada 13 Oktober 1968. Hampir satu abad hidupnya diabdikan untuk ilmu, dakwah, dan umat—lintas masa kolonial, pergerakan nasional, hingga Indonesia merdeka. Tidak berlebihan jika dikatakan: mustahil membicarakan Islam Jakarta tanpa menyebut Habib Ali Kwitang.

– Majelis Kwitang: Dakwah, Ilmu, dan Etika Sosial

Dalam kiprah dakwahnya, Habib Ali Kwitang mendirikan Majelis Taklim Kwitang, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Batavia. Majelis ini bukan sekadar forum ceramah, melainkan ruang pembentukan karakter umat—tempat tauhid diajarkan tanpa kebencian, tasawuf ditanamkan tanpa eskapisme, dan akhlak dikokohkan tanpa kehilangan nalar.

Ajaran yang beliau sampaikan berporos pada:

• kemurnian iman,

• solidaritas sosial,

• serta akhlakul karimah sebagai wajah Islam di tengah masyarakat majemuk.

Dalam seluruh aktivitasnya, Habib Ali Kwitang tidak pernah menjadikan mimbar sebagai alat provokasi. Ia tidak mengajarkan hasad, dengki, gibah, apalagi fitnah. Sebaliknya, ia menghidupkan tradisi Ahlul Bait: memuliakan manusia, menjaga martabat sosial, dan menegakkan adab sebelum debat.

Pertanyaannya sederhana namun menggelisahkan bagi para pembenci nasab:

apakah mungkin figur dengan pengaruh moral sedemikian besar diterima luas—oleh ulama, masyarakat, bahkan tokoh nasional—jika nasabnya sejak awal dianggap problematik?

– Ulama Penuntut Ilmu, Bukan Pewaris Gelar Kosong

Narasi bahwa para Habaib “hanya hidup dari klaim nasab” runtuh total ketika berhadapan dengan riwayat keilmuan Habib Ali Kwitang.

Menurut penuturan Ustadz Miftah el-Banjary, pada usia 12 tahun, Habib Ali Kwitang telah berangkat ke Hadramaut untuk menuntut ilmu. Di sana ia tidak hidup dalam kenyamanan. Ia menggembala kambing demi mencukupi kebutuhan hidupnya—sebuah realita yang sering luput dari perhatian, tapi justru memperlihatkan watak ulama sejati: mandiri, sabar, dan jauh dari mental feodal.

Bidang ilmu yang ia dalami meliputi:

• Fikih,

• Tafsir,

• Sejarah Islam,

• dan disiplin keilmuan klasik lainnya.

Setelah Hadramaut, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Makkah dan Madinah, berguru langsung kepada para ulama besar, di antaranya Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi, Mufti Makkah saat itu. Delapan tahun ia habiskan di Timur Tengah sebelum kembali ke Tanah Air pada 1889.

Sekembalinya ke Nusantara, ia tidak berhenti belajar. Ia justru kembali menyambung sanad keilmuan kepada para ulama besar lokal:

Habib Husein bin Muchsin Alatas (Bogor),

Habib Usman bin Yahya (Mufti Batavia),

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas (Pekalongan),

Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar (Bondowoso),

Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad (Tegal),

dan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya).

Ini bukan jejaring simbolik—ini sanad ilmu yang dapat diverifikasi.

– Guru Para Tokoh Bangsa

Jika nasab Ba‘alawi sekadar “mitos sosial”, maka sejarah Indonesia telah melakukan kesalahan fatal dengan mempercayakan doa dan petuahnya kepada Habib Ali Kwitang.

Faktanya, Soekarno dan Mohammad Hatta menjadikan beliau sebagai penasihat spiritual menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Berdasarkan keterangan Habib Zein bin Umar Sumaith (Ketua Umum Rabithah Alawiyah), Soekarno secara khusus menemui Habib Ali Kwitang untuk meminta pertimbangan tentang waktu dan tanggal proklamasi.

Setelah bermunajat, Habib Ali Kwitang menyarankan 17 Agustus 1945, bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H.

Sejarah mencatat: saran itu diikuti.

Apakah ini kebetulan? Atau justru bukti bahwa bangsa ini—sejak awal—menghormati otoritas moral dan spiritual seorang Ulama dan para Habib?

Murid, Warisan, dan Jejak yang Tak Terhapus

Habib Ali Kwitang juga melahirkan murid-murid besar lintas generasi, di antaranya:

• Dr. KH. Idham Chalid,

• KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur),

• KH. Abdullah Syafi’i,

• Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf (Sayyidil Walid),

• Guru Tohir Rohili Kampung Melayu, dan lainnya.

Secara politik, beliau dikenal dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU). Ia tercatat hadir dalam Muktamar NU di Lapangan Ikada (Monas) dan didaulat memimpin doa—sebuah kehormatan yang tidak mungkin diberikan tanpa legitimasi keilmuan dan moral.

Warisan intelektualnya pun nyata. Kitab-kitab seperti:

• Al-Azhar al-Wardiyyah fi ash-Shurah an-Nabawiyyah,

• Ad-Durar fi ash-Shalawat ‘ala Khair al-Bariyyah,

masih dirujuk hingga kini oleh kalangan ulama tradisionalis.

Makamnya di Kwitang tak pernah sepi—terutama pada Maulid Nabi dan malam 25 Ramadhan—sebuah fenomena sosial-keagamaan yang sulit dijelaskan jika ia hanyalah “produk rekayasa nasab”.

– Penutup: Ketika Sejarah Menjawab Keraguan

Menulis ulang kisah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi hari ini bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini adalah ikhtiar sadar untuk melindungi nalar publik dari narasi pemutusan nasab yang dangkal, emosional, dan miskin metodologi.

Bagi mereka yang sejak awal sudah membenci Habaib, tulisan ini mungkin akan memancing nyinyiran cacain dan bully-an. Itu risiko yang saya disadari. Namun bagi mereka yang masih jernih—belum terpapar racun kebencian—kisah Habib Ali Kwitang cukup menjadi satu bukti bahwa nasab Ba‘alawi tidak berdiri di udara, melainkan berakar kuat dalam ilmu, akhlak, dan sejarah bangsa.

Dan barangkali, justru di situlah letak kegelisahan para pembegal nasab:

sejarah terlalu kokoh untuk mereka robohkan dengan teriakan.

_____________________

Oleh: Tamzilul Furqon S.Pd.