Dapat Hidayah, Antek Imad Berbalik Menjadi Pecinta Habaib
Senin, 12 Januari 2026
Faktakini.info
Copas
Pendukung Imad bin Sarman (PWI-LS) Berbalik Menjadi Pecinta Habaib, Dzurriyah Rasulullah SAW yang Shohih
Tulisan dari (mantan) pendukung Imad bin Sarman yang telah sadar.
Bertanya dengan nada tenang dan jujur pada diri sendiri:
Jika benar saya mengaku mencari kebenaran, mengapa saya justru menutup mata terhadap pengakuan nasab yang telah diakui selama ratusan tahun oleh para ulama, sejarawan, ahli nasab, dan Naqobah Asyraf di seluruh dunia?
Saya dulu berada di barisan pendukung KH. Imad bin Sarman. Saya mengikuti tulisan, video, dan tesis beliau yang menyatakan bahwa Ba‘alawi bukan keturunan Nabi Muhammad SAW. Awalnya saya merasa tesis itu berani, kritis, dan seolah ilmiah. Bahkan sempat muncul rasa curiga dan kebencian kepada para habaib.
Namun seiring waktu, saya mencoba benar-benar menggunakan akal dan hati.
Saya mulai membaca bantahan para ulama nasab lintas negara, membuka kitab-kitab tarikh dan ansab klasik, melihat bagaimana sanad nasab Ba‘alawi tersambung, dijaga, dicatat, dan diverifikasi dari generasi ke generasi. Saya juga menyadari satu hal penting: nasab Nabi bukan ditetapkan oleh satu orang, satu riset, atau satu tesis, tapi oleh ijma’ panjang para ulama lintas abad.
Saya juga memperhatikan satu hal lain yang dulu luput:
Narasi yang dibangun oleh KH. Imad dan pendukungnya justru lebih banyak melahirkan kebencian, cercaan, dan perpecahan. Yang diserang bukan sekadar klaim ilmiah, tapi kehormatan keluarga Rasulullah SAW.
Saya menunggu jawaban ilmiah yang benar-benar kuat dari pihak yang menolak nasab Ba‘alawi:
— Kitab mu‘tabar mana yang secara tegas menafikan?
— Ulama nasab mana yang diakui dunia?
— Naqobah Asyraf mana yang membenarkan penolakan itu?
Jawabannya tidak pernah tuntas.
Sebaliknya, saya justru melihat bagaimana sebagian pihak dengan mudah meremehkan para habaib, mencibir karomah ulama, bahkan merendahkan kecintaan umat kepada dzurriyah Rasulullah. Di titik ini hati saya mulai berontak.
Saya tersadar: kritik boleh, tapi merusak kehormatan Ahlul Bait adalah perkara besar.
Saya lalu mengingat kembali akhlak Rasulullah SAW, bagaimana beliau memuliakan keturunannya, bagaimana para sahabat menjaga Ahlul Bait, dan bagaimana umat Islam sepanjang sejarah menghormati dzurriyah Nabi—bukan karena kultus, tapi karena perintah agama.
Saya juga sadar, kesalahan oknum tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk menafikan nasab seluruh kaum. Jika ada habib yang keliru, itu adalah pribadi, bukan nasabnya. Sama seperti ulama, kiai, atau wali—tidak semuanya maksum.
Hari ini saya mengakui dengan jujur:
Saya keliru pernah berdiri di barisan yang meragukan dan melemahkan kehormatan habaib.
Kini saya kembali pada posisi yang lurus:
Mencintai habaib sebagai dzurriyah Rasulullah SAW yang sah, menghormati mereka tanpa berlebihan, menasihati dengan adab jika ada kekeliruan, dan menolak segala upaya adu domba umat.
Saya menulis ini dengan hati.
Karena kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak mungkin dipisahkan dari penghormatan kepada keluarganya.
Semoga Allah mengampuni kekeliruan saya yang lalu dan menetapkan kita di jalan adab, ilmu, dan persatuan. 🤲
