"Antara Habib Utsman bin Yahya dengan masyarakat Batavia. Sang Mufti sangat mengayomi masyarakat" (Sayyid Idrus Ali al Habsyi S.Fil.I)

 


Selasa, 6 Januari 2026

Faktakini.info

"Antara Habib Utsman bin Yahya dengan masyarakat Batavia. Sang Mufti sangat mengayomi masyarakat"

(Sayyid Idrus Ali al Habsyi S.Fil.I)

Salah satu karya Habib Utsman bin Yahya Mufti Betawi Kitab Zahrul Basim fi Athwari Abil Qasim (bunga yang wangi perihal aktivitas aktivitas Abu Qasim yaitu Nabi Muhammad SAW) kitab ini ditulis dlm bahasa Arab Melayu agar masyarakat mengerti kisah sejarah Rasul SAW dan peristiwa yang luar biasa yang dialami oleh Rasul SAW pada peristiwa Isra Mi'raj

Bisa dikatakan kitab ini semacam rawi atau kisah sejarah Nabi Muhammad SAW, dengan gaya penulisannya seperti pola kitab maulid lainnya yg berbahasa arab, seperti maulid Barzanji, Syaraful Anam, Ahzab. Di dalam kitab Zahrul Basim ini setiap fasal dipisah dengan lafadz "Allahumma Shalli 'ala sayyidina wa syafi'ina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallim waj'alna min khiyari ummatihi wa min ahli syafa'atihi bi rahmatika ya arhamar rahimina". 

Masyarakat Betawi ketika itu membaca Zahrul Basim ketika mengadakan acara rajaban isra mi'raj untuk memuliakan Rasulullah SAW. Dan ini terus menjadi tradisi masyarakat Betawi membuat acara ketika masuk bulan Rajab menggelar acara isra mi'raj. Dan yang menariknya tujuh tahun setelah wafatnya Habib Utsman bin Yahya pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan meliburkan instansi dan lembaga pendidikan dalam memperingati hari raya Isra mi'raj yang jatuh pada tanggal 27 Rajab

Habib Utsman bin Yahya sangat luar biasa, beliau mengunakan pengaruhnya agar meminta pada Pemerintah Hindia Belanda agar tidak ikut mencampuri urusan kehidupan beragama, termasuk tidak melarang masyarakat Islam untuk mengikuti pendidikan Islam yang dikembangkan di majelis majelis ta'lim di Batavia. Sehingga ketika itu majelis majelis ta'lim tumbuh subur menjamur pesat di Batavia. Hingga kini majelis majelis ta'lim tumbuh subur dan menjamur di Betawi. Maka dari itu sangat terkenal ungkapan pondok pesantrennya orang Betawi adalah majelis ta'lim

Begitu juga Habib Utsman meminta pada Pemerintah Hindia Belanda untuk tidak mencampuri urusan perkara agama termasuk dibidang pendidikan, yang dimana Batavia telah berdiri beberapa lembaga pendidikan Islam. Meskipun saat itu lembaga pendidikan Islam mendapat pengawasan ketat pemerintah Hindia Belanda. Bahkan Pemerintah Hindia Belanda memberi gaji kepada guru guru yang mengajar di lembaga pendidikan Islam di Batavia

Selain itu kontribusi Hb Utsman bin Yahya juga terlihat dalam karya tulisnya yang membahas keutamaan masjid, sehingga pemerintah Hindia Belanda mau membantu pembangunan masjid atau merenovasi masjid yang ada di Batavia. Masjid di Batavia tidak hanya dibuat sholat saja, tetapi digunakan juga untuk tempat pendidikan menuntut ilmu

Dan juga Hb Utsman bin Yahya mengunakan pengaruhnya untuk meminta kepada pemerintah Hindia Belanda agar melarang orang orang non muslim menyembelih babi di kali, karena pada saat itu air kali digunakan masyarakat untuk mandi , mencuci. Bahkan Hb Utsman dikisahkan didampingi putra beliau Hb Hasan bin Utsman datang ke Bogor kantor Hindia Belanda, lalu dengan tegas meminta pemerintah untuk menstop aktifitas non muslim dalam menyembelih babi di kali.

Begitu juga bagaimana Hb Utsman bin Yahya menjaga akidah ummat dari khurofat bid'ah yang menyesatkan yg disebarkan oleh orang orang yg tidak bertanggung jawab. Seperti masyarakat meyakini adanya hari yang membawa kesialan seperti jangan berlayar pada hari itu atau bukan itu, jangan menikah pada bulan itu dan hari itu atau jgn cukur rambut dan potong kuku pada hari itu dan bulan itu. Maka dari itu Hb Utsman bin Yahya memberikan arahan pada masyarakat sebagaimana yang beliau tuangkan dalam karyanya Manhajul Istiqomah. Kata Hb Utsman bin Yahya hari apa saja boleh, dalilnya dalam kitab Jam'ul Muhimmat, berkata Imam Malik tiada aku benci yaitu tiada larangan dalam syariat atas suatu daripada yg demikian itu didalam berobat atau bercukur atau nikah atau berlayar dan semua ini boleh dilakukan pada hari apa saja. Tetapi ada juga hari hari yg Sunnah pada syariat atau yg terbaik daripada anjuran ulama seperti potong kuku atau berlayar, maka dianjurkan pada hari Senin atau kamis, begitu juga ingin menanam pohon atau bangun rumah dianjurkan pada hari Ahad, begitu juga ingin nikah dianjurkan bulan Syawal

Begitu juga kepercayaan masyarakat ketika itu bahwa kalau istri sedang hamil jangan ia potong binatang dengan alasan utk mempermudah persalinan. Maka Hb Utsman bin Yahya mengganti ajaran tersebut utk baca doa doa agar terhindar dari bala musibah dan doa agar dimudahkan dlm persalinan dgn membacakan doa di air dan diminum. Begitu juga kalau ingin memotong binatang baca bismillah sebelum memotongnya. Maka dari itu Hb Utsman menyusun kitab tentang dzikir doa doa yg bernama Maslakul Akhyar

Begitu dulu berkembang kalau anaknya ingin perangainya baik maka harus buat rujak dan sesajen utk roh roh leluhur. Maka tradisi ini diganti sama Hb Utsman , beliau mengatakan kalau perangai anak kita Ingi baik maka bagi yg luas rezekinya dianjurkan utk aqiqah dan daging paha kanan diberikan pada orang yg membantu persalinan kita. Dan juga dimasyarakat ketika itu kalau terjadi gerhana, maka perempuan yg sedang hamil harus masuk ke kolong bale dgn tujuan agar tidak diterkam oleh raksasa dan badanya akan menjadi belang warna merah. Maka Hb Utsman bin Yahya mengajarkan kalau terjadi gerhana perbanyak istigfar dan Sunnah sembahyang gerhana dua rakaat

Begitu juga dimasyarakat ketika itu orang dalam mencari jodoh banyak percaya dgn tukang ramal. Maka Hb Utsman menganjurkan ke masyarakat kalau ingin menentukan jodoh dianjurkan sholat istikhoroh. Dan masih banyak lagi tradisi tradisi masyarakat ketika itu yg diluruskan oleh Hb Utsman bin Yahya

Dan juga disebutkan dlm kitab Qomaru Zaman. Pada tahun 1866 ada orang yg mengaku dari Mekkah mengaku bangsa Shaybi, dia mengaku memegang kunci Ka'bah dan meminta uang pada masyarakat utk membantu renovasi Ka'bah. Melihat hal ini Hb Utsman bin Yahya sangat marah dan meminta pada Pemerintah Hindia Belanda utk menindak orang tersebut