Gara-gara Babi, Pesantren Hamalatul Qur'an Diobok-obok Polisi
Senin, 2 November 2026
Faktakini.info
Gara-gara Babi, Pesantren Hamalatul Qur'an Diobok-obok Polisi
Banyak sekali permintaan agar saya mengungkap aksi polisi mengobok-obok Ponpes Hamalatul Qur’an di Sukoharjo. Kebetulan baru pulang habis dari misi literasi di Sanggau, ada waktu untuk mencari apa masalah sebenarnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ada babi masuk kandang, ada babi masuk panci, ada pula babi nasibnya luar biasa. Gara-gara seekor babi, sebuah warung dibakar, polisi bergerak, pesantren digerebek, santriwati ketakutan, senjata ditemukan, Komnas HAM turun tangan, dan pasukan jempol mendadak bermunculan di media sosial. Ini bukan cerita Silpester. Ini Sukoharjo, Indonesia!
Ceritanya bermula dari Warung Mi Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Grogol, Sukoharjo. Pada 12 September 2026, warung tersebut dibakar dan dirusak. Polisi kemudian menangkap tersangka berinisial ST pada 19 Oktober. Ia disebut mantan narapidana terorisme. Polisi lalu memburu seorang berinisial I masuk daftar pencarian orang (DPO).
Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 03.20 WIB, polisi bersenjata lengkap mendatangi dua lokasi pesantren, di Desa Laban, Mojolaban, Sukoharjo, dan Desa Trengguli, Jenawi, Karanganyar. Dugaan polisi, salah satu lokasi berkaitan dengan persembunyian buronan. Surat penggeledahan diklaim sudah dikantongi. Tetapi buronan dicari tidak ditemukan. Wah, sudah seperti mencari tuyul, rumah orang dibongkar, tuyulnya malah pindah server.
Di Hamalatul Qur'an, menurut pengurus, ada 12 santriwati berusia 10–16 tahun dan empat ustazah. Mereka mengaku sedang tidur ketika pintu didobrak. Ada ditarik keluar tanpa sempat mengenakan jilbab, dibentak, bahkan merasa ditodong senjata. Anak-anak mestinya bermimpi menjadi penghafal Al-Qur'an mendadak mendapat pengalaman seperti sedang syuting film perang.
Polisi mengaku menemukan pedang, samurai, parang, celurit, sangkur, busur, anak panah, drone, cairan asam kuat, spiritus, dan peralatan komunikasi. Lengkap sekali. Tinggal ditemukan pesawat tempur, mungkin langsung ditetapkan sebagai pangkalan militer.
Tetapi tunggu dulu. Busur panah bisa untuk olahraga. Pisau dan parang bisa untuk memasak, berkebun, serta membersihkan lingkungan. Barang-barang itu harus diperiksa fungsi, kepemilikan, dan kaitannya dengan tindak pidana. Jangan sampai orang punya pisau dapur langsung dicurigai sedang merancang kudeta terhadap tukang sayur.
Pengurus juga mempersoalkan penyitaan HP, uang tabungan santri sekitar Rp16 juta, emas Antam, kendaraan, dan inventaris yang ditaksir mencapai Rp50 juta. Polisi menyatakan barang-barang tersebut didalami. Sejumlah barang kemudian dikembalikan.
Belum selesai urusan senjata, muncul persoalan izin. Kemenag menyatakan lokasi tersebut belum terdaftar dan belum memiliki izin operasional pesantren. Nah, kalau pesantren tak berizin otomatis dianggap mencurigakan, bagaimana dengan ribuan lembaga pendidikan agama yang masih menghadapi persoalan administrasi? Negara jangan hanya muncul ketika sirene berbunyi. Pembinaan juga perlu, bukan cuma penggerebekan.
Lebih menarik lagi, media sosial mendadak seperti markas komando. Banyak akun begitu bersemangat membela polisi. Narasinya hampir seragam. Tidak berizin, banyak senjata, berarti polisi pasti benar. Apakah buzzer bayaran? Belum ada bukti pembayaran atau koordinasi. Namun, pola akun, kesamaan komentar, dan waktu unggahan layak ditelusuri. Jangan sampai jempol dibayar, sementara otak disuruh ngopi, eh salah, cuti.
Pada 1 November, Komnas HAM meminta pemeriksaan independen. Polri menyatakan akan mendalami keluhan masyarakat. Propam juga mulai mengusut dugaan pelanggaran prosedur.
Begini saja. Kalau ada penjahat, tangkap! Kalau ada buronan, kejar! Kalau ada senjata mencurigakan, periksa! Tetapi jangan sampai memburu satu orang, malah membuat belasan anak ketakutan.
Dari warung mi babi, ceritanya berkembang menjadi drama nasional. Polisi mencari buronan, pesantren mencari keadilan, Komnas HAM mencari penjelasan, sementara netizen mencari siapa harus dibela.
Kasihan babinya. Dia cuma jadi menu mi, tetapi seluruh negeri ikut masuk penggorengan. Dasar babi, lho! Ups.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
