LEDAKAN PENGUNJUNG MASJID APUNG ANCOL
Ahad, 25 Oktober 2026
Faktakini.info
LEDAKAN PENGUNJUNG MASJID APUNG ANCOL
Geisz Khalifa.
Pada 2019, saya pernah bertaruh pada sebuah gagasan: Masjid Apung Ancol bukan hanya akan menjadi tempat orang bersujud, tetapi juga menjadi daya tarik yang mampu mendatangkan pengunjung dan menghasilkan keuntungan bagi Ancol.
Hari ini, kabar yang saya terima membuat saya terdiam sejenak. Salat Magrib di sana dikabarkan selalu melampaui daya tampung masjid, hingga jemaah memenuhi bagian luarnya.
Dulu, ketika pertama kali menyampaikan ide pembangunan Masjid Apung Ancol, kepada Pak Daniel Nainggolan saya katakan: anggarkan dana Rp50 miliar untuk pembangunan Masjid Apung, dan saya yakin dalam empat tahun uang itu akan kembali. Break-even point (BEP).
Saya memberikan rincian tentang 25 juta penduduk di Jabodetabek. Saya menyampaikan perhitungan yang menurut saya realistis: mendapatkan tambahan pengunjung sebesar 5% saja dari penduduk Jabodetabek, dengan menyasar majelis-majelis taklim di seluruh Jabodetabek. Dengan perhitungan itu, saya berani memberikan garansi kepada direksi keuangan bahwa dana tersebut akan kembali, sekaligus menghasilkan laba.
Tetapi, membangun sebuah gagasan tidak semudah membicarakan hitung-hitungan di atas kertas.
Perjalanan pembangunan masjid ini penuh drama. Ada saat-saat ketika saya marah, frustrasi, dan merasa begitu banyak halangan yang harus dihadapi. pandemi COVID-19 datang, meluluhlantakkan banyak hal dan mengubah keadaan secara drastis.
Namun, menyerah bukan pilihan. Di tengah berbagai kesulitan, gagasan ini harus terus diperjuangkan. Sebab, bagi saya, Masjid Apung bukan sekadar bangunan yang harus berdiri, melainkan sebuah keyakinan yang harus diwujudkan.
Hari ini, saya mendapat informasi dari teman-teman di Ancol. Sejak diresmikan hingga hari ini, salat Magrib di Masjid Apung itu dikabarkan selalu melampaui daya tampung. Bahkan, jemaah sampai memenuhi bagian luar masjid.
Saya tentu saja gembira. Sebab, apa yang saya sampaikan pada awal 2019 itu kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebenarannya.
Tentu saja, saya berharap ini tidak menjadi euforia sesaat, lalu kemudian tenggelam.
Semoga manajemen Ancol mampu menjaga daya tarik masjid ini. Bukan hanya mengandalkan keunikan bangunannya, tetapi juga mengisinya dengan berbagai program yang terjadwal setiap bulan. Program-program yang menarik minat banyak orang untuk datang, beribadah, dan kembali lagi.
Alhamdulillah. Saya tidak tahu akan dikenang sebagai apa gagasan ini kelak. Saya hanya tahu, dulu saya pernah memperjuangkannya dengan keyakinan. Dan hari ini, ketika melihat orang-orang memenuhi masjid itu untuk bersujud, rasanya tak ada lagi yang perlu saya katakan.
Ada rasa syukur yang cukup disimpan dalam hati, dan air mata yang mungkin tak perlu dijelaskan.
