"π’πžπ£πšπ€ 𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 π†πžπ₯𝐚𝐫 ‘π‡πšπ›π’π›’ π€ππš?"

 


Jum'at, 23 Oktober 2026

Faktakini.info

Iwan Mahmoed Al Fattah III

"π’πžπ£πšπ€ 𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 π†πžπ₯𝐚𝐫 ‘π‡πšπ›π’π›’ π€ππš?"

Salah satu isu nasab yang sampai saat hari terus hangat dibahas adalah tentang penyematan gelar “HABIB” yang digunakan oleh Bani Alawi sebagai sebuah identitas penegas bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad SAW. 

Bagi para penentang nasab Bani Alawi, gelar Habib justru menandakan jika Qabilah yang satu ini bukanlah Keturunan Nabi Muhammad SAW baik itu dari Al-Hasani maupun Al-Husaini, karena bagi golongan mereka gelar yang sah dan otentik adalah “SYARIF” dan “SAYYID”, selain itu bukan. Sehingga tidak mengherankan jika para pembatal nasab Baalawi, khususnya mereka yang katanya keturunan Walisongo dengan percaya dirinya menggunakan gelar Syarif untuk Al-Hasani dan Sayyid dan Al-Husaini, jadi kalau suatu waktu ada orang yang menyematkan gelar Syarif di depan namanya berarti itu dia keturunan Sayyidina Hasan, apalagi pakai nama gelar dibelakangnya “Al-Qadiri Al-Jilani” maka dia itu keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, sebaliknya jika di depan nama ada gelar Sayyid berarti itu keturunan Sayyidina Husain, apalagi ditambah Al-Kadzimi, berarti dia keturunan Imam Musa Al-Kadzim. Sedangkan Bani Alawi, jelas bukan karena mereka bukan Syarif dan Sayyid, itu kata para pembatal nasab Bani Alawi. Bagi mereka yang masih percaya jika Bani Alawi adalah keturunan Nabi Muhammad SAW oleh mereka para pembatal nasab, sebutan yang paling pantas adalah “KABIB”, “BIBIB”, “TABIB”, lebih brutal lagi sering disebut “DOBOLOWI”. Sebuah stigma yang menandakan jika mereka tidak faham sejarah asal-usul munculnya nama habib.

Sejatinya gelar Syarif dan Sayyid sebenarnya di beberapa negara tidak baku hanya digunakan seperti penjelasan diatas karena beberapa negara punya latar belakang sejarah yang berbeda. Ada yang menggunakan gelar Syarif tapi ternyata keturunan Al-Husaini, ada yang menggunakan gelar Sayyid ternyata Al-Hasani. Bila melihat sejarah Syarif Makkah dan Syarif Madinah, memang mereka dominan menggunakan gelar Syarif karena mereka keturunan Al-Hasani tapi kalau kita mau pelajari diaspora keluarga Syarif Mekkah dan Madinah banyak juga yang menggunakan gelar Sayyid. Di Indonesia bahkan, Kesultanan Pontianak dan Siak Indrapura yang jelas-jelas berasal dari Bani Alawi, sultannya menggunakan gelar Syarif. Contoh paling mudah dilihat, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, itu jelas-jelas keturunan Sayyidina Hasan, tapi penulisan namanya lebih banyak menggunakan nama SAYYID, demikian keturunan Nabi yang ada di Mesir dan Palestina itu banyak juga yang menggunakan gelar Sayyid padahal mereka adalah keturunan Sayyidina Hasan. Jadi penggunaan gelar Sayyid dan Syarif tergantung konteks masing-masing negara yang banyak terdapat Dzurriyah Nabi Muhammad SAW.

Jika dilacak akar sejarahnya, khususnya di Jakarta, sebenarnya gelar Habib ini baru populer di masa tahun 50 dan 60an. Sedangkan jika dilihat pada arsip-arsip kolonial awal abad ke 20 dan 21 penyebutan untuk gelar tokoh-tokoh Bani Alawi justru tertulis adalah “Toean Sajid”, “Toean Said”, Catatan Christian Snouck Hurgronje bahkan sering menulis nama Habib Usman dengan tulisan Sayid Usman bin Yahya. Para pemuka ulama terdahulu yang berasal dari Nusantara, bahkan menulis nama-nama guru mereka yang berasal dari Bani Alawi dengan gelar Sayyid. Untuk mempelajari mereka bahkan seorang Van Der Berg sampai melakukan riset mengenai siapa itu Bani Alawi, dan di dalam bukunya Berg, jelas-jelas Bani Alawi disebut Sajid/Sayyid.

 Kenapa saya mengambil Jakarta dan disekitarnya sebagai sampel ? karena Jakarta atau Batavia pada masa itu banyak terdapat pemuka kaum dari Bani Alawi yang pengaruhnya cukup besar di kalangan Bani Alawi dan masyarakat Indonesia, sebut saja nama Habib Usman bin Yahya, Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, Habib Salim Jindan, Habib Muhammad bin Muhsin Al-Attas Condet, dan masih banyak lagi yang lainnya, termasuk Habib Husein Luar Batang, yang kesemuanya dulu selalu ditulis dengan gelar “TOEAN SAJID”.

Bila demikian kapan sebenarnya panggilan HABIB Ini mulai tenar dan kemudian menyebar cepat pada kalangan Alawiyin maupun masyarakat umum ?

Sejatinya gelar habib ini sebenarnya sudah lama ada, terutama dalam sejarah Bani Alawi yang ada di Hadramaut, namun seperti yang saya tuliskan diatas, nampaknya nama ini di Jakarta mulai tenar di masa-masa tahun 50 dan 60an. Hal ini merupakan sebuah hal yang wajar, karena puncak kedatangan Bani Alawi di Nusantara terjadi pada masa abad 19 dan 20 setelah dibukanya terusan Suez, sebelumnya kedatangan Bani Alawiyin tidaklah tidak sebanyak abad 19 dan 20 ini, Bani Alawiyin yang terbanyak yang datang pada abad 18 dan 19 justru terdapat di Palembang dan Pontianak, di Palembang bahkan disebut Hadramaut Tsani karena begitu banyaknya Bani Alawi, hal ini dikarenakan pada masa lalu Para Sultan Palembang Darussalam menerima kedatangan Bani Alawi dengan tangan terbuka bahkan mereka diberikan tempat khusus dan ada juga beberapa mereka dijadikan mantu Sultan. Selain itu kedatangan Bani Alawi berlangsung cepat itu kisaran tahun 1850 s/d 1890, setelah itu tahun 1910- 1920 kedatangan Bani Alawi jauh lebih banyak, tidak hanya di Indonesia, juga di Malaysia, Singapura. Jadi kalau saat itu gelar Habib belum setenar di tahun 1950an dan seterusnya, itu hal yang wajar. 

 Salah satu kakek saya juga yang pernah menjadi pengajar dan Imam Masjid di Jami Matraman Dalam Jakarta Pusat di tahun 50an yaitu KH Ibrahim Husni Al-Fattah, berdasarkan informasi dari ibu saya sering menyebut nama Qabilah Bani Alawi di era tahun-tahun tersebut dengan panggilan Habib. Pada era itu sampai tahun 60an dan 70an gelar Habib akhirnya menjadi sebuah identitas kuat dari Bani Alawi, walaupun tidak sedikit yang masih menggunakan gelar Sayyid, seperti Sayyid Dhiya Shihab penulis sejarah Islam Indonesia dan tokoh-tokoh Alawiyyin lainnya.

Gelar Habib juga bukan gelar yang mudah diobral, gelar ini mempunyai konskwensi moral yang cukup berat, karena sebutan habib pada masa identik dengan seorang yang sepuh, alim dan teladan umat, sehingga tidak semua keturunan Bani Alawi bisa dipanggil dengan sebutan ini. Panggilan Habib hanya diperuntukkan orang-orang seperti Habib Ali Kwitang, Habib Soleh Tanggul, Habib Abubakar Gresik, Habib Salim Jindan Otista, Habib Ali Bungur Jakarta, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas Bogor, Habib Alwi bin Al Al-Habsyi Solo, Habib Muhammad Al-Habsyi Kwitang, Habib Umar Al-Attas Cipayung, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri, Habib Abdul Qadir Bilfaqih Malang, Habib Idrus Al-Jufri Guru Tua Palu, dll. Sedangkan mereka yang masih muda atau belum berilmu di Jakarta dan berapa daerah lain sering dipanggil dengan sebutan WAN, YIK/YEK, AYIP, dll. 

Istilah Habib sendiri, dalam bahasa Arabnya menurut Ibnul Manzur dalam "Lisaanul Arab" merupakan kata “hababa” dan “hubb” memang memiliki konotasi “perlawanan/penolakan atas kekerasan atau kebencian” (naqiidl al-bughdl). Maka, ketika seseorang disebut “Habib” semestinya sosok yang paling dikasihi atau selalu bersikap kasih sayang sebagaimana makna “hubb” yang melekat di dalamnya. Sebutan lain untuk orang yang dicintai adalah “muhib” dan orang yang senantiasa menyayangi disebut “mahbub”. 

 Kata “habib”, atau “habaib” dalam bentuk jamaknya berarti kekasih atau yang dikasihi. Kata ini bagi masyarakat Hadhramaut dan para keturunan Hadhramaut yang tersebar di berbagai belahan dunia menjadi sebuah panggilan untuk para Sayid Ba Alawi . Yang pertama kali menyandang sebutan ini adalah Habib Umar bin Abdurahman Alatas, Sohibur Ratib Alatas (992-1072 H/1572-1652 M). Sebelum beliau, keturunan Sayid Alwi bin Ubaidillah tidak dipanggil habib tetapi dipanggil dengan kata sayid, atau imam atau syekh, misalnya Imam Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir (273-345 H/873-956 M), Imam Sayid Muhammad bin Ali Al-Faqih Al-Muqaddam (574-653 H/1178- 1232 M), Syekh Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mawladawilah (739-819), dan lainnya yang hidup sebelum Habib Umar bin Abdurahman Alatas.

 Berdasarkan pemaparan diatas mengenai gelar Habib dapat dijelaskan bahwa keturunan Arab Hadrami merupakan keturunan Rasulullah SAW, yang berasal dari daerah Hadramaut di Yaman, yang tersebar luas diantara daerah yang terdapat banyak keturunan Arab Hadrami seperti Jakarta, Palembang, Banjarmasin, Surabaya, Lombok, Jambi dan masih banyak ditemukan di berbagai provinsi di Indonesia.

 Berdasarkan pembahasan pada sebuah penelitian dapat dilihat adanya persepsi masyarakat terhadap makna bahwa gelar habib sebagai ulama. Pada mulanya, menurut keterangan Habib Zain bin Smith, panggilan dan gelar habib ini diberikan kepada para Sayid Ba Alawi yang alim dan memiliki dedikasi sosial yang tinggi. Sementara mereka yang tidak demikian biasa dipanggil dengan sayid, atau di daerah dipanggil iyek, ayip atau wan. Boleh jadi, panggilan ini untuk Habib Umar bin Abdurahman Alatas sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada beliau karena integritas diri beliau dalam keilmuan dan amalnya. Kemudian panggilan ini juga diberikan kepada para Sayid Ba Alawi yang mempunyai kapasitas yang sama dengan beliau oleh orang-orang di sekitarnya, seperti Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dan lainnya, sehingga tidak setiap sayid Ba Alawi dipanggil habib. 

Dewasa ini di Tanah Air, khususnya Jakarta dan sekitarnya, panggilan habib diberikan kepada semua Sayid Ba Alawi, bahkan kepada mereka yang bukan ulama. Kata habib juga di sebagian keluarga Ba Alawi, digunakan untuk menyebut kakek, sedangkan untuk nenek disebut hubabah atau hababah.

 Pada perkembangannya sekarang ini, yang sering kami temui di lapangan gelar habib juga sering digunakan atau disematkan pada keturunan Sayyid atau Syarif yang bukan dari Hadramaut. Pada masa lalu yang kami ketahui bahwa ketika seorang sudah dipanggil dengan gelar Habib (jamaknya Habaib) biasanya sosok yang berilmu dan sepuh serta merupakan panutan ummat seperti tokoh-tokoh sepuh Alawyyin Hadrami diatas. 

 Pada era kekinian (2026), panggilan Habib menjadi lebih populer di masyarakat baik itu di dunia nyata maupun dunia maya, hal ini karena adanya berbagai peristiwa dan kejadian sosial yang menyangkut diri mereka. Persepsi yang muncul habib dianggap bukan hanya kalangan Hadrami tapi siapapun yang punya garis nasab kepada Rasulullah SAW mereka itu disebut habib. Di sisi lain gelar habib juga mendapat penolakan khususnya pada golongan pembatal nasab Bani Alawi. Sehingga tidak usah heran bila di akun-akun mereka sering terdapat tulisan “HABIB BUKAN KETURUNAN NABI, YANG KETURUNAN NABI ADALAH SAYYID DAN SYARIF.

Sejatinya Keturunan Nabi Muhammad SAW tidak hanya melalui penyebutan gelar saja, tapi itu dibuktikan dengan adanya keterangan lengkap dari catatan atau dokumen yang ada serta diperkuat kesaksian oleh para naqib, munsib maupun sesepuh keluarga yang selama ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan nasab dari satu generasi sampai ke generasi sekarang dan tentunya yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW. 

Kesimpulannya gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW itu banyak tidak hanya didominasi oleh gelar Sayyid, Syarif, Habib, tergantung pada konteks sejarah dan dimana mereka berdiaspora...

Sumber :

Buku yang berjudul “Duzrriyyah Nabi Muhammad SAW Di 63 Negara” (Descendents Of The Prophet Muhammad SAW In 63 Countries), Oleh Iwan Mahmud Al-Fattah, Jogyakarta: Penerbit Lintas Nalar, Tahun 2026.