FAM Minta Maaf atas Skandal Dokumen Tujuh Pemain Warisan, Janji Benahi Tata Kelola
Ahad, 4 Oktober 2026
Faktakini.info, Jakarta - Persatuan Bolasepak Malaysia (FAM) secara resmi menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada publik dan seluruh suporter Harimau Malaya atas skandal pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain warisan atau pemain keturunan.
Permohonan maaf tersebut disampaikan Presiden FAM yang baru, Datuk Ab Ghani Hassan, atas nama seluruh jajaran kepengurusan dan Komite Eksekutif FAM yang saat ini memimpin federasi sepak bola Malaysia.
Ab Ghani mengatakan, persoalan pemalsuan dokumen yang terjadi pada periode sebelumnya telah memberikan dampak serius terhadap citra sepak bola Malaysia. Karena itu, kepengurusan baru FAM menyatakan komitmen untuk melakukan pembenahan menyeluruh agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Saya mewakili seluruh Jawatankuasa Eksekutif FAM yang ada pada hari ini memohon maaf kepada seluruh penyokong bola sepak Malaysia atas isu pemalsuan dokumen tujuh pemain warisan yang berlaku tahun lalu,” kata Ab Ghani dalam konferensi pers di Wisma FAM.
Ia menegaskan, selama masa kepemimpinannya, FAM akan memperketat seluruh prosedur yang berkaitan dengan dokumentasi pemain, proses verifikasi kelayakan, serta pemanggilan pemain untuk memperkuat tim nasional.
Menurutnya, setiap dokumen harus diperiksa secara lebih teliti dan seluruh proses wajib mengikuti ketentuan yang berlaku, baik aturan nasional maupun regulasi FIFA.
Tujuh Pemain Tetap Tidak Bisa Bela Malaysia
Skandal tersebut melibatkan tujuh pemain yang sebelumnya diproyeksikan memperkuat Harimau Malaya, yakni Gabriel Palmero, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, João Figueiredo, Jon Irazábal, dan Hector Hevel.
FIFA sebelumnya menjatuhkan sanksi kepada FAM dan ketujuh pemain tersebut setelah menemukan pelanggaran terkait pemalsuan atau manipulasi dokumen yang digunakan untuk mengurus kelayakan pemain.
Dalam keputusan FIFA, FAM dikenai denda sebesar CHF350.000, sementara masing-masing pemain dikenai denda CHF2.000 serta larangan beraktivitas dalam sepak bola selama 12 bulan. FIFA kemudian mengonfirmasi sanksi tersebut setelah proses banding.
FAM kini juga menegaskan bahwa ketujuh pemain tersebut tidak dapat kembali memperkuat tim nasional Malaysia, meskipun masa hukuman 12 bulan telah berakhir.
Presiden FAM menyatakan larangan untuk tampil bersama tim nasional tetap mengacu pada keputusan FIFA.
FAM Akan Temui Menteri Dalam Negeri
Selain persoalan sanksi sepak bola, FAM juga berencana melakukan pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri Malaysia, Datuk Seri Saifuddin Nasution Ismail.
Pertemuan tersebut akan membahas status kewarganegaraan dan paspor ketujuh pemain yang menjadi bagian dari kontroversi.
Ab Ghani menjelaskan, persoalan kewarganegaraan dan penerbitan paspor bukan merupakan kewenangan FAM. Karena itu, federasi membutuhkan penjelasan langsung dari Kementerian Dalam Negeri (KDN).
“Perkara berkaitan kewarganegaraan dan pengeluaran pasport adalah di luar bidang kuasa FAM. Jadi, kami akan mendapatkan penjelasan dan bekerja sama erat dengan KDN bagi mencari jalan penyelesaian yang terbaik,” ujar Ab Ghani.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperjelas status administratif para pemain sekaligus memastikan tidak ada lagi persoalan serupa di kemudian hari.
Kepengurusan Baru Janji Tidak Terulang
Kepengurusan baru FAM menyatakan kasus tujuh pemain tersebut menjadi pelajaran penting bagi sepak bola Malaysia.
Ab Ghani berkomitmen memperbaiki sistem administrasi, verifikasi dokumen, prosedur kepatuhan, serta mekanisme pemeriksaan pemain sebelum mereka dinyatakan memenuhi syarat untuk memperkuat tim nasional.
FAM juga perlu memastikan setiap proses dilakukan secara transparan dan sesuai regulasi sehingga persoalan administratif tidak kembali berkembang menjadi skandal yang merugikan reputasi negara.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi sorotan besar setelah FIFA menyatakan bahwa dokumen yang digunakan dalam proses pengajuan kelayakan tujuh pemain telah dipalsukan atau dimanipulasi. Ketujuh pemain tersebut kemudian tampil untuk Malaysia dalam pertandingan melawan Vietnam pada 10 Juni 2025.
Dengan kepemimpinan baru, FAM kini menghadapi pekerjaan besar untuk memulihkan kepercayaan publik dan suporter Harimau Malaya sekaligus membangun kembali tata kelola sepak bola nasional yang lebih ketat, profesional, dan sesuai standar internasional.
