[Video] Ribuan Umat Antarkan KH Ahmad Fudholi ke Peristirahatan Terakhir, Bukti Sang Kiai Dicintai Masyarakat

 


Selasa, 8 September 2026

Faktakini.info, Jakarta - Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Dunia dakwah Banten kembali berduka. Ulama kharismatik dan penceramah kondang asal Kabupaten Tangerang, KH Ahmad Fudholi, wafat pada Senin (7/9/2026).

Namun, kepergian almarhum tidak hanya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan para santri. Lautan manusia yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir menunjukkan betapa besar kecintaan masyarakat kepada sosok ulama yang selama hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah dan pembinaan umat.

Ribuan jamaah memadati kompleks Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah, Desa Sindang Sono, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, tempat almarhum selama ini berdakwah dan membina para santri.

Bahkan, prosesi salat jenazah harus dilakukan secara bergelombang karena begitu banyaknya masyarakat yang ingin ikut menyalatkan almarhum. Laporan di lapangan menyebutkan salat jenazah dilaksanakan hingga lima gelombang.

Tidak berhenti sampai di sana. Setelah prosesi salat jenazah, ribuan jemaah kembali mengiringi jenazah KH Ahmad Fudholi menuju tempat peristirahatan terakhirnya di area kompleks Ponpes Al-Hijaiyyah.

Sekitar pukul 16.20 WIB, jenazah diberangkatkan dari lokasi salat jenazah menuju liang lahat. Suasana haru menyelimuti kawasan pesantren. Isak tangis, doa, lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dan kalimat tauhid mengiringi perjalanan terakhir sang ulama.

Sejumlah tokoh dan pejabat daerah juga hadir langsung, di antaranya Gubernur Banten Andra Soni, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid, serta mantan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar. Mereka berbaur bersama ulama, habaib, ribuan masyarakat dan para santri untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Wafat Setelah Kecelakaan

KH Ahmad Fudholi sebelumnya mengalami kecelakaan lalu lintas di ruas Tol Tangerang-Merak KM 63+800 B, wilayah Kabupaten Serang, pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.

Saat itu, almarhum dalam perjalanan menuju Tangerang setelah mengisi kegiatan keagamaan di kawasan Cikaduen, Kabupaten Pandeglang. Kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan setelah diduga kehilangan kendali dan menabrak bagian belakang truk yang berada di bahu jalan.

Almarhum sempat mendapatkan perawatan di RS Hermina Ciruas sebelum kemudian dirujuk ke RSUD Kabupaten Tangerang.

Setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari, KH Ahmad Fudholi akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 11.57 WIB.

Kabar wafatnya segera menyebar luas dan mengundang duka dari berbagai kalangan.

Ulama yang Diterima Semua Kalangan

Semasa hidupnya, KH Ahmad Fudholi dikenal sebagai ulama dan dai yang aktif mengisi majelis taklim, tabligh akbar dan berbagai kegiatan keislaman di Banten.

Almarhum juga merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah serta dikenal sebagai menantu dari almarhum Abah H. Yasin, salah seorang ulama yang dikenal luas di kawasan Cilongok, Kabupaten Tangerang.

Kiprah dakwahnya membuat KH Ahmad Fudholi memiliki jemaah dari berbagai lapisan masyarakat.

Hal tersebut bahkan ditegaskan oleh Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid. Menurutnya, almarhum merupakan sosok yang mampu diterima berbagai kalangan, mulai dari ulama, tokoh masyarakat, pemerintah hingga masyarakat tingkat desa.

"Beliau betul-betul bisa masuk ke semua lini. Baik para tokoh, para ulama, pemerintah, sampai masyarakat di tingkat desa dan RT. Beliau adalah sosok yang membimbing umat dan menjadi teladan bagi kita semua," ujar Maesyal.

Gubernur Banten Andra Soni juga menyampaikan duka mendalam. Ia menyebut KH Ahmad Fudholi sebagai guru dan kiai kharismatik serta mengajak masyarakat untuk meneladani berbagai kebaikan yang diwariskan almarhum.

"Turut berduka cita atas berpulangnya guru kita, kiai kharismatik. Semoga almarhum husnul khotimah. Tentu kita semua kehilangan," ujar Andra Soni.

Ribuan Orang Menjadi Saksi Penghormatan Terakhir

Pemandangan ribuan masyarakat yang hadir menyalatkan dan mengantarkan jenazah KH Ahmad Fudholi menjadi salah satu gambaran kuat tentang besarnya penghormatan umat kepada almarhum.

Bukan hanya datang untuk melayat, masyarakat rela berdesak-desakan dan mengikuti salat jenazah secara bergelombang, bahkan tetap bertahan hingga proses pemakaman selesai.

Laporan media di lokasi menyebutkan ribuan jemaah memenuhi kawasan Ponpes Al-Hijaiyyah. Mereka datang bukan hanya dari sekitar Tangerang, tetapi juga dari sejumlah daerah lain seperti Depok, Bogor dan Pandeglang.

Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa dakwah yang dilakukan dengan ketulusan dan kedekatan kepada masyarakat meninggalkan tempat yang dalam di hati umat.

Seorang ulama boleh saja pergi menghadap Allah SWT, tetapi ilmu, dakwah, akhlak dan kebaikannya akan terus hidup melalui orang-orang yang pernah belajar, mendengar nasihat dan mengikuti perjuangannya.

Ribuan umat yang hadir untuk menyalatkan serta mengantarkan KH Ahmad Fudholi ke liang lahat menjadi kesaksian nyata tentang cinta dan penghormatan masyarakat kepada seorang ulama.

Dalam perspektif Islam, banyaknya orang saleh yang memberikan kesaksian dan mendoakan seorang Muslim yang wafat merupakan sesuatu yang menggembirakan. Kita tentu tidak boleh memastikan kedudukan seseorang di sisi Allah SWT karena itu merupakan hak prerogatif Allah.

Namun, semoga lautan manusia yang hadir, doa yang dipanjatkan, salat jenazah yang dilakukan berulang-ulang, serta kesaksian kebaikan dari masyarakat menjadi tanda-tanda husnul khatimah dan kemuliaan almarhum di sisi Allah SWT.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan KH Ahmad Fudholi, menerima seluruh amal ibadah dan perjuangan dakwahnya, melapangkan kuburnya, menerangi alam barzakhnya, serta menempatkan beliau bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.

Selamat jalan, KH Ahmad Fudholi.

Dakwahmu telah menjadi bagian dari kehidupan umat. Dan lautan manusia yang mengantarkanmu ke peristirahatan terakhir menjadi saksi betapa banyak hati yang mencintaimu karena Allah SWT.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Klik video: