Sopir Dibunuh OPM di Jalur Wamena-Nduga, Kekerasan terhadap Warga Sipil Harus Dikecam Keras
WAMENA, FAKTAKINI.INFO — Kekerasan bersenjata kembali menelan korban jiwa di Papua Pegunungan. Seorang sopir dilaporkan tewas ditembak KKB (OPM) di jalur Trans Wamena-Nduga, Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 09.25 WIT.
Korban diketahui bernama Aris Sanda, seorang sopir lajuran asal Toraja. Berdasarkan sejumlah laporan media lokal, korban sedang membawa penumpang dari Wamena menuju kawasan Mbua ketika kendaraan yang dikemudikannya dihentikan kelompok bersenjata di sekitar kawasan tanjakan Gunung Boy.
Para penumpang kemudian diperintahkan turun. Sejumlah laporan menyebut sebagian penumpang dilepaskan, sementara Aris tetap ditahan oleh kelompok bersenjata tersebut. Kendaraan yang digunakannya juga dilaporkan kemudian dibakar.
Seorang sopir lajuran asal Toraja, Aris Sanda, dilaporkan tewas dalam insiden penembakan yang melibatkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Kodap III Ndugama Derakma pimpinan Egianus Kogoya, Selasa (15/9/2026).
Peristiwa itu terjadi saat Aris Sanda membawa penumpang dari Wamena menuju Mbua, di kawasan tanjakan Gunung Boy.
Ucapan duka atas kepergian Aris kemudian beredar di media sosial. Saat kejadian, korban dilaporkan sedang membawa sejumlah penumpang, di antaranya Pendeta TH (38), Ns (23), Ps (32), Se (26), Yt (18), Gr (11), Sa (13), serta Di dan Si.
Para penumpang kemudian diperintahkan turun menuju Napua. Sebagian penumpang disebut sempat melanjutkan perjalanan menggunakan ojek.
Dalam perjalanan, para penumpang dilaporkan mendapat intimidasi dan ancaman kekerasan apabila tidak mengikuti perintah kelompok bersenjata tersebut.
Warga lokal kemudian disebut dilepaskan setelah mendapat intimidasi. Sementara Aris Sanda, yang merupakan warga pendatang asal Toraja, tetap ditahan.
Sebelum mengalami insiden penembakan, korban disebut diminta menyatakan dukungan terhadap OPM. Setelah permintaan tersebut selesai, Aris Sanda kemudian dilaporkan meninggal dunia.
Selain itu, kelompok tersebut juga dilaporkan membakar kendaraan lajuran yang digunakan Aris Sanda untuk mengangkut penumpang.
Kelompok yang menamakan diri TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Darakma mengklaim bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Klaim itu disampaikan melalui juru bicara TPNPB, Sebby Sambom.
Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menuduh korban sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang bekerja sebagai sopir. Namun, tuduhan tersebut belum terverifikasi secara independen.
Sejumlah media lokal juga melaporkan adanya video yang memperlihatkan seorang pria yang disebut sebagai korban diminta menyampaikan pernyataan terkait Papua Merdeka sebelum kemudian ditembak. Detail mengenai kronologi tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut oleh aparat penegak hukum melalui penyelidikan resmi.
Warga Sipil Tidak Boleh Menjadi Sasaran
Terlepas dari tuduhan apa pun yang diarahkan kepada korban, pembunuhan terhadap seseorang tanpa proses hukum merupakan tindakan yang harus dikecam keras.
Seorang warga sipil yang sedang bekerja sebagai sopir tidak semestinya kehilangan nyawa hanya karena berada di wilayah konflik. Tuduhan bahwa seseorang merupakan agen intelijen juga tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan eksekusi di luar proses hukum.
Jika seseorang benar-benar dicurigai melakukan tindak pidana atau memiliki hubungan dengan aparat keamanan, penyelesaian semestinya dilakukan melalui mekanisme hukum, bukan dengan penyanderaan, intimidasi, dan pembunuhan.
Peristiwa ini juga menambah panjang daftar kekerasan yang mengancam masyarakat sipil di Papua Pegunungan.
Sebelumnya, pada 9 September 2026, tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya—Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Mehan (35), dan Willi Mbuik (24)—tewas ditembak ketika dalam perjalanan pulang dari Distrik Muliama menuju Wamena. Mereka sebelumnya menjalankan tugas untuk meninjau lahan cetak sawah, memberikan bantuan ternak, dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Aparat menduga penyerangan dilakukan kelompok bersenjata dari wilayah Nduga.
Dalam kasus tersebut, rombongan berjumlah 11 orang dilaporkan dihadang. Aparat menyebut tiga korban ditembak setelah kelompok bersenjata memisahkan mereka dari anggota rombongan lainnya. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pihak yang diduga terlibat.
Jangan Biarkan Kekerasan Menjadi Normal
Rentetan penembakan terhadap warga sipil menunjukkan bahwa keamanan masyarakat di wilayah konflik masih menjadi persoalan serius.
Negara berkewajiban melindungi masyarakat, sementara siapa pun yang melakukan pembunuhan harus dimintai pertanggungjawaban melalui proses hukum yang transparan.
Tindakan pembunuhan terhadap warga sipil, penyanderaan, intimidasi, maupun pemaksaan pengakuan politik merupakan bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan hanya karena dilakukan dengan membawa narasi perjuangan politik.
Perbedaan pandangan politik tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan nyawa manusia.
Karena itu, kasus penembakan Aris Sanda perlu diusut secara menyeluruh. Aparat harus mengungkap identitas pelaku, motif, kronologi sebenarnya, serta pihak-pihak yang terlibat. Jika ditemukan bukti adanya pelanggaran hukum dan hak asasi manusia, seluruh pelaku harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Pemerintah dan aparat keamanan juga perlu memastikan masyarakat sipil yang melintas di jalur-jalur rawan Papua mendapatkan perlindungan yang memadai.
Pada akhirnya, nyawa manusia tidak boleh menjadi alat tawar dalam konflik politik apa pun. Papua membutuhkan keamanan, keadilan, dan perlindungan bagi masyarakat sipil—bukan semakin banyak korban akibat kekerasan bersenjata.
Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim telah menembak mati seorang sopir bernama Aris Sanda di jalur Trans Wamena-Nduga, Papua Pegunungan, pada hari Selasa, 15 September 2026 sekitar pukul 09.25 WIT.
Identitas Korban: Korban diidentifikasi sebagai Aris Sanda Bin Matius, seorang warga perantau asal Toraja yang sehari-hari bekerja sebagai sopir mobil lintas kabupaten.
Tuduhan Sepihak KKB: Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menyatakan kelompoknya bertanggung jawab atas penembakan tersebut karena menuduh korban merupakan agen mata-mata atau intelijen militer Indonesia.
Kelompok Pelaku: Aksi keji ini diklaim dilakukan oleh TPNPB Kodap III Ndugama Darakma di bawah pimpinan Egianus Kogeya.
Ancaman Lanjutan: Pihak TPNPB juga mengeluarkan larangan bagi warga non-Papua (imigran) untuk melintasi jalur Trans Papua, seperti rute Wamena-Nduga, Wamena-Tolikara, Wamena-Yalimo, dan Wamena-Jayapura, serta mengancam akan menembak siapa saja yang melanggarnya.
Peristiwa ini menambah daftar panjang aksi teror KKB di wilayah tersebut, setelah kurang dari sepekan sebelumnya kelompok bersenjata juga menembak mati tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya di Distrik Muliama. Hingga saat ini, aparat gabungan terus bersiaga dan melakukan langkah penanganan lebih lanjut di area konflik.
...
Seorang sopir lajuran asal Toraja, Aris Sanda, dilaporkan tewas dalam insiden penembakan yang melibatkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Kodap III Ndugama Derakma pimpinan Egianus Kogoya, Selasa (15/9/2026).
Peristiwa itu terjadi saat Aris Sanda membawa penumpang dari Wamena menuju Mbua, di kawasan tanjakan Gunung Boy.
Ucapan duka atas kepergian Aris kemudian beredar di media sosial. Saat kejadian, korban dilaporkan sedang membawa sejumlah penumpang, di antaranya Pendeta TH (38), Ns (23), Ps (32), Se (26), Yt (18), Gr (11), Sa (13), serta Di dan Si.
Para penumpang kemudian diperintahkan turun menuju Napua. Sebagian penumpang disebut sempat melanjutkan perjalanan menggunakan ojek.
Dalam perjalanan, para penumpang dilaporkan mendapat intimidasi dan ancaman kekerasan apabila tidak mengikuti perintah kelompok bersenjata tersebut.
Warga lokal kemudian disebut dilepaskan setelah mendapat intimidasi. Sementara Aris Sanda, yang merupakan warga pendatang asal Toraja, tetap ditahan.
Sebelum mengalami insiden penembakan, korban disebut diminta menyatakan dukungan terhadap OPM. Setelah permintaan tersebut selesai, Aris Sanda kemudian dilaporkan meninggal dunia.
Selain itu, kelompok tersebut juga dilaporkan membakar kendaraan lajuran yang digunakan Aris Sanda untuk mengangkut penumpang.
Para penumpang yang dipaksa turun
Sebelum dieksekusi, Aris Sanda disandera dan dipaksa bicara mendukung OPM