Karnaval Maulid di Pekalongan Geger, Penampilan Mirip Ritual Satanic Bikin Publik Bertanya-tanya
Selasa, 15 September 2026
Faktakini.info, Jakarta - Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mendadak menjadi sorotan publik. Sejumlah video penampilan dalam karnaval tersebut viral di media sosial dan memunculkan tudingan adanya unsur Satanic atau ritual pemujaan setan.
Karnaval yang digelar pada Kamis malam, 10 September 2026, itu sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 25 kontingen yang berasal dari 25 musala di wilayah Simbang Kulon.
Namun, sejumlah adegan dalam pertunjukan justru memicu kontroversi. Dalam video yang beredar, terlihat peserta mengenakan kostum menyeramkan, riasan menyerupai tengkorak, membawa peti mati, serta terdapat adegan teatrikal penyembelihan kambing.
Visual tersebut kemudian dikaitkan warganet dengan simbol-simbol yang dikenal dalam ikonografi Satanisme, termasuk gambaran pentagram terbalik. Hal inilah yang kemudian membuat istilah “Festival Satanic Pekalongan” ramai diperbincangkan di media sosial.
Panitia: Tidak Ada Ritual Satanic
Pihak panitia membantah keras bahwa acara tersebut merupakan ritual Satanic.
Ketua Panitia SKNC 2026, Mahsun, mengatakan karnaval merupakan hiburan masyarakat yang menampilkan berbagai kreativitas dari pemuda dan remaja musala. Menurutnya, peserta tidak bermaksud melakukan ritual pemujaan setan.
Ia juga mengakui adanya kostum menyeramkan dan adegan penyembelihan kambing, tetapi menyebutnya sebagai bagian dari pertunjukan dan hiburan.
Menariknya, perwakilan salah satu tim penampil, M. Akhid, bahkan menyampaikan permintaan maaf dan mengaku menyesal karena kurang memahami simbol yang digunakan.
“Kami dari perwakilan Tim Simone meminta maaf. Kami menyesal karena kami kurang literasi,” ujarnya.
Plt Bupati: Konsepnya Tidak Diberitahukan
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, juga mengaku hadir dalam acara tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa dirinya maupun sejumlah tokoh yang hadir tidak mengetahui secara detail konsep penampilan tersebut karena disebut sebagai kejutan.
“Panitia, sepuh-sepuh, para kiai, dan seterusnya juga tidak diberitahu karena sifatnya surprise,” kata Sukirman.
Sukirman juga menjelaskan bahwa kambing yang digunakan dalam pertunjukan pada akhirnya memang akan dimanfaatkan untuk konsumsi bersama setelah acara.
Pemkab Pekalongan Turun Tangan
Kontroversi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Pekalongan mengambil langkah klarifikasi. Sekda Kabupaten Pekalongan, M. Yulian Akbar, mengatakan pihaknya akan memanggil panitia untuk meminta penjelasan mengenai konsep pertunjukan.
Pemkab juga berencana berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapatkan pandangan mengenai kontroversi tersebut.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum seluruh pihak memberikan penjelasan.
Kontroversi SKNC 2026 pun kini menjadi perbincangan luas. Di satu sisi, panitia menegaskan tidak ada ritual Satanic. Namun di sisi lain, penggunaan simbol dan visual yang dianggap menyerupai ikonografi Satanisme menimbulkan pertanyaan serius di tengah masyarakat, terlebih kegiatan tersebut digelar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
Publik kini menunggu hasil klarifikasi Pemkab Pekalongan dan MUI: apakah kontroversi tersebut murni persoalan kreativitas seni yang tidak memahami simbol, atau memang terdapat unsur lain yang perlu dipertanggungjawabkan.
