Kabilah Rassiyun

 


Rabu, 9 September 2026

Faktakini.info

Rumail Abbas

Kabilah Rassiyun

Bagi yang belum tahu, Ki Imad itu membatalkan nasab kabilah orang karena salah satu leluhurnya tidak ditulis di masanya, dan baru muncul di kitab nasab pada abad kesembilan. Katanya, nama Abdullah sebagai anak Ahmad bin Isa baru ditulis 550 tahun kemudian.

Itupun penulis pertamanya adalah keturunan Abdullah bin Ahmad bin Isa sendiri, yaitu Sayid Ali bin Abu Bakr al-Sakran yang wafat 895 Hijriyah.

Dia pun menulis bahwa Rassiyun, di samping Qatadi dan Sulaimani, adalah asyraf paling sahih di dunia, secara syariat dan sejarah, karena nasab mereka diriwayatkan dalam kitab-kitab nasab dari zaman ke zaman.

Pertanyaannya: dari zaman ke zaman dari mana?

Jika Bani Alawi punya Abdullah bin Ahmad bin Isa (yang dipermasalahkan Ki imad), maka dengan metode yang sama Rassiyun punya sembilan nama: al-Qasim, Yahya, Ali, al-Hajjaj, Mufadhdhal, al-Afif, Muhammad, al-Manshur, dan al-Mufadhdhal.

Di atas kesembilan nama itu ada Yusuf ad-Da'i, yang hidup antara 368 dan 392 Hijriyah dalam Tarikh Shan'a karya Ishaq bin Yahya ath-Thabari yang wafat 450 Hijriyah. Di bawahnya ada al-Murtadha yang wafat 732 Hijriyah.

Perhitungan saya: sepuluh hubungan ayah dan anak dalam 352 tahun, jadi 35 tahun per generasi, sehingga kesembilan nama itu hidup antara tahun 415 dan 695 Hijriyah.

Uniknya, empat nama teratas baru muncul di Tanbih wa Sani al-Ain, yang kolofonnya menyebut selesai pada Syakban 1128 Hijriyah. Lima sisanya baru muncul di al-Badr ath-Thali', yang kolofonnya menyebut selesai pada malam Rabu, 2 Zulhijah 1213 Hijriyah.

Maka, ”kesunyian historisnya” mencapai 518 sampai 713 tahun per orang. Jika memakai alat ukur Ki Imad sendiri, hampir seluruh namanya melampaui 550 tahun.

Anehnya, sesudah muncul pun susunannya tidak sama.

Al-Badr ath-Thali' menulis al-Manshur bin Muhammad bin al-Afif. Thabaqat az-Zaidiyyah, penulisnya wafat sekitar 1152 Hijriyah, membaliknya menjadi Manshur bin al-Afif bin Muhammad.

Sebuah ijazah periwayatan hadis bertanggal 8 Zulkaidah 806 Hijriyah di kota Taiz menulis Muhammad al-Afif sebagai satu orang bergelar, tanpa kata "bin" di tengahnya. Tuhfat al-Azhar, yang disusun sekitar 1090 Hijriyah, menguatkannya dengan menyebut al-Mufadhdhal hanya punya dua anak, salah satunya bernama Muhammad Afif ad-Din al-Manshur billah, dan sudah, gitu aja.

Coba kalian hitung ruas dari al-Murtadha sampai al-Mufadhdhal: ijazah tahun 806 Hijriyah memuat lima nama, al-Badr ath-Thali' tahun 1213 Hijriyah memuat enam.

Bukan cuma tahunnya yang hilang, melainkan ada satu generasi yang justru bertambah belakangan.

Uniknya, ruas yang sama juga tidak stabil di dalam satu kitab.

Thabaqat az-Zaidiyyah mengutip nasab utuh Imam al-Mahdi li-Din Allah Ahmad bin Yahya bin al-Murtadha, lewat al-Mufadhdhal bin Manshur bin al-Afif bin Muhammad bin al-Mufadhdhal bin Hajjaj. Aparatus edisinya mencatat nasib ruas "bin al-Afif bin Muhammad" pada tiga naskahnya: terhapus pada naskah pertama, namun ada pada naskah kedua, dan gugur pada naskah ketiga.

Jadi ada tiga naskah yang mencatat silsilah yang berbeda untuk seorang Imam.

Ibn al-Wazir, yang wafat 840 Hijriyah, menyebut leluhurnya dengan kalimat "kakekku al-Murtadha bin al-Mufadhdhal", dan aparatus edisinya mencatat kata "bin al-Mufadhdhal" tidak ada dalam dua naskah.

Di halaman lain kitab yang sama, "bin al-Afif" hilang dari satu naskah, dan "ibn al-Afif bin al-Mufadhdhal" hilang dari naskah yang lain.

Jadi, sudah ada lima laporan yang terdapat lima nama bermasalah, hanya untuk satu ruas yang sama.

Uniknya lagi, kekacauannya tidak berhenti di ruas yang lebih tua.

Thabaqat az-Zaidiyyah menulis Ibrahim, pengarang al-Hidayah, lahir kira-kira 806 Hijriyah. Di kitab yang sama, ayahnya, Muhammad Badr ad-Din, disebut lahir di Sha'dah pada tahun 810 Hijriyah.

Mungkinkah seorang anak bisa lebih tua empat tahun dari ayahnya?

Al-Badr ath-Thali' memberi angka ketiga, yaitu 860 Hijriyah, dan penyuntingnya memberi angka lain, yaitu Ramadan 834 Hijriyah.

Jadi untuk satu orang Imam yang sama yang diberi empat macam tahun kelahiran, selisihnya 54 tahun, dan salah satunya menabrak ayahnya sendiri.

Al-Badr ath-Thali' menulis Abdullah bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Ilah. Thabaqat az-Zaidiyyah, yang lebih tua 61 tahun, menulis Abdullah bin Ali bin Muhammad bin Abd al-Ilah, tanpa Ahmad. Di Thabaqat masih ada lagi sisipan dalam kurung siku, "bin Abdullah bin Ahmad", yang aparatusnya nyatakan teks ini tidak ada dari salah satu manuskrip.

Jarak dua kitab itu cuma 61 tahun, tokohnya baru saja wafat, dan ketika menulis nama kakeknya saja sudah tidak sama.

Terakhir, ada nama anak yang dibantah.

As-Sakhawi, yang wafat 902 Hijriyah, menulis bahwa Ibrahim punya anak bernama Ali, dan anak itulah yang membacakan syair ayahnya kepadanya. Al-Badr ath-Thali' tahun 1213 Hijriyah membantahnya terang-terangan: as-Sakhawi keliru, Ibrahim tidak punya anak bernama Ali, anak-anaknya adalah Ahmad, Muhammad, dan al-Hadi.

Dan syair itu bukan miliknya melainkan milik kakeknya al-Hadi, dan di dalam syair itu ada campur aduk.

Jadi kitab yang menjadi tulang punggung rantai Rassiyun ”menuduh” saksi 311 tahun lebih tua salah menyebut nama anak dan salah menisbatkan syair.

Uniknya, bagi Ki Imad, hal seperti ini seharusnya bermasalah. Tapi ternyata dia cuma mau mempermasalahkan Bani Alawi saja.

Pada Bani Alawi, keberatannya Ki Imad yang paling populer yaitu nama Abdullah tidak ditulis pada masanya. Sementara sejauh penelusuran saya, pada Rassiyun ada lima.

Sembilan nama yang tidak ditulis lebih lama daripada 550 tahun, empat susunan untuk satu ruas, satu ruas yang tiga naskahnya memberi tiga nasib pada nasab imamnya sendiri, satu anak yang lahir empat tahun sebelum ayahnya, dan satu nama anak yang dibantah oleh kitab rujukannya sendiri.

Silsilah semacam inilah yang disebut Ki Imad terverifikasi kitab abad keempat sampai kelima belas, dan dijadikan sampel paling sahih untuk Y-DNA Imam Ali bin Abi Thalib.