Gus Fahrur: Tarim: Kenangan Ziarah Ramadan Tahun 2005
Jum'at, 18 September 2026
Faktakini.info
Tarim: Kenangan Ziarah Ramadan Tahun 2005
Tahun 2005, saya mendapat nikmat yang hingga kini masih terasa hangat dalam ingatan: berziarah ke Tarim, Hadramaut, Yaman, sebelum melanjutkan umrah ke Makkah dan Madinah.
Perjalanan itu terasa begitu istimewa karena saya bersama para masyayikh sepuh: guru saya almarhum KH Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo, KH Muhaiminan Gunardo Parakan Magelang, KH Muhammad Soebadar Pasuruan, KH Ulinnuha Arwani Kudus, KH Hanif Muslih Mranggen Semarang, serta dipandu Habib Husein Assegaf dari Gresik.
Kami berangkat dari Jakarta menggunakan Yemen Airways menuju Shan’a. Kota itu berada di dataran tinggi; udara dinginnya benar-benar menusuk tulang. Kami bermalam satu malam di sana, lalu melanjutkan perjalanan darat dengan bus, melintasi hamparan gurun yang panjang menuju Hadramaut.
Tujuan awal kami adalah kota Seiyun, tempat bersemayam Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Di kota itulah kami menginap. Karena saat itu bulan Ramadan, kami berkesempatan mengikuti salat tarawih bersama masyarakat setempat. Tarawihnya sangat panjang; selesai sekitar pukul dua dini hari. Tetapi justru di situlah keindahannya: lelah bercampur haru, dalam suasana ibadah yang begitu khusyuk.
Keesokan harinya kami menuju Tarim, kota kecil yang menyimpan jejak para wali, ulama, dan orang-orang saleh. Kami berziarah ke Darul Musthafa, pesantren asuhan Habib Umar bin Hafidz, dan ke Ribath Tarim yang diasuh Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri. Kami berdiskusi, menerima nasihat, serta memperoleh ijazah doa.
Kami juga berziarah ke makam Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, penyusun Ratib Al-Haddad yang dibaca kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Di tempat itu kami membaca ratib dan menerima ijazah dari keturunan beliau. Rasanya seperti sedang menyambung mata rantai cinta dan doa para salihin.
Perjalanan berlanjut ke Inat, makam Syekh Abu Bakar bin Salim, yang dikenal dengan gelar Fahrul Wujud dan Shohibul Inat. Kemudian, pada hari berikutnya, kami berziarah ke makam Nabi Hud a.s. Kami sempat mandi di sungai kecil yang terkenal di kawasan itu—sebuah kenangan sederhana, tetapi sangat membekas.
Tarim bukan kota yang ramai dengan kemewahan. Namun di sana hati seperti diajak pelan-pelan untuk diam, tunduk, dan mengingat bahwa ilmu, ketenangan, serta kemuliaan hidup bertumbuh dari adab kepada guru dan cinta kepada orang-orang saleh.
Ziarah Ramadan itu menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan dan penuh pelajaran, sebelum kami melanjutkan ibadah umrah ke Makkah dan Madinah. Ada perjalanan yang selesai ketika pesawat mendarat. Tetapi ada perjalanan yang jejaknya tinggal seumur hidup di dalam hati.
Gus Fahrur
