Gus Fahrur Semprot Mukimad: Stop Gus-Gusan, Ngaji yang Benar Saja!
Selasa, 15 September 2026
Faktakini.info
Stop Gus-Gusan, Ngaji yang Benar Saja!
Belakangan ini, menjadi “gus” tampaknya makin praktis. Tidak perlu bertahun-tahun duduk ngaji, tidak perlu sabar mengulang Jurumiyah, apalagi ikut halaqah bahtsul masail sampai mengantuk.
Cukup pakai baju serba hitam, rambut gondrong, peci atau sorban agak miring, cincin batu sebesar tutup botol, lalu bicara pelan dengan dua istilah Arab. Jangan lupa latar makam, beberapa pengawal, musik sendu, dan kamera dengan sudut dari bawah agar tampak lebih berwibawa.
Selesai. Tinggal tunggu komentar:
“Masyaallah, auranya beda.”
“Cucu wali ini.”
“Calon wali qutub.”
Padahal, aura kadang memang beda. Bisa jadi karena lampu ring light-nya terlalu terang.
Menjadi anak kiai bukan jabatan, bukan pula paket langganan kesalehan otomatis. Nasab itu amanah, bukan kartu anggota VIP untuk merasa paling tahu agama, paling suci, dan paling pantas didengar.
Kalau benar gus, mestinya makin rajin ngaji, makin tekun merawat santri, makin menjaga salat jamaah, wirid, zikir, dan akhlak. Bukan hanya rajin tampil di panggung, tetapi juga tahan duduk lama di depan kitab: membaca, menjelaskan, dikoreksi, lalu mengulang lagi.
Sebab kitab kuning tidak akan terbuka hanya karena kamera sudah menyala. Apalagi kalau kameranya tiga.
Tidak usah bergaya wali. Wali yang asli biasanya justru tidak sibuk memberi kesan bahwa dirinya wali. Yang terlalu sering merasa dekat dengan langit, kadang baru hafal beberapa potong ayat; tetapi masih mudah marah, belum kuat menjaga lisan, belum tertib ibadah, dan belum sabar menghadapi orang kecil.
Yang lebih lucu, ada pula “gus” yang tampil seperti bos geng: rombongan banyak, ajudan banyak, suara keras, suka menggeruduk, lalu kalau dikritik langsung membuka album nasab leluhur.
Seolah-olah silsilah adalah surat izin untuk berlaku kasar.
Padahal, kalau benar leluhurnya ulama, yang diwariskan seharusnya bukan gaya jagoan, melainkan ilmu, tawaduk, kesabaran, dan kasih sayang. Kiai dulu dikenal karena menenangkan umat, bukan karena rombongannya membuat orang menepi.
Kalau memang gus, jadilah gus yang meneduhkan. Kalau memang santri, jadilah santri yang sungguh-sungguh mengaji. Tidak perlu sibuk menjual nasab, memamerkan karamah, atau membangun kesan paling alim.
Masyarakat hari ini tidak kekurangan orang bergelar. Yang langka justru orang berilmu, beradab, dan tidak merasa perlu terlihat suci.
Maka, stop gaya gus-gusan.
Ngaji yang benar saja.
Tidak usah gaya wali-walian. Cukup jadi manusia berilmu, yang akhlaknya membuat orang lain merasa aman—bukan merasa terancam.
Ahmad Fahrur Rozi
