ALBANIA — KETIKA NEGARA MELARANG TUHAN, LALU AGAMA KEMBALI KE RUANG PUBLIK
Selasa, 29 September 2026
ALBANIA — KETIKA NEGARA MELARANG TUHAN, LALU AGAMA KEMBALI KE RUANG PUBLIK
Bayangkan sebuah negara yang bukan sekadar memisahkan agama dari pemerintahan, tetapi justru melarang kehidupan beragama.
Masjid ditutup. Gereja disita atau dihancurkan. Para imam dan pastor dipenjara. Buku-buku agama dilarang. Anak-anak diajarkan bahwa agama adalah peninggalan masa lalu. Bahkan menjalankan ibadah secara sembunyi-sembunyi bisa membuat seseorang dicap sebagai “musuh rakyat”.
Itulah yang terjadi di Albania di bawah pemerintahan komunis Enver Hoxha.
Pada 1976, Albania secara resmi memasukkan ateisme negara ke dalam konstitusinya dan menjadi negara yang secara konstitusional menolak keberadaan agama. Namun perjalanan menuju keadaan itu sudah dimulai jauh sebelumnya.
Yang menarik, kisah Albania bukan hanya tentang bagaimana agama dihancurkan oleh negara. Ini juga tentang bagaimana sebagian orang mempertahankan keyakinan mereka secara diam-diam—dan bagaimana kehidupan beragama perlahan muncul kembali setelah komunisme runtuh.
🔳 DARI PERANG DUNIA II MENUJU REPRESI
Setelah Perang Dunia II berakhir, Partai Buruh Albania yang dipimpin Enver Hoxha mengambil alih kekuasaan.
Pemerintahan baru melihat sejumlah lembaga keagamaan, terutama Gereja Katolik, sebagai ancaman politik karena memiliki hubungan internasional dan tidak mudah dikendalikan negara.
Pada Desember 1945, puluhan rohaniwan dan umat Katolik ditangkap. Dalam rangkaian persidangan berikutnya, sejumlah orang dijatuhi hukuman berat dan pada Maret 1946 tujuh orang dieksekusi.
Represi kemudian meluas.
Para pemimpin agama dituduh sebagai agen negara asing, musuh revolusi, penyabot, atau kelompok yang ingin menggulingkan pemerintahan.
Tetapi penindasan itu tidak hanya menimpa umat Katolik.
Muslim, Ortodoks, Bektashi dan kelompok keagamaan lainnya juga menjadi sasaran.
Salah satu tokoh yang kemudian mengalami panjangnya penjara adalah imam Muslim Hafiz Ali Kraja.
Ia sebelumnya menyampaikan pidato berjudul “Apa itu Komunisme dan konsekuensinya bagi agama dan bangsa Albania.”
Pidato itu membuatnya dicap sebagai lawan komunisme.
Ia kemudian bersembunyi bersama keluarganya di Shkodër pada 1944–1945. Ketika amnesti diumumkan, ia keluar dari persembunyian dengan harapan mendapat pengampunan. Kenyataannya, ia tetap dijatuhi hukuman 25 tahun penjara dan menjalani sekitar 19 tahun.
Anaknya, Mehdi Kraja, tumbuh tanpa ayah.
Ketika ayahnya akhirnya keluar dari penjara, anak-anaknya sudah dewasa.
“Ketika dia keluar dari penjara, adik perempuan saya takut karena dia tidak mengenali bahwa dia adalah ayahnya. Saya sendiri baru bertemu ayah di rumah [untuk pertama kalinya] pada usia 26 tahun,” kenangnya.
Bagi keluarga seperti Kraja, hukuman penjara tidak berhenti pada orang yang dituduh melawan pemerintah. Stigma juga diwariskan kepada anak-anak.
Mehdi pernah dipermalukan di sekolah dan disebut sebagai “anak seorang reaksioner” serta “anak musuh rakyat”.
Keluarga mereka kemudian diasingkan ke Bajram Curri, wilayah terpencil di utara Albania, dari 1955 sampai 1958.
Namun bahkan di dalam penjara, Hafiz Ali Kraja tetap menjalankan Ramadan. Di luar penjara, keluarganya mempertahankan tradisi Muslim meskipun kehidupan beragama semakin ditekan.
🔳 1967: KETIKA ALBANIA MENYERANG AGAMA
Titik balik terjadi pada 1967.
Pada 6 Februari, Enver Hoxha menyampaikan pidato yang memperkuat kampanye melawan apa yang disebutnya “ideologi agama”. Dokumen-dokumen Partai Buruh kemudian mendorong kampanye tersebut ke seluruh negeri.
Salah satu kalimat propaganda yang digunakan rezim berbunyi:
“Agama adalah candu bagi rakyat.”
Negara berusaha membuat masyarakat, terutama generasi muda, menerima pandangan bahwa agama merupakan penghambat kemajuan.
Tempat-tempat ibadah kemudian menjadi sasaran.
Menurut data yang dikutip dalam penelitian tentang periode tersebut, ribuan institusi keagamaan ditutup, termasuk masjid, gereja Katolik, gereja Ortodoks, serta tempat-tempat ibadah Bektashi.
Sebagian bangunan dihancurkan.
Sebagian diubah menjadi gudang, pusat kebudayaan, fasilitas olahraga, atau bangunan negara.
Yang dihancurkan bukan hanya tempat untuk beribadah. Banyak di antaranya juga merupakan bagian dari sejarah dan warisan budaya Albania.
Kampanye tersebut bahkan melibatkan propaganda melalui surat kabar, poster, pendidikan dan film.
Film produksi Kinostudio Shqipëria e Re menggambarkan tokoh agama sebagai orang yang korup, kolot, bersekongkol dengan kekuatan asing, atau menjadi penghalang pembangunan sosialisme.
Dengan begitu, negara bukan hanya melarang praktik agama.
Negara juga berusaha mengubah cara masyarakat memandang orang yang beragama.
🔳 “KAMU DITANGKAP ATAS NAMA RAKYAT”
Salah satu kisah paling terkenal datang dari Pastor Ernest Simoni Troshani.
Ia lahir pada 1928 dan ditahbiskan sebagai imam pada 1956. Pada 24 Desember 1963, setelah memimpin misa Natal, ia ditangkap. Catatan Vatikan menyebut hukuman matinya kemudian diubah menjadi 25 tahun kerja paksa. Ia menghabiskan sekitar 18 tahun dalam tahanan, termasuk bertahun-tahun bekerja di pertambangan.
Troshani kemudian mengenang malam penangkapannya:
“Saat itu malam Natal, tanggal 24 Desember 1963, ketika saya selesai memimpin misa, empat orang menghampiri saya. Dua di antaranya mengenakan seragam militer dan dua lainnya berpakaian seperti warga sipil.”
Ia kemudian berkata:
“Mereka mengikat tangan saya di belakang punggung dengan brutal seolah-olah saya seorang penjahat berbahaya dan mengatakan kepada saya bahwa ‘kamu ditangkap atas nama rakyat’.”
Menurut kesaksiannya, ia juga dituduh menyebarkan ajaran yang dianggap berbahaya karena mengatakan kepada umat dan anak-anak muda bahwa jika diperlukan, seseorang harus rela memberikan hidupnya kepada Yesus Kristus.
Ada satu hal yang membuat kasusnya menarik.
Pada 1963, larangan total terhadap agama belum diberlakukan. Karena itu, aparat menggunakan tuduhan lain untuk menjeratnya.
Troshani dituduh melakukan agitasi, propaganda, berusaha melarikan diri, dan berbagai pelanggaran lain.
Ia juga dituduh berkaitan dengan misa yang ia adakan setelah Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dibunuh pada November 1963.
Troshani menjelaskan bahwa misa itu memang benar dilakukan.
Ia mengatakan Paus Roma telah menganjurkan para imam di seluruh dunia untuk mengadakan misa bagi arwah Kennedy.
Dalam proses pemeriksaan, Troshani mengatakan dirinya mengalami penyiksaan.
“Mereka mencoba segala cara, mengencangkan borgol sehingga aliran darah saya terhambat… Saya tidak tahu bagaimana saya masih hidup sampai sekarang, tetapi ketika Tuhan mengirimkan cobaan, Dia juga memberi kekuatan untuk menghadapinya.”
Ia akhirnya dijatuhi hukuman 25 tahun.
Di penjara Spac, para tahanan dipaksa melakukan kerja berat di pertambangan.
Pada Mei 1973 terjadi pemberontakan tahanan. Troshani kemudian dituduh terlibat sebagai salah satu penyelenggara.
Ia kembali dijatuhi hukuman mati.
Namun hukuman tersebut tidak dilaksanakan. Catatan Vatikan menyebut kesaksian yang menguntungkan dari sejumlah penjaga ikut menyelamatkan nyawanya.
Troshani tetap menjalankan pelayanan keagamaan secara sembunyi-sembunyi di penjara.
Setelah dibebaskan pada 1981, ia masih dianggap sebagai “musuh rakyat” dan dipaksa bekerja di saluran pembuangan di Shkodër. Ia terus menjalankan pelayanan imamat secara clandestine sampai rezim runtuh pada 1990.
Pada 2016, ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus.
Kisah seorang tahanan politik Albania itu kemudian berbalik menjadi simbol kebangkitan kembali Gereja Katolik Albania.
🔳 PASTOR SHTJEFEN KURTI DAN BAPTISAN DIAM-DIAM
Ada pula kisah Pastor Shtjefen Kurti.
Lahir pada 1898 di Kosovo, Kurti memperoleh pendidikan di Austria dan Roma. Ia kemudian bekerja sebagai imam di Albania.
Menurut kesaksian keponakannya, Nikolin Kurti, ia pernah menjadi imam yang melayani lingkungan istana Raja Zog.
Namun setelah komunisme berkuasa, kehidupannya berubah total.
Pada 1946 ia ditangkap dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Ia menjalani sebagian besar hukuman tersebut.
Ketika dibebaskan pada 1964, usianya sudah 68 tahun.
Keponakannya menggambarkan pertemuan pertama mereka:
“Ketika dia keluar dari penjara pada tahun 1964, dia pulang ke rumah suatu malam dan saat itulah saya mengenalnya secara langsung untuk pertama kalinya. Wajahnya keriput, tubuhnya bungkuk, dan sakit.”
Setelah kampanye antiagama 1967, Kurti tetap menjalankan praktik keagamaan secara rahasia.
Ia bahkan membaptis anak-anak secara diam-diam.
Aparat keamanan kemudian menangkapnya pada 1970 ketika usianya sekitar 72 tahun.
Ia dituduh melakukan spionase, sabotase, dan menjalankan upacara keagamaan secara rahasia.
Kurti kemudian dijatuhi hukuman mati.
Dalam persidangan, ketika hakim bertanya apakah ia ingin mengatakan sesuatu, Kurti menjawab:
“Anda tidak menghukum saya mati, karena hidup dan mati berada di tangan Tuhan, tetapi Anda menghukum saya dengan umur yang lebih pendek.”
Ia dieksekusi pada September 1971.
Lokasi jenazahnya tidak diketahui keluarganya. Bahkan keluarga baru mengetahui kematiannya setelah sebuah radio Italia memberitakan bahwa Kurti ditembak karena membaptis anak-anak.
Kisah seperti ini menunjukkan bagaimana larangan agama tidak otomatis membuat keyakinan menghilang.
Sebaliknya, bagi sebagian orang, agama berpindah dari ruang publik ke ruang keluarga.
🔳 1976: ALBANIA MENJADI NEGARA ATEIS
Sembilan tahun setelah kampanye antiagama dimulai, larangan tersebut memperoleh dasar konstitusional.
Konstitusi Albania 1976 menyatakan dalam Pasal 37:
“Negara tidak mengakui agama apa pun dan mendukung serta mengembangkan propaganda ateistik untuk melibatkan masyarakat dalam pandangan dunia ilmiah materialistis.”
Pasal 55 juga melarang pendirian organisasi yang bersifat keagamaan.
Dengan demikian, Albania bukan hanya negara yang pemerintahnya menganut komunisme dan secara politik tidak mendukung agama.
Negara secara resmi meniadakan agama dari kehidupan publik.
Inilah yang kemudian membuat Albania dikenal sebagai negara ateis pertama yang secara resmi menetapkan ateisme negara dalam konstitusinya.
Pada saat yang sama, loyalitas kepada Enver Hoxha, Partai Buruh dan ideologi komunisme justru dipromosikan secara luas.
Agama dianggap masa lalu.
Komunisme dianggap masa depan.
🔳 TETAPI KEYAKINAN TIDAK SEPENUHNYA HILANG
Larangan negara ternyata tidak membuat seluruh masyarakat Albania berhenti percaya.
Sebagian keluarga menyimpan tradisi agama secara diam-diam.
Ada keluarga Muslim yang tetap menjalankan Ramadan.
Ada umat Katolik yang menyembunyikan praktik baptis.
Ada keluarga yang menyimpan simbol atau benda keagamaan.
Praktik tersebut berisiko karena Sigurimi, badan keamanan negara Albania, mengawasi orang-orang yang dicurigai sebagai lawan rezim.
Anak-anak juga ikut terkena dampaknya.
Qaramet Koci, anak Hafiz Sabri Koci, mengatakan bahwa ia tidak bertemu ayahnya selama sekitar dua puluh tahun.
Ketika ayahnya akhirnya pulang, ia mengatakan:
“Ketika ayah saya pulang, itu adalah kegembiraan yang luar biasa, tetapi saya tidak terbiasa dengan hal ini. Saya belum pernah melihat ayah di rumah.”
Kalimat itu memperlihatkan sisi lain dari represi politik.
Hukuman terhadap seseorang dapat memengaruhi satu generasi keluarga.
Anak kehilangan ayah.
Istri kehilangan suami.
Orang tua kehilangan anak.
Dan sebuah tradisi keagamaan yang sebelumnya diwariskan secara terbuka harus dipertahankan melalui ingatan keluarga.
🔳 DARI NEGARA ATEIS KEMBALI MENJADI MASYARAKAT BERAGAMA
Komunisme Albania runtuh pada awal 1990-an.
Larangan agama kemudian dicabut.
Masjid dan gereja kembali dibuka. Komunitas Muslim, Katolik, Ortodoks, Bektashi, Protestan dan kelompok lainnya kembali membangun lembaga mereka.
Namun Albania setelah komunisme tidak begitu saja kembali menjadi masyarakat religius seperti sebelum 1945.
Puluhan tahun propaganda ateistik telah mengubah hubungan masyarakat dengan agama.
Inilah sebabnya data mengenai agama Albania harus dibaca dengan hati-hati.
Sensus 2011 yang sering dikutip menunjukkan sekitar 56,7 persen penduduk menyatakan Muslim, 10,03 persen Katolik, 6,75 persen Ortodoks, dan 2,09 persen Bektashi. Sekitar 13,79 persen tidak menyatakan afiliasi agama, sementara sekitar 2,5 persen menyatakan ateis.
Tetapi angka itu sekarang bukan lagi data sensus terbaru.
Sensus Albania 2023 memberikan gambaran yang lebih baru.
Dari 2.402.113 penduduk yang tercatat dalam tabel agama, sekitar 45,9 persen menyatakan Muslim, 4,8 persen Bektashi, 8,4 persen Katolik, 7,2 persen Ortodoks, dan 0,4 persen Protestan.
Menariknya, sekitar 13,8 persen menyatakan dirinya beriman tetapi tidak memiliki denominasi tertentu, sementara sekitar 3,6 persen menyatakan ateis. Sekitar 10,2 persen memilih tidak menjawab dan 5,6 persen datanya tidak tersedia.
Artinya, Albania modern tidak bisa begitu saja dibagi menjadi “Muslim”, “Kristen”, dan “ateis”.
Ada pula kelompok besar yang mengatakan dirinya percaya tetapi tidak mengidentifikasikan diri dengan agama tertentu.
Ini merupakan salah satu warisan sosial dari sejarah panjang Albania.
🔳 LALU, BAGAIMANA KEHIDUPAN BERAGAMA DI ALBANIA SEKARANG?
Berbeda jauh dari masa Hoxha.
Konstitusi Albania modern menjamin kebebasan hati nurani dan agama. Negara tidak memiliki agama resmi, menyatakan netral dalam persoalan keyakinan, mengakui kesetaraan kelompok agama, dan melarang diskriminasi berdasarkan agama.
Pemerintah juga memiliki hubungan resmi dengan beberapa komunitas keagamaan utama: komunitas Muslim Sunni Albania, komunitas Bektashi, Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Albania, dan organisasi Protestan Evangelikal.
Masjid, gereja, dan pusat keagamaan kembali berfungsi.
Pemerintah juga masih menangani persoalan yang diwariskan dari era komunisme, terutama pengembalian atau kompensasi properti keagamaan yang dulu disita negara.
Laporan kebebasan beragama Departemen Luar Negeri AS mencatat bahwa proses restitusi properti keagamaan tersebut masih menyisakan persoalan.
Dengan kata lain, kebebasan beragama sudah kembali, tetapi sebagian luka material dari masa komunisme belum sepenuhnya selesai.
🔳 DARI MASJID DAN GEREJA YANG DITUTUP, KEMBALI KE MASYARAKAT MULTIAGAMA
Albania hari ini memiliki pemandangan yang hampir berlawanan dengan Albania era Hoxha.
Dulu, negara berusaha menghapus agama dari ruang publik.
Sekarang, berbagai komunitas agama hidup berdampingan.
Muslim Sunni, Bektashi, Katolik, Ortodoks, Protestan, serta kelompok agama lainnya memiliki ruang untuk menjalankan keyakinannya.
Tetapi pengalaman komunisme meninggalkan satu warisan yang penting: bagi banyak orang Albania, identitas agama tidak selalu berarti kehidupan beragama yang sangat aktif.
Sensus 2023 memperlihatkan adanya jarak antara identitas keagamaan, keyakinan pribadi, dan praktik keagamaan. Puluhan tahun tanpa pendidikan agama formal membuat generasi yang lahir di bawah komunisme tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dari generasi sebelum 1945.
Karena itu, kebangkitan agama di Albania bukan sekadar persoalan membuka kembali pintu masjid dan gereja.
Ini juga merupakan proses menghidupkan kembali tradisi, pengetahuan, lembaga, dan ingatan yang pernah diputus secara paksa.
🔳 SEJARAH YANG TIDAK SELESAI PADA 1990
Kisah Albania menunjukkan bahwa sebuah negara memang dapat menutup rumah ibadah, melarang organisasi agama, memenjarakan ulama, bahkan memasukkan ateisme ke dalam konstitusi.
Tetapi keyakinan manusia ternyata lebih sulit dihapus daripada sebuah institusi.
Sebagian orang mempertahankannya melalui doa yang dilakukan diam-diam.
Sebagian melalui Ramadan di balik jeruji.
Sebagian melalui baptisan rahasia.
Sebagian melalui cerita keluarga yang diwariskan kepada anak-anak.
Dan sebagian lagi melalui ingatan tentang orang-orang yang hilang karena keyakinannya.
Pada 2016, Pastor Ernest Simoni Troshani yang pernah ditangkap setelah misa Natal 1963 diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus. Catatan Vatikan menyebut ia tetap menjalankan pelayanan secara rahasia sampai rezim komunis berakhir pada 1990.
Ironinya jelas.
Negara yang pernah mencoba menghapus agama dari kehidupan masyarakat itu kini kembali memiliki masjid, gereja, biara, pusat Bektashi dan berbagai komunitas keagamaan.
Albania tidak kembali persis seperti sebelum komunisme.
Tetapi agama yang pernah dinyatakan tidak boleh ada itu ternyata tidak benar-benar hilang.
Yang berubah bukan hanya negara. Yang berubah juga adalah cara masyarakat Albania mengingat, menjalankan, dan memaknai agama setelah lebih dari empat dekade hidup di bawah negara ateis.
📌 Sumber singkat:
- BIRN, Valbona Bezati, “How Albania Became the World’s First Atheist State”, 28 Agustus 2019 — sumber utama artikel dan kesaksian korban/keluarga.
- Konstitusi Albania 1976 — dasar hukum pelarangan agama pada masa rezim Hoxha.
- Pidato Enver Hoxha, 6 Februari 1967 — sumber primer mengenai kampanye ideologis terhadap agama.
- INSTAT, Census of Population and Housing 2023 — data terbaru mengenai komposisi agama penduduk Albania.
- U.S. Department of State, International Religious Freedom Report 2023 — kondisi kebebasan beragama dan hubungan pemerintah dengan komunitas agama.
- Vatican Press Office — biografi dan riwayat penahanan Ernest Simoni Troshani.
#Albania #SejarahAlbania #EnverHoxha #Komunisme #sariberita #SejarahDunia #atheism #SejarahAgama #Balkan #Beranipedia
