MUI 'Cuci' Mulut Busuk Dudung: Pesan Menohok dari Ulama untuk Pejabat Publik

 


Jum'at, 8 Mei 2026

Faktakini.info

MUI 'Cuci' Mulut Busuk Dudung: Pesan Menohok dari Ulama untuk Pejabat Publik

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya mengambil langkah tegas dalam memberikan arahan kepada Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman. Dalam pertemuan formal yang berlangsung di Kantor MUI Pusat, para ulama memberikan "sentilan" keras yang diibaratkan sebagai upaya "mencuci" lisan mantan KSAD tersebut agar lebih terjaga di masa depan.

Teguran Keras: Jaga Lisan, Jaga Persatuan

Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, tidak berbasa-basi saat menerima kunjungan Dudung yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). MUI menekankan bahwa sebagai tokoh publik, Dudung harus mulai "menjaga mulut" dari pernyataan-pernyataan yang kerap memicu kegaduhan dan melukai perasaan umat beragama.

Istilah "cuci mulut busuk" yang berkembang di masyarakat menjadi simbol harapan agar tidak ada lagi narasi-narasi kontroversial seperti yang pernah terjadi sebelumnya. MUI mengingatkan bahwa komunikasi seorang pejabat adalah cermin dari wibawa negara.

Rekam Jejak Pernyataan Kontroversial

Langkah MUI ini bukan tanpa alasan. Publik tentu masih ingat serangkaian pernyataan Dudung yang dinilai "offside", antara lain:

Analogi Teologis yang Keliru: Pernyataan "Tuhan bukan orang Arab" yang sempat memicu kemarahan luas dan pelaporan hukum.

Sinkretisme Agama: Ucapan bahwa "semua agama sama di mata Tuhan," yang langsung dikoreksi MUI sebagai kekeliruan dalam memahami konsep toleransi.

Intervensi Cara Beragama: Pesan agar masyarakat "jangan terlalu dalam mempelajari agama," yang dinilai kontraproduktif dengan semangat literasi Islam.

Harapan Baru di Bawah Kepemimpinan Baru

Kunjungan Dudung ke MUI pada Mei 2026 ini diharapkan menjadi titik balik. MUI meminta KSP untuk fokus pada tugas-tugas strategis pemerintahan Prabowo Subianto, terutama dalam membendung fitnah dan adu domba di media sosial, ketimbang masuk ke ranah diskusi agama yang bukan kapasitasnya.

"Pejabat harus menjadi penyejuk, bukan sumber api. Menjaga lisan adalah ibadah paling ringan namun paling berat konsekuensinya," tegas pimpinan MUI dalam pertemuan tersebut.

Dengan "sentilan" ini, publik menanti apakah lisan sang Jenderal akan lebih terukur atau justru kembali terpeleset dalam polemik lama.