MENYUMPAL MULUT BUSUK BEGAL NASAB: Membongkar Kelicikan Sejarah Imaduddin Sarman
Sabtu, 16 Mei 2026
Faktakini.info
MENYUMPAL MULUT BUSUK BEGAL NASAB: Membongkar Kelicikan Sejarah Imaduddin Utsman
Ruang publik digital belakangan ini dikotori oleh ocehan provokatif seorang figur yang mengaku ulama, namun perilakunya tak lebih dari seorang pembegal sejarah. Imaduddin Utsman, dengan kelicikan yang dibungkus jubah akademis, mencoba membakar sentimen umat dengan mengorek-ngorek surat masa lalu Mufti Betawi, Sayyid Utsman bin Yahya [🔍]. Ia menuding sang mufti secara keji telah "mengemis jabatan" dan menjadi "antek Belanda".
Namun, bagi siapapun yang memiliki akal sehat dan paham metodologi sejarah, ocehan Imaduddin ini bukanlah sebuah kajian ilmiah. Ini adalah bentuk intellectual dishonesty (pelacuran intelektual) yang lahir dari syahwat kebencian personal demi meruntuhkan kehormatan sebuah klan [🔍].
Berikut adalah hantaman fakta dan konteks asli surat tersebut yang seketika menyumpal narasi tebang-pilih (cherry-picking) yang digelorakan oleh sang pembegal nasab:
1. Fakta Surat: Diplomasi Cetak Kitab, Bukan Mengemis Jabatan
Imaduddin secara culas membangun opini seolah-olah Sayyid Utsman menulis surat untuk meminta-minta pangkat politik agar bisa hidup mewah [🔍]. Ini adalah kebohongan publik yang nyata. Dalam arsip resmi Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje, isi asli korespondensi tersebut menunjukkan bahwa Sayyid Utsman justru sedang melakukan diplomasi kebudayaan dan dakwah:
Inisiatif Berada di Tangan Belanda: Jabatan Honorair Adviseur voor Arabische Zaken (Penasihat Kehormatan) bukan diminta oleh Sayyid Utsman, melainkan ditawarkan oleh pemerintah kolonial atas rekomendasi langsung dari Snouck Hurgronje yang kagum akan kepakaran sang mufti [🔍]. Sayyid Utsman tidak pernah mengemis mencari lowongan pekerjaan ke kantor gubernur kolonial.
Misi Utama Subsidi Percetakan: Fokus utama surat-surat Sayyid Utsman adalah meminta jaminan dana (subsidi) dari pemerintah Hindia Belanda untuk mencetak puluhan kitab fikih, akidah, dan panduan ibadah karyanya. Mengapa ia melakukan ini? Agar kitab-kitab tersebut bisa dicetak massal secara gratis dan disebarkan ke berbagai wilayah konflik seperti Aceh, Sumatra, dan Jawa demi mencerdaskan umat yang sengaja dibodohkan oleh sistem kolonial.
Tunjangan Sebagai Konsekuensi Waktu: Permintaan tunjangan bulanan dalam suratnya adalah hal yang logis secara profesional karena waktu beliau habis terserap untuk menulis naskah-naskah pengondisian umat atas permintaan Snouck. Menyamakan kompensasi penulisan ini dengan tindakan "mengemis jabatan" adalah pelintiran sejarah yang sangat menjijikkan.
2. Kedangkalan Berpikir: Menilai Abad ke-19 dengan Nafsu Abad ke-21
Dosa paling memalukan dalam dunia sejarah yang dipamerkan Imaduddin di media sosial adalah anakronisme. Dengan bodohnya, ia menghakimi pilihan politik ulama tahun 1880-an dengan standar moral nasionalisme Indonesia era modern.
Pada abad ke-19, konsep NKRI belum pernah ada. Pilihan para ulama kala itu murni didasarkan pada pertimbangan fikih darurat: menyelamatkan nyawa umat (hifzhun nafs). Sayyid Utsman menyaksikan bagaimana pemberontakan konyol tanpa persiapan militer matang (seperti Geger Cilegon 1888) selalu berakhir dengan pembantaian massal rakyat pribumi oleh moncong meriam Belanda.
Sayyid Utsman mengambil jalur kooperatif justru untuk menjinakkan kebrutalan militer Belanda. Menuduh ulama yang berjuang menyelamatkan ribuan nyawa Muslim dari genosida sebagai "pengkhianat" adalah bukti nyata betapa busuk dan dangkalnya isi kepala Imaduddin dalam membaca sejarah.
3. Standar Ganda yang Menjijikkan: Mengapa Hanya Menyerang Habaib?
Jika menerima gaji, tunjangan, atau posisi resmi dari pemerintah Hindia Belanda otomatis dicap sebagai pengkhianat bangsa, mengapa Imaduddin bungkam seribu bahasa terhadap rekam jejak para ulama pribumi (non-habaib)?
Sejarah mencatat ada ratusan ulama lokal, kiai, dan santri yang menjadi Penghulu Landraad (Pengadilan Kolonial), penasihat keagamaan resmi, hingga birokrat keagamaan bentukan Belanda demi menyiasati keadaan politik yang opresif. Mengapa hanya klan Ba'Alawi yang ia kuliti dan jadikan sasaran tembak? Di sinilah kedoknya runtuh. Gerakan Imaduddin sama sekali bukan demi meluruskan sejarah, melainkan pesanan politik identitas lokal yang didorong oleh dendam kesumat untuk melakukan pembunuhan karakter (character assassination) [🔍].
4. Penakut di Forum Ilmiah, Singa di Panggung TikTok
Jika Imaduddin benar-benar seorang akademisi yang jantan dan meyakini kebenaran tesisnya, mengapa ia tidak pernah berani menguji narasinya di forum formal internasional? Mengapa ia tidak menulisnya dalam jurnal ilmiah terakreditasi agar diuji oleh para profesor sejarah yang netral?
Alih-alih menempuh jalur intelektual yang terhormat, sang pembegal nasab ini justru memilih menjadi "pesohor medsos". Ia mengemas potongan sejarah yang telah dimanipulasi menjadi video-video pendek provokatif di YouTube dan TikTok [🔍]. Tujuannya menjijikkan: menggalang massa bawah, memelihara konflik horizontal, dan memecah belah
