Jejak Masa Lalu Abbas Tompel : Dulu Sangat Memuliakan Habaib, Kini Berubah Total Seperti Kena Amnesia

 


Sabtu, 30 Mei 2026

Faktakini.info

Jejak Masa Lalu Gus Abbas : Dulu Sangat Memuliakan Habaib, Kini Berubah Total Seperti Kena Amnesia

Bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya, nama Gus Abbas tentu bukan nama yang asing. Beliau dikenal sebagai tokoh yang sering tampil berceramah, menyampaikan ilmu agama, dan memiliki banyak pengikut. Namun, ada satu fakta sejarah yang sangat jelas, nyata, dan menjadi bukti kuat betapa berubahnya pandangan dan sikap beliau saat ini dibandingkan masa lalu.

Kalau kita telusuri rekaman ceramah atau ingatan jamaah yang hadir sekitar 5 tahun yang lalu, saat akal pikiran Gus Abbas masih sehat, masih jernih, masih normal, dan belum tercampuri rasa benci atau pengaruh buruk, apa yang beliau sampaikan sangat jauh berbeda dengan apa yang beliau ucapkan sekarang.

Dulu, Gus Abbas adalah sosok yang sangat memuliakan, sangat mencintai, dan sangat bertakzim kepada para Habaib dan keluarga besar keturunan Rasulullah ﷺ. Beliau berceramah dengan penuh rasa hormat, mengakui kemuliaan nasab mereka, dan mengajak seluruh jamaah untuk mencintai Ahlul Bait.

Berikut adalah perbandingan nyata dan fakta sejarah yang membongkar betapa drastisnya perubahan sikap beliau, seolah-olah orang yang sama tapi jiwanya sudah berbeda, persis seperti orang yang terkena penyakit amnesia atau lupa berat.

1. Lima Tahun Lalu: Gus Abbas yang Masih Sehat Akalnya, Penuh Rasa Hormat

Kembali kita mundur sekitar 5 tahun ke belakang. Di masa itu, belum ada keributan-keributan, belum ada perdebatan nasab, belum ada rasa benci yang ditanamkan. Akal sehat, ilmu, dan logika Gus Abbas masih berjalan sebagaimana mestinya, sejalan dengan ajaran para ulama besar dan guru-guru beliau.

Dalam setiap ceramah yang disampaikan, baik di pengajian umum, di masjid, maupun di acara-acara haul, pesan Gus Abbas selalu sama dan tegas: Cintailah para Habaib, hormati mereka, dan anggaplah kemuliaan mereka sebagai kemuliaan Nabi ﷺ.

Ada banyak sekali rekaman dan kesaksian jamaah saat itu mengenai isi ceramah beliau:

Mengakui Nasab dan Kemuliaan

Beliau sering berpesan dengan nada wibawa:

"Wahai hadirin sekalian, ketahuilah bahwa para Habaib itu adalah darah daging Rasulullah ﷺ. Nasab mereka bersambung sahih, terjaga kemurniannya dari zaman ke zaman. Menghormati mereka itu sama artinya menghormati Nabi. Menyayangi mereka itu tandanya kita mencintai Baginda Nabi. Jangan sekali-kali meragukan nasab mereka, karena meragukan sama saja dengan meragukan keturunan Nabi, dan itu dosa besar."

Saat itu, Gus Abbas sangat tegas menegaskan kebenaran nasab Ba ‘Alawi, mengakui sejarah kedatangan mereka ke Nusantara, dan memuji peran besar mereka dalam menyebarkan Islam yang damai dan penuh kasih sayang. Beliau sama sekali tidak pernah menyebut kata "palsu", "rekayasa", atau "menipu" terhadap mereka.

Mengambil Contoh dari Ulama Besar

Dalam ceramah-ceramahnya, Gus Abbas yang masih sehat itu sering mengutip pendapat ulama besar seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, hingga Saykhona Kholil Bangkalan. Beliau selalu mengingatkan:

"Para ulama besar kita itu sangat memuliakan Habaib, sangat takzim bertemu mereka, bahkan rela berjalan jauh hanya untuk bersalaman dan mencium tangan mereka. Kalau para ulama yang ilmunya selangit saja begitu, masa kita yang kecil ini berani-beraninya menghina atau meragukan mereka? Itu namanya salah jalan, salah langkah, dan melawan ajaran guru kita."

Beliau juga sering bercerita tentang kedekatan Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan para Habaib, bagaimana saling mengirim surat, saling mendoakan, dan saling mengakui kebesaran masing-masing. Bagi Gus Abbas waktu itu, hubungan ulama pribumi dan ulama keturunan adalah satu kesatuan yang utuh, tidak boleh dipisahkan apalagi dipertentangkan.

Mengajak Jamaah Menjaga Cinta Kasih

Inti ceramah Gus Abbas waktu itu adalah perdamaian dan persaudaraan. Beliau selalu mengingatkan bahaya memecah belah umat. Beliau berkata:

"Jangan mau dihasut, jangan mau diadu domba. Ada orang yang sengaja ingin memisahkan kita dengan para Habaib. Katanya 'mereka ini begitu, mereka itu begini'. Jangan didengarkan! Itu akal-akalan orang yang tidak bertanggung jawab. Tetaplah cinta dan hormat, karena itulah ajaran Islam yang benar."

Singkatnya, 5 tahun lalu, Gus Abbas adalah pembela setia para Habaib, sangat memuliakan mereka, dan ilmunya masih murni bersih dari racun kebencian.

2. Sekarang: Gus Abbas yang Terkena "Amnesia", Berubah 180 Derajat

Sekarang mari kita lihat kenyataannya hari ini. Apa yang terjadi pada diri Gus Abbas? Perubahannya sungguh mengerikan dan membuat siapa saja yang dulu pernah mendengar ceramah beliau pasti akan bergumam: "Ini orang yang sama kah? Kok beda sekali? Seperti kena amnesia saja!"

Ya, istilah yang paling pas dan paling tepat untuk menggambarkan keadaan Gus Abbas sekarang adalah TERKENA AMNESIA.

Amnesia artinya lupa. Lupa masa lalu, lupa ajaran guru, lupa sejarah, lupa apa yang dulu beliau ajarkan sendiri, dan lupa siapa diri beliau sebenarnya.

Sekarang, lihat apa yang beliau lakukan dan katakan:

Berbalik Menyerang dan Menghina

Yang dulu beliau sebut "kemuliaan", sekarang beliau sebut "palsu". Yang dulu beliau sebut "nasab sahih", sekarang beliau sebut "rekayasa". Yang dulu beliau sebut "wajib dihormati", sekarang beliau sebut "orang yang harus dijauhi".

Beliau berani-beraninya menghina para Habaib, meragukan silsilah mereka, memutarbalikkan fakta sejarah yang dulu beliau sendiri yang sampaikan. Beliau lupa betul, lupa sekali, bahwa 5 tahun lalu mulutnya ini yang berkata sebaliknya. Seperti orang yang hilang ingatan, beliau menganggap apa yang dulu beliau ajarkan itu salah, padahal dulu beliau yang paling keras membelanya.

Melawan Ajaran Sendiri dan Ulama Besar

Dulu beliau mengutip Saykhona Kholil dan Hadrotusyaikh yang sangat hormat pada Habaib. Sekarang? Beliau justru melakukan hal yang bertentangan dengan mereka. Dulu beliau bilang "jangan diadu domba", sekarang beliau sendiri yang menjadi tukang adu domba.

Beliau seolah lupa bahwa para guru beliau, para pendiri pesantren, dan para ulama besar Cirebon sendiri, sangat bersahabat dan memuliakan Habaib. Amnesia yang diderita Gus Abbas ini sangat parah, sampai-sampai beliau lupa jejak langkah keilmuannya sendiri.

Menyebarkan Kebencian

Dulu ceramahnya menyejukkan, mengajak cinta kasih. Sekarang ceramahnya panas, penuh kebencian, penuh cacian, dan memecah belah. Beliau lupa bahwa mulut itu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diucapkan.

Perubahannya begitu total. Dulu Malaikat Pembela, Sekarang Jadi Pembenci. Dulu cerdas dan berakal sehat, sekarang seolah akalnya tertutup kabut kebencian yang tebal.

3. Mengapa Berubah? Bukti Bahwa Ini Bukan Ilmu, Tapi Pengaruh Buruk

Fakta besar bahwa 5 tahun lalu Gus Abbas sangat memuliakan Habaib, dan sekarang membenci mereka, adalah bukti paling nyata dan paling kuat bahwa sikap beliau sekarang bukanlah berdasar ilmu, bukan berdasar sejarah, dan bukan berdasar kebenaran.

Kalau itu ilmu yang benar, kalau itu kebenaran yang mutlak, mestinya sejak dulu beliau sudah begitu. Kalau dulu beliau sudah tahu "mereka palsu", masa beliau 5 tahun lalu memuliakan mereka? Itu tidak mungkin.

Artinya jelas sekali:

Perubahan sikap Gus Abbas bukan karena beliau menemukan kebenaran baru, melainkan karena beliau TERKENA PENGARUH BURUK, TERKENA RACUN KEBENCIAN, dan masuk ke dalam kubu orang-orang yang sakit hati seperti Kyai Imad dan Mukimad.

Akalmunya yang dulu sehat, sekarang sudah tidak sehat lagi karena tertutup oleh rasa benci. Beliau terkena penyakit "amnesia keilmuan", lupa apa yang benar dan apa yang salah. Beliau terbuai oleh bisikan-bisikan setan yang menyuruh membenci Ahlul Bait.

Sungguh kasihan melihat keadaan beliau. Dulu beliau menjadi panutan, dulu ceramahnya dicatat, dulu ilmunya dijadikan rujukan. Tapi sekarang, beliau menjadi bahan pembicaraan karena perubahannya yang aneh dan menyedihkan.

Penutup: Kembalilah Seperti Dulu, Gus...

Kenyataan rekaman ceramah 5 tahun lalu itu masih ada, masih tersimpan, dan tidak bisa dihapus. Itu saksi bisu betapa indah dan benarnya pemahaman Gus Abbas saat akalnya masih jernih dan normal.

Semoga Gus Abbas segera sadar dari "amnesia" yang dideritanya. Semoga kabut kebencian yang menutupi akal sehatnya segera hilang, dan beliau kembali menjadi Gus Abbas yang dulu kita kenal: Gus Abbas yang sangat memuliakan para Habaib, yang mencintai Ahlul Bait, dan yang ilmunya menyejukkan hati semua orang.

Karena sejatinya, apa yang beliau ucapkan 5 tahun lalu itulah kebenaran yang hakiki. Dan apa yang beliau ucapkan sekarang hanyalah kekeliruan akibat lupa dan terhasut hawa nafsu.

 

Kita rindu Gus Abbas yang dulu, yang akalnya sehat dan normal.