Gatot Nurmantyo Ungkap Alasan Dicopot Jokowi, Dia Ditendang Gara-gara Tak Nurut
Selasa, 5 Mei 2026
Faktakini.info, Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkap alasan dirinya diganti dari jabatan Panglima TNI sebelum memasuki masa pensiun.
Ia menyebut pergantian tersebut terjadi pada masa Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), saat dirinya menjabat Panglima TNI sejak 8 Juli 2015 hingga digantikan oleh Hadi Tjahjanto pada 8 Desember 2017, yang sebelumnya menjabat KSAU.
Hadi Tjahjanto kala itu menjadi satu-satunya calon yang diusulkan Jokowi untuk menggantikan Gatot.
Dalam sebuah pidato pada acara Milad ke-5 Partai Ummat di Kabupaten Sleman, DIY, Minggu (3/5/2026), Gatot membeberkan bahwa salah satu pemicu pergantiannya berkaitan dengan perbedaan sikap soal promosi perwira tinggi TNI.
Ia menyinggung pentingnya pembenahan politik, institusi negara, serta pemberantasan korupsi untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
Menurutnya, tanpa kepemimpinan yang bersih, Indonesia sulit “naik kelas”.
Gatot kemudian mengaku pernah diminta untuk menaikkan pangkat seorang perwira tinggi menjadi bintang tiga. Ia menegaskan melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap rekam jejak yang bersangkutan.
"Saya buka aja sekarang, biar Pak Jokowi marah. Ketika Pak Jokowi minta 'Pak Panglima, tolong dong ini naikkan (pati) bintang tiga. Saya periksa, nggak ada yang saya nggak periksa," kata Gatot.
Setelah melakukan evaluasi, Gatot menyebut dirinya melaporkan hasil penelusuran tersebut kepada Jokowi.
"Setelah berat badan turun enam kilogram, saya kasih lembaran (ke pati yang dimaksud) mau dilanjutkan atau tidak? Kalau kamu nggak mau, lapor lewat jalur mana bilang," jelasnya.
Ia juga menuturkan bahwa setelah berdiskusi, kenaikan pangkat tersebut akhirnya dibatalkan.
"Besoknya saya dipanggil (Jokowi), (Jokowi bilang) 'Pak Panglima, dia masih suka di sana', (Gatot menjawab) 'Oh iya pak, nggak apa-apa, bagus pak dia di sana aja. Nggak jadi naik bintang tiga dia," katanya.
Gatot menilai sikap selektifnya dalam promosi jabatan perwira tinggi menjadi salah satu faktor yang membuat dirinya kemudian diganti.
"Ya sudah ditendang lah saya karena nggak nurut (dengan Jokowi)," bebernya.
Lebih lanjut, Gatot menegaskan bahwa TNI adalah institusi besar yang sangat bergantung pada integritas pemimpinnya. Ia menyebut prajurit akan patuh pada komando, sehingga jika pemimpin tidak memiliki integritas, hal itu bisa berdampak berbahaya bagi negara.
"Tapi tidak bisa, TNI adalah institusi yang besar bukan karena besarnya. Dia tetap prajurit yang dilatih, dipersenjatai, diorganisir. Kalau pemimpinnya nggak benar, bahaya sekali. Apalagi di negara yang begitu kompleks," tuturnya.
