Dilaporkan 40 Ormas Islam: Nasibmu Ade Armando, Grace Natalie, dan Abu Janda Tinggal di Indonesia

 


Rabu, 6 Mei 2026

Faktakini.info

Nasibmu Ade Armando, Grace Natalie, dan Abu Janda Tinggal di Indonesia

Mana ni kader Partai Koptagul? Kita nonton saja ya..! Kisah Ade Armando, Grace Natalie, dan Abu Janda atau Permadi Arya dilaporkan ke polisi. Apakah ini benaran atau sekadar drama hukum? Simak narasinya sambil seruput cairan no sugar, wak!

Di negeri yang kalau sandal hilang bisa jadi bahan diskusi nasional, kali ini yang hilang bukan sandal, tapi “potongan video” yang mendadak berubah jadi drama berjilid-jilid. Persatuan Ormas Islam untuk Kerukunan Umat Beragama mengklaim membawa 40 organisasi dan ramai-ramai melaporkan Ade Armando, Grace Natalie, dan Permadi Arya ke Bareskrim Polri.

Penyebabnya? Sebuah potongan video ceramah Jusuf Kalla. Ya, potongan. Bukan utuh. Ibarat makan rendang tapi cuma dapat daun salamnya, lalu menyimpulkan itu masakan gagal. Diunggah di Cokro TV tanggal 9 April 2026 oleh Ade Armando, lalu disusul Permadi Arya tanggal 12 April, dan Grace Natalie tanggal 13 April. Tiga tanggal ini sekarang terasa seperti tanggal merah bagi logika publik.

Laporan ini resmi, lengkap dengan nomor LP/B/185/V/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI tertanggal 4 Mei 2026. Nomornya panjang sekali, sampai bisa jadi PIN ATM cadangan kalau yang utama lupa. Gurun Arisastra dari LBH Syarikat Islam/SEMMI tampil sebagai pelapor, membawa rombongan yang kalau difoto bareng bisa bikin spanduk acara reuni nasional.

Menurut Gurun, masalahnya bukan sekadar video, tapi “narasi”. Di negeri ini, narasi itu seperti sambal. Sedikit saja bisa bikin semua orang kepanasan. Video yang tidak utuh itu, katanya, membangun framing seolah-olah Pak JK bicara soal ajaran agama tertentu terkait syahid. Padahal versi utuhnya justru membahas kondisi psikologis masyarakat. Artinya, yang satu bicara hati, yang lain menangkapnya sebagai debat surga-neraka. Ini bukan salah paham biasa, ini salah paham level “baca judul, lalu merasa sudah jadi dosen tamu”.

Sekjen KAHMI, Syamsul Qomar, bilang ceramah itu dulu disampaikan di Maluku dan Poso untuk meredam konflik, bukan memancingnya. Tapi di era digital, niat damai bisa berubah jadi konten panas hanya karena dipotong seperti anggaran proyek. Yang tersisa cuma bagian yang bikin gaduh.

Perwakilan LBH Muhammadiyah, Gufron menegaskan, langkah ini demi menjaga kerukunan. Nah, di sini publik mulai garuk-garuk kepala sambil mikir, “Kerukunan ini dijaga pakai dialog atau pakai laporan polisi berjamaah?” Karena jujur saja, di negeri +62, kadang harmoni itu diukur dari seberapa cepat kita tersinggung dan seberapa sigap bikin laporan.

Sebelumnya, sudah ada pertemuan tokoh Islam, termasuk Din Syamsuddin, bersama JK pada 28 April. Sekitar 40 pimpinan ormas hadir. Pertemuan itu membahas polemik yang lagi-lagi berawal dari potongan ceramah. Ini seperti nonton film tapi cuma lihat trailernya, lalu bikin resensi sepanjang 10 halaman.

Sementara itu, tiga tokoh yang dilaporkan belum memberi keterangan. Mungkin mereka sedang menonton ulang video full version, atau mungkin sedang mencari potongan mana yang bikin negeri ini mendadak jadi forum debat nasional. Atau bisa jadi mereka sedang ngopi, menatap langit, dan bertanya, “Kenapa di negara ini, yang dipotong videonya, tapi yang panas se-Indonesia?”

Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan, di Indonesia, kebenaran itu bukan soal isi, tapi soal potongan mana yang viral duluan. Kalau 40 ormas bisa bergerak karena satu video yang tidak utuh, mungkin yang kita butuhkan bukan cuma literasi digital, tapi juga tombol “tonton sampai selesai sebelum emosi”.

Sayangnya, tombol itu belum tersedia. Mungkin masih dalam tahap pengkajian. Atau… sudah ada, tapi dipotong juga.

"Biasanya heboh dilaporan aja ni, Bang. Yang tersangka saja dibiarkan, apalagi sekadar dilaporkan."

"Hus, jangan remehkan 40 ormas, wak. Tapi, kita nonton jaklah sambil gelar tikar dan koptagul." Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM