BERSEMBUNYI DI BALIK LEMBAR KLARIFIKASI, DI SAAT DUNIA RELIGI PATI DINODAI

 

Senin, 11 Mei 2026

Faktakini.info

BERSEMBUNYI DI BALIK LEMBAR KLARIFIKASI, DI SAAT DUNIA RELIGI PATI DINODAI

Dunia religi di Kabupaten Pati sedang berduka hebat. Marwah pesantren yang selama ini menjadi benteng moral, luluh lantak oleh dugaan aksi bejat Kiai Asyhari (Ndolo Kusumo) terhadap puluhan santriwatinya. Namun, di tengah tangis pilu para korban yang mayoritas yatim piatu, kita menyaksikan sebuah ironi yang menjijikkan: Kemana perginya PWI-LS dan Laskar Sabilillah?

Organisasi yang selama ini gemar membusungkan dada dengan jargon "Pejuang Walisongo" dan "Membela Kiai Nusantara" itu mendadak kehilangan taring. Di saat dunia religi Pati dinodai oleh predator seksual berkedok agama, PWI-LS justru memilih jalan aman: Bersembunyi di balik lembar klarifikasi.

Gagah di Debat Nasab, Melempem di Kasus Cabul

Kita masih ingat betul betapa garangnya laskar ini saat mencekal pengajian atau mengawal isu nasab. Atribut mereka berkibar dengan bangga, kaos dan bendera organisasi dipamerkan seolah mereka adalah satu-satunya penjaga kesucian agama. Namun, fakta di lapangan saat demo besar-besaran di Pati berbicara lain. Tak satupun atribut PWI-LS terlihat. Tak ada laskar yang turun untuk mengawal korban. Tak ada suara lantang menuntut hukuman mati bagi pelaku.

Apakah keberanian mereka hanya muncul jika musuhnya adalah "lawan narasi"? Apakah laskar ini hanya bergerak jika ada panggung untuk pamer kekuasaan?

Klarifikasi: Tameng Pengecut?

Pernyataan resmi bahwa "pelaku bukan anggota" bukan sekadar klarifikasi administratif, melainkan sebuah bentuk lepas tangan yang nyata. Jika benar mereka pejuang marwah Walisongo, seharusnya mereka menjadi pihak yang paling murka ketika ada oknum kiai yang merusak citra pesantren. Namun, mereka justru sibuk menyelamatkan "muka" organisasi daripada menyelamatkan masa depan para korban.

Publik kini sadar, ada bau busuk standar ganda di sini. Mereka membisu seribu bahasa untuk seruan keadilan di Pati, namun bersuara menggelegar untuk urusan seremonial.

Kesimpulan Pahit

Hilangnya atribut PWI-LS dalam aksi massa di Pati adalah "sertifikat" bahwa ormas ini mungkin memang didirikan bukan untuk menyuarakan kebenaran universal, melainkan hanya sebagai alat kepentingan kelompok. Jangan bawa-bawa nama "Sabilillah" jika untuk membela kehormatan santriwati saja kalian memilih untuk membisu dan bersembunyi di balik kertas klarifikasi yang tak berjiwa.

Pati tidak butuh klarifikasi, Pati butuh aksi. Dan di titik ini, PWI-LS telah gagal total menunjukkan moralitasnya.