Ketika Iri dan Kedengkian Hati Sekte Imad terhadap Nasab Habaib Merusak Ketenangan Media Sosial
Sabtu, 11 April 2026
Faktakini.info, Jakarta - Di era media sosial saat ini, perdebatan keagamaan semakin mudah ditemukan. Podcast, kanal YouTube, hingga potongan video pendek sering menghadirkan diskusi yang berulang pada tema yang sama. Salah satu fenomena yang kerap terlihat adalah konten dari Sekte Imad bin Sarman PWI-LS cs (orang-orang gila nasab) yang terus-menerus membahas nasab Habaib, hingga terkesan menjadi obsesi yang sulit dilepaskan.
Imad cs tidak membuat konten yang positif seperti pentingnya sholat tepat waktu, manfaat berpuasa dan lainnya. Tetapi melulu hanya memikirkan Habaib yaitu para keturunan Nabi Muhammad SAW yang nasabnya sudah ijma', diakui seluruh ahli nasab dan naqobah seluruh dunia sejak beratus tahun lalu hingga kini. Sementara kelompok Imad juga mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, walaupun tidak mendapat pengakuan dari dunia.
Dalam perspektif akhlak Islam, para ulama sejak dahulu telah mengingatkan tentang bahaya hasad (kedengkian). Hasad kelompok Imad terhadap kemuliaan nasab para Habaib, bukan hanya merugikan orang yang menjadi sasaran, tetapi justru lebih dahulu mengganggu ketenangan batin pelakunya. Hati yang dipenuhi rasa tidak suka cenderung sulit merasa puas, mudah gelisah, dan terus memikirkan pihak yang menjadi objek perbandingan.
Fenomena ini dapat terlihat ketika Sekte Imad beserta para buzzer, youtuber dan team cybernya gencar membuat konten dengan topik yang sama — membahas, mengkritik, bahkan menyerang Habaib secara berulang dan terus menerus. Terkesan, mereka gelisah dan kepanasan sendiri. Energi pikiran mereka seakan terserap hanya pada satu isu. Akibatnya, ruang dialog berubah menjadi polemik tanpa akhir, dan fokus dakwah bergeser dari penyebaran nilai kebaikan menjadi perdebatan personal.
Secara psikologis, seseorang yang terlalu fokus pada konflik akan lebih mudah mengalami kelelahan mental. Yaitu dalam hal ini terjadi pada kelompok Imad, Abbas Tompel, Oma Irama, Sugeng Sugiharto dkk. Pikiran mereka terus aktif mencari bahan baru untuk mempertahankan narasi yang sama. Tidak jarang, hal ini memunculkan kesan kegelisahan yang berkepanjangan karena perhatian selalu tertuju pada pihak lain (Habaib), bukan pada ketenangan diri sendiri. Sudah seperti orang gila, Imad cs membahas, mengghibahi dan menyerang Habaib setiap hari, bahkan diduga sampai melupakan dan meninggalkan sholat dan ibadah, demi untuk fokus menyerang Habaib.
Sebaliknya, kelompok yang tidak larut dalam polemik, yaitu para Habaib sering tampak lebih santai menjalani aktivitasnya. Mereka tetap menjalankan kegiatan keagamaan, majelis ilmu, dan interaksi sosial tanpa harus terus menanggapi setiap kritik yang muncul. Apalagi acara maulid, ziarah, haul, tabligh akbar dan lainnya bersama Habaib tetap ramai dan sukses dimana-mana. Sikap Habaib ini mencerminkan prinsip klasik dalam tradisi ulama: menjaga hati lebih utama daripada memenangkan perdebatan.
Islam sendiri mengajarkan agar umat menjaga lisan dan hati dari ghibah serta permusuhan berkepanjangan. Rasulullah SAW menekankan pentingnya ukhuwah dan akhlak mulia, karena dakwah yang paling kuat bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling menenangkan jiwa.
Pada akhirnya, masyarakat sebagai penonton juga memiliki peran penting. Konten yang sering ditonton akan terus diproduksi. Jika yang dipilih adalah konten penuh konflik, maka konflik pula yang akan mendominasi ruang publik. Namun jika yang didukung adalah konten ilmu, akhlak, dan persatuan, maka suasana yang tercipta pun akan lebih damai.
Perbedaan pendapat memang tidak dapat dihindari. Namun perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan. Sebab hati yang tenang dan pikiran yang jernih jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam debat yang tidak pernah selesai.
