Di Balik Klaim Mayoritas Ulama Dan Ilmuwan Muslim Dari Persia: Kontribusi Bangsa Arab Tak Boleh Diabaikan
Di Balik Klaim Mayoritas Ulama Dan Ilmuwan Muslim Dari Persia: Kontribusi Bangsa Arab Tak Boleh Diabaikan
Oleh: Hamid Nabhan
Belakangan ini beredar sebuah foto yang memuat daftar nama ulama dan ilmuwan Muslim dengan klaim bahwa semua orang yang tercantum mayoritas berasal dari Persia, bukan Arab. Sehingga menyiratkan bangsa Arab tidak memiliki kontribusi yang signifikan dalam ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Padahal informasi seperti ini tidak sepenuhnya benar dan bisa menyesatkan, terlebih lagi Rasulullah Muhammad SAW sendiri adalah orang Arab dari suku Quraisy, yang menjadi utusan Allah dan sumber utama ajaran Islam yang kita anut hingga saat ini.
Beberapa nama yang ada di foto memang berasal dari wilayah Persia (Iran dan sekitarnya), seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Al-Ghazali, dan Al-Khawarizmi, namun ada juga nama yang sebenarnya bukan berasal dari Persia, seperti Imam Abu Hanifah yang lahir dan berkarya di wilayah Irak (bukan Persia), meskipun kakeknya berasal dari Kabul. Imam At-Thabari, Hasan Al-Basri, dan Ibnu Sirin juga berasal dari wilayah Irak (Arab). Lebih penting lagi, foto tersebut samasekali tidak menyebutkan kontribusi besar dari tokoh-tokoh Arab yang memiliki peran krusial dalam perkembangan agama dan ilmu pengetahuan. Para sahabat nabi yang berasal dari Bangsa Arab berperan penting dalam menyebarkan ajaran Islam dan turut menghimpun hadis. Contohnya Abu Hurairah yang menjadi pencatat hadis terbanyak dalam sejarah Islam, Anas Bin Malik, Abdullah Bin Umar yang keterangan hadisnya sangat dihormati--- semua berasal dari suku Arab Quraisy atau Yathrib. Tak hanya para sahabat beberapa ulama juga memberikan kontribusi besar seperti Imam Ahmad Bin Hambal yang berasal dari Arab Hijaz adalah pembuat kitab hadis besar musnad Imam Ahmad dan pendiri mazhab Hambali, sementara Syihab Al-Zuhri dari Arab Mekkah merupakan salah satu ulama hadis pertama yang menyusun materi hadis secara sistematis, dasar bagi perkembangan ilmu hadis selanjutnya.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, kontribusi Bangsa Arab juga tidak bisa diabaikan, Ibnu Khaldun yang berdarah Arab dikenal sebagai bapak sosiologi dan sejarah modern dengan karyanya 'Muqaddimah' yang menjadi rujukan global. Ibnu Al-Haitsam dari Iraq yang berasal dari keluarga Arab adalah bapak optika modern dan salah satu tokoh utama dalam kemajuan sains Islam. Al-Kindi, juga dari Irak (Arab) adalah filosof pertama yang berhasil menyebarkan pemikiran Yunani ke dunia Islam dan dijuluki sebagai "Filosof Arab". Al-Batani dari daerah Riharan di Irak yang berketurunan Arab adalah astronom besar yang karyanya dijadikan rujukan para ilmuwan Eropa selama berabad-abad.
Di era sekarang pun banyak tokoh Arab yang meraih penghargaan bergengsi seperti Nobel-- Ahmed Zewail dari Mesir meraih Hadiah Nobel dalam bidang kimia tahun 1999, Naguib Mahfouz dari Mesir menerima Hadiah Nobel dalam sastra tahun 1988 dan tak sedikit sastrawan-sastrawan Arab yang namanya mendunia. Selain itu Edward Said yang berasal dari Palestina dengan latar belakang keluarga Arab adalah seorang intelektual dunia, sarjana, dan aktivis yang sangat berpengaruh. Karyanya 'Orientalism' menjadi dasar pemikiran dalam studi poskolonial dan membuka wawasan baru tentang bagaimana dunia Barat memahami dan menyajikan dunia Timur Tengah serta budaya Arab. Bahkan sosok terkenal di dunia teknologi seperti Steve Jobs juga berdarah Arab dari kakeknya yang berasal dari Suriah, meskipun prestasinya sendiri bukan karena latar belakang keturunannya.
Di sini kita perlu memahami bahwa kontribusi dalam peradaban Islam bukan milik satu bangsa saja. Bangsa Persia memang memberikan sumbangan luar biasa dalam bidang ilmu agama, filsafat, dan kedokteran yang sangat berharga. Namun, bangsa Arab juga memiliki peran yang tak tergantikan, baik sebagai pelopor penyebaran ajaran Islam maupun sebagai pionir dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Kedua bangsa bahkan sering bekerja sama dalam mengembangkan peradaban Islam, sehingga tidak tepat untuk memisahkan atau merendahkan kontribusi salah satu pihak. Informasi yang hanya menyoroti satu sisi tanpa menyebutkan yang lain adalah setengah kebenaran (half true), dan orang perlu tahu bahwa hal semacam ini perlu kita koreksi dengan data faktual agar pemahaman kita tentang peradaban Islam menjadi lebih komprehensif dan sesuai dengan kenyataan sejarah.
Surabaya, 28 Maret 2026
