Tarim Habib Oleh: Dahlan Iskan

 


Senin, 16 Februari 2026

Faktakini.info

Tarim Habib
Oleh: Dahlan Iskan

Senin 16-02-2026

(Perkotaan dengan bangunan dari tanah)

Dari daerah manakah mahasiswa Indonesia terbanyak di Tarim? Tergantung siapa yang menjawab. Mahasiswa asal Lombok akan menjawab dari daerahnya. Yang asal Kalsel akan menjawab: dari Banjarmasin.

Yang dari Padang, Jambi, Jakarta, dan Solo, akan menjawab: yang terbanyak dari Kalsel.

Di hari pertama di Tarim saya memang serasa di Banjarmasin. Lobi apartemen saya penuh dengan orang yang bercakap dalam bahasa Banjar. "Pepadaan," kata saya dalam hati.

Kami pun serasa bertemu saudara sekampung. "Istri saya Galuh Banjar," kata saya kepada mereka.

Saya ingat masa nan lalu: hari-hari pertama saya sebagai perantau di Samerinda. Suguhan tamu di sana selalu teh susu manis. Manis sekali. Kue utamanya ontok-ontok --roti goreng. Oh... ternyata itu kebiasaan yang ditularkan dari Hadramaut. Persis.

Rasa teh susu di Tarim ini, rasa roti gorengnya: persis seperti teh susu di Kalsel/Kaltim masa lalu. Juga rasa ontok-ontoknya.

Pengaruh Tarim di Kalsel memang terasa sangat dalam. Pada cara ulamanya berpakaian. Pada cara suguhannya. Pun sikap keberagamaannya.

Hubungan Kalsel-Tarim-Hadramaut ternyata hubungan yang sangat dalam.

Tarim sangat "Islami". Hampir tidak pernah melihat wanita di jalan-jalan. Wanita harus di rumah.

Kalau di Saudi, Tarim adalah Buraidahnya. Di Indonesia adalah Acehnya --dalam bentuk yang lebih ketat.

Tarim pernah terpilih sebagai "ibu kota" kebudayaan Islam dunia.

Saya harus bertanya dulu ke Bung Mirza, sahabat Disway, apakah Aceh pernah mengajukan diri mendapat giliran menjadi "ibu kota kebudayaan Islam dunia". Pemilihan itu dilakukan setahun sekali.

Mungkin Martapura, di Kalsel, juga bisa mencalonkan diri. Atau jangan-jangan Martapura sudah berubah sejak rezeki batubara meluberkan kegilaan pada harta ke seluruh Kalsel.

Tarim memang punya kebanggaaan masa lalu. Dan itu selalu didengungkan. Misalnya di masa setelah Nabi Muhammad wafat: terjadi gelombang murtad di mana-mana. Tarim, saat itu, terkenal di dunia Islam sebagai yang nol gelombang murtadnya.

Sampai-sampai, kata orang Tarim, khalifah pertama setelah Nabi, Abubakar as-Shiddiq, secara khusus memanjatkan tiga doa untuk Tarim: punya air yang melimpah, jadi gudangnya ulama dan Tarim tidak akan hancur sampai kiamat seperti halnya Makkah dan Madinah.

Kini, banyaknya air di Tarim --yang harusnya kering kerontang-- sering dihubungkan sebagai berkah doa Abubakar itu. Pun banyaknya ulama di sana. Jangan-jangan banyaknya habib bermunculan di Tarim masih terkait dengan doa itu.

Yang jelas letak Tarim memang di lembah yang amat dalam di antara gunung-gunung tanah di sekitarnya.

--

Di saat hujan gunung tanah itu menyimpan air. Pelan-pelan meresap ke bawah. Ke lembah. Jadi cadangan air yang besar.Itu tidak hanya di Tarim. Pun sampai di Wadi Doan, yang posisinya juga di lembah yang sangat dalam. Air melimpah di mana-mana.

Lalu soal banyaknya habib. "Waktu pulang ke Indonesia saya bingung. Saya ditanya soal perhabiban di Tarim. Saya tidak bisa menjawab," ujar Syahrul Ramadhan, mahasiswa asal Indramayu.

"Saya jawab saja bahwa saya tidak tahu," kata Syahrul.

Kenapa tidak tahu? "Di Tarim tidak ada perdebatan soal apakah habib itu keturunan Nabi atau bukan," katanya.

Di Tarim memang banyak ulama dipanggil habib. Masyarakat percaya Habib itu keturunan Nabi. Tapi bahwa ulama itu dipanggil habib bukan hanya karena keturunan Nabi. Ia dipanggil habib karena keilmuan yang tinggi dan perannya yang besar di masyarakat sekitar.

Saya pun bertanya kepada sahabat Disway di Tarim, yang asli orang Tarim:

"Apakah di sini ada keturunan Nabi yang tidak dipanggil habib?"

"Banyak. Biar pun keturunan Nabi tapi kalau ilmunya tidak tinggi tidak akan dipanggil habib," jawab teman Tarim saya itu.

"Anda sendiri keturunan Nabi?" "Bukan. Saya keturunan sahabat Nabi," jawabnya.

"Dari mana seseorang tahu keturunan Nabi atau bukan?"

"Dari silsilah. Di masyarakat Arab ini silsilah itu diceritakan dari kakek ke ayah, ke anak, ke cucu. Ada catatannya. Ada disiplin ilmu nasab di sini," katanya.

Misalnya ada pedagang besar yang keturunan Nabi di Hadramaut. Namanya sangat terkenal. Tapi tidak dipanggil habib karena dianggap bukan ulama tinggi. Mereka dipanggil sayyid. Pokoknya yang tidak memenuhi tiga unsur tadi tidak dipanggil habib: ilmu yang tinggi, punya silsilah dan punya peran besar dalam membantu masyarakat sekitar.

"Di Tarim tidak ada orang yang minta dipanggil habib. Orang-lah yang memanggil beliau habib. Yakni setelah dilihat memiliki tiga syarat tadi", katanya.

Di Indonesia memang salah kaprah. Pokok wajahnya seperti Arab dipanggil habib. Bahkan saya sendiri memanggil mantan pemain sepak bola berdarah Arab dengan panggilan habib. Dan yang saya panggil habib juga menoleh.

Asal mula ada panggilan habib, katanya, justru dari peran sosial ulama itu sendiri yang sangat besar. Peran sosial itulah yang membuat ulama tersebut dicintai masyarakat. Lalu masyarakat memanggilnya habib --artinya: yang kami sayangi.

Yang jelas di struktur masyarakat Tarim ada empat level: yang tertinggi habib. Level kedua sayyid. Level ketiga dosen, guru, pedagang besar. Level empat orang biasa.

Semua level itu menjalankan syariat Islam yang ketat. Di Tarim rumah tangga adalah pondok. Masjid adalah pondok. Sekolah adalah pondok. Pondok sendiri apalagi.

Saya sengaja tidak menelusuri lebih dalam soal perhabiban ini. Saya pilih ke tempat pembuatan "bata" dari tanah. Agak di pinggir kota Tarim. Ziarah bata.

(Para pekerja pembuat batu bata di Tarim, Yaman)

Prosesnya hampir sama dengan di masa kecil saya. Tanah diaduk dengan air. Dijadikan setengah lempung. Bedanya, di Tarim, diberi bahan tambahan: cacahan batang gandum. Diaduk jadi satu.

Cetakan batanya juga mirip: pakai kayu. Di masa kecil saya satu cetakan berisi empat bata. Di Tarim satu cetakan dua bata. Bata di Jawa ukurannya kecil: sekitar 10 x 20 cm. Di Tarim ukurannya: 25 x 50 cm. Lebar-lebar. Hanya saja tipis. Separo ketebalan bata di Jawa.

(Pembuatan batu bata di Tarim, Yaman)

Bedanya lagi: di Jawa bata itu dibakar selama dua harmal. Sampai warnanya merah. Keras.

Di Tarim, hanya dijemur sampai kering. Cara menjemurnya agak mirip. Awalnya bata basah dicetak di permukaan tanah. Setelah agak kering diungkit. Lalu dimiringkan. Sampai kering. Selesai. Langsung dipakai.

(Proses pengeringan bata tanah yang dikeringkan)

Maka tembok bangunan di Tarim tebal-tebal. Tebalnya selebar bata tanah itu. Setelah jadi rumah musuhnya hanya satu: banjir. Langsung roboh.

Kalau hujan saja tidak apa-apa. Di sana jarang sekali hujan. Sekali hujan hanya sedikit menggerus tembok tanah itu.

Maka jangan membangun di aliran banjir. Daerah banjir juga sudah ditandai: jangan membangun di situ.Tentu kian tahun tembok itu kian tergerus. Untuk itu lima tahun sekali harus ditambal. Dirawat. Lalu dicat putih. Cat ala Tarim bukan cat kimia. ”Cat” putih itu terbuat dari batu yang dihancurkan.

Saya juga mendatangi ”pabrik” cat putih itu. Tumpukan batu dibakar selama 70 jam. Membakarnya pakai pelepah kurma kering. Setelah dipanaskan itu batu dihancurkan jadi tepung. Dimasukkan bejana besar. Lalu dicampur air. Diaduk terus menerus dengan alat aduk yang digerakkan listrik. Seperti mengaduk tepung untuk roti. Diaduk terus sampai 12 jam. Jadilah ”cat putih”.

Waini sudah ada pabrik semen di Hadramaut. Lima jam dari Tarim. Maka di daerah-daerah banjir pun kini berdiri rumah. Hanya bahannya dari semen.

Rasanya, kelak, gelombang semenisasi akan menggantikan yang serbatanah itu. Modernisasi akan sampai juga ke Tarim. Pada saatnya.(Dahlan Iskan)

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/930075/tarim-habib

Informasi Mojokerto dan sekitarnya 
Klik...
https://mojokerto.disway.id/news/read/7981/tiga-ide-usaha-ternak-rumahan-dengan-modal-rp-500000