Q&A: Membongkar Standar Ganda Sekte Imad & Keruntuhan Nalarnya (Versi Santai tapi Ngena)
Kamis, 5 Februari 2026
Faktakini.info
Q&A: Membongkar Standar Ganda Sekte Imad PWI-LS (Pembenci Habaib) & Keruntuhan Nalarnya (Versi Santai tapi Ngena)
Q1: Kenapa mereka keras menolak karomah para wali?
A: Bukan karena dalil, tapi karena subjeknya bukan dari kelompok sendiri. Kalau wali Aswaja → “khurafat”. Kalau tokoh internal (Mama Ghufron, Yusuf Mubarok "Jibril Turunkan Uang" dll. Yusuf Mubarok mertua dari Aziz Jazuli yang kerap mengolok-olok karomah Habaib)→ “masyaAllah”. Ini namanya bias afiliasi, bukan tauhid.
Q2: Tapi katanya mereka paling rasional dan ilmiah?
A: Rasional itu konsisten. Kalau semua klaim luar biasa ditolak, ya semuanya. Faktanya: yang luar ditolak, yang dalam ditelan. Itu iman selektif, bukan rasionalisme.
Q3: Kenapa fitnah lama diulang-ulang terus?
A: Itu gejala obsessive rumination (psikologi sosial): otak masuk loop. Bukan mencari kebenaran, tapi menenangkan emosi sendiri.
Q4: Kenapa setiap dibantah, jawabannya makin panjang dan emosional?
A: Karena narasi runtuh lebih cepat daripada emosi. Saat argumen habis, emosi naik panggung. Ini pola klasik debat ideologis.
Q5: Kok bisa merasa paling paham nasab, tapi menolak ijma’ ulama dunia?
A: Ini grandiose ideation non-klinis: rasa percaya diri melambung, kompetensi tertinggal. Fenomena “merasa paling tahu” saat rujukan nol.
Q6: Mengapa semua orang akhirnya dianggap musuh?
A: Itu paranoia ideologis: dunia disederhanakan jadi “kami vs mereka”. Lebih nyaman daripada mengakui narasi sendiri tidak laku.
Q7: Apakah ini berarti mereka jahat?
A: Tidak perlu asumsi moral. Secara ilmiah, ini krisis narasi. Ketika realitas tidak sesuai harapan, sebagian orang menggandakan keyakinan, bukan mengevaluasi.
Q8: Kenapa serangan ke habaib tidak pernah berhasil?
A: Karena yang diserang berdiri di atas sanad, ijma’, dan praktik umat. Narasi tanpa basis sosial biasanya habis oleh waktu.
Q9: Jadi siapa yang sebenarnya “lelah”?
A: Bukan yang diserang. Yang lelah adalah narasi kebencian—karena ia makan energi tanpa memberi hasil.
Q10: Kesimpulan ringkasnya?
A:
Menolak karomah wali tapi memercayai “karomah” internal = standar ganda.
Mengaku rasional tapi inkonsisten = iman sektarian.
Mengaku ilmiah tapi anti-ijma’ = krisis metodologi.
Yang berdiri di atas sejarah akan tenang.
Yang berdiri di atas kebencian akan capek sendiri.
