Perang Salib: Siapa Menyerang Siapa?

 


Senin, 12 Januari 2026

Faktakini.info

Copas

Perang Salib 


Beberapa orang DM saya untuk mengangkat kembali sejarah tentang Perang Salib dengan narasi versi saya di Facebook ini. 


Namun, menurut saya, sejarah Perang Salib itu memiliki bab-bab yang sangat panjang jika ingin diulas secara detail sesuai fakta sejarah, tentunya dari sumber-sumber yang valid dan kredibel, netral dan objektif.


Namun, untuk menjawab permintaan itu, saya ulas secara singkat saja.


Apa itu Perang Salib?


Apa faktor yang melatarbelakangi Perang Salib?


Siapa yang memulai mengajak (membuka) peperangan itu lebih dulu?


Perang Salib adalah rangkaian perang besar antara dunia Kristen Eropa Barat dan dunia Islam yang berlangsung kira-kira abad ke-11 hingga ke-13 Masehi (±1095–1291 M).


Istilah Crusade berasal dari kata crux (salib), karena para prajurit Kristen memakai tanda salib sebagai simbol perjuangan mereka.


1. Latar Belakang Utama


a. Faktor Agama

Kota Yerusalem dianggap suci oleh Kristen (tempat Yesus).


Islam (Masjid Al-Aqsha, Isra Mi’raj), Yahudi.


Paus Urbanus II (1095 M) menyerukan perang untuk: “Membebaskan Tanah Suci dari tangan kaum Muslim.”


Perang ini dijanjikan sebagai perang suci; dosa diampuni bagi yang ikut.


b. Faktor Politik


Kekaisaran Bizantium terdesak oleh Turki Seljuk dan meminta bantuan Eropa Barat. Paus ingin memperkuat pengaruh Gereja atas raja-raja Eropa.


c. Faktor Ekonomi & Sosial


Bangsawan miskin mencari tanah dan kekayaan. Pedagang Eropa (Venesia, Genoa) ingin menguasai jalur dagang Timur.


2. Siapa Melawan Siapa?


Pihak Kristen:

Kerajaan-kerajaan Eropa Barat. Dipimpin raja, bangsawan, dan Paus.


Pihak Muslim:

Awalnya terpecah (Seljuk, Fatimiyah). Kemudian bersatu di bawah tokoh seperti Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki, dan Shalahuddin Al-Ayyubi.


3. Berapa Kali Perang Salib?


Secara umum dikenal 8–9 kali Perang Salib besar, yang paling terkenal:

 Perang Salib I (1096–1099): Kristen merebut Yerusalem. Terjadi pembantaian besar terhadap Muslim dan Yahudi.


Perang Salib III (1189–1192)


Tokoh besar:

— Shalahuddin Al-Ayyubi (Muslim)

— Richard the Lionheart (Kristen)


Yerusalem direbut kembali oleh Muslim, tapi peziarah Kristen diizinkan masuk.


—  Perang Salib IV (1204)


Ironis: Pasukan Salib justru menjarah Konstantinopel (Kristen sendiri).


Membuktikan bahwa motif politik dan ekonomi lebih dominan daripada agama.


4. Bagaimana Islam Memandang Perang Salib?


Dalam sejarah Islam disebut sebagai serangan agresi asing. Muslim awalnya tidak menyebutnya 'Perang Salib', hanya sebagai serangan bangsa Franj (Frank). Baru kemudian disadari sebagai konflik lintas peradaban.


Tokoh seperti Shalahuddin dikenang karena ksatria, tjdak membalas pembantaian, menjaga tempat suci dan penduduk sipil.


5. Dampak Perang Salib


Bagi Dunia Islam:

Kerusakan besar di Syam dan Palestina. Tapi juga memicu persatuan politik dan militer.


Bagi Eropa:

Pengetahuan Islam masuk ke Eropa: Kedokteran, Matematika, dan Filsafat, jadi salah satu jalan menuju Renaisans.


Bagi Hubungan Islam–Kristen Perang Salib menyisakan luka sejarah panjang yang masih terasa hingga kini.


Singkatnya, Perang Salib bukan sekadar perang agama. Akan tetapi adalah percampuran agama, kekuasaan, ekonomi, dan ambisi manusia yang dibungkus simbol suci.


Siapa yang Memulai Peperangan?


Catatan sejarah valid dan meyakinkan Perang Salib dimulai oleh pihak Kristen Eropa Barat, bukan pihak Islam.


1. Titik Awal yang Jelas (1095 M)


Pemicu resmi Perang Salib adalah seruan Paus Urbanus II pada Konsili Clermont (1095 M).


Dia secara terbuka menyerukan perang, mengajak bangsa Eropa mengangkat senjata,

menjanjikan pengampunan dosa, dan mengarahkan pasukan ke wilayah Muslim di Timur.


Ini adalah deklarasi perang dari pihak Kristen, bukan reaksi spontan Muslim.


2. Kondisi Dunia Islam Sebelum Perang Salib


Yerusalem berada di bawah kekuasaan Muslim sejak 638 M (masa Umar bin Khattab).


Selama ratusan tahun, peziarah Kristen tetap diizinkan masuk, gereja-gereja tidak dihancurkan, tidak ada agresi militer Muslim ke Eropa Barat terkait Yerusalem.


Artinya:

Tidak ada invasi Islam ke Eropa Barat yang memicu Perang Salib. Perang Salib diciptakan oleh pihak Kristen sendiri (fakta sejarah).


3. Argumen “Kristen Diserang Lebih Dulu” — Perlu Diluruskan


Sering diklaim:

“Perang Salib adalah balasan atas ekspansi Islam.”


Secara sejarah:

Ekspansi Islam (abad 7–8) terjadi 400 tahun sebelum Perang Salib. Jadi, tidak ada hubungan langsung, kronologis, atau militer antara penaklukan Islam awal dengan seruan Paus tahun 1095.


Para sejarawan modern sepakat bahwa ini: Justifikasi ideologis belakangan, bukan sebab nyata.


4. Fakta Lapangan Perang Salib I


Ketika pasukan Salib tiba:


Mereka menyerang kota-kota Muslim:

— Nicea,

— Antioch,

— Yerusalem.


Tahun 1099, terjadi pembantaian massal penduduk Muslim & Yahudi di Yerusalem oleh Kristen.


Semua ini: ๐Ÿ‘‰ inisiatif ofensif, bukan defensif.


5. Perspektif Sejarawan (Ringkas)


Thomas Asbridge:

Perang Salib adalah agresi religius-politik dari Eropa Latin.


Karen Armstrong:

Dunia Islam awalnya bahkan tidak memahami apa itu “Perang Salib”.


Jadi:


1. Pihak Kristen Eropa Barat yang memulai Perang Salib.


2. Dunia Islam berada dalam posisi diserang, bukan menyerang.


=> Klaim sebaliknya tidak didukung bukti sejarah primer.


Sumber-sumber kronik Kristen sendiri (Latin & Eropa Barat) yang secara eksplisit mengakui bahwa pihak Kristen-lah yang memulai Perang Salib, bukan sebagai perang defensif, melainkan seruan agresif religius.


Saya sertakan kutipan inti + konteksnya, agar jelas dan tidak ditafsirkan sepihak:


1. Fulcher of Chartres (†1127)

— Saksi mata & peserta Perang Salib I

— Imam Kristen, penulis kronik resmi


Karyanya:

Gesta Francorum Iherusalem Peregrinantium

(Sejarah perjalanan orang Frank ke Yerusalem)


Kutipan kunci:

“At the instigation of Pope Urban, the Franks took up the cross and marched to Jerusalem to free the land from the enemies of Christ.”


Terjemahan maknawi:

“Atas dorongan Paus Urbanus, bangsa Frank mengangkat salib dan berangkat menuju Yerusalem untuk merebut negeri itu dari musuh-musuh Kristus.”


Catatan penting:

Tidak disebut 'membela diri'.

Tidak disebut 'diserang lebih dulu'.


Jelas: inisiatif Paus —> ekspedisi militer keluar wilayah Kristen.


2. Robert the Monk (Robertus Monachus) – abad ke-12


Penulis Kristen yang menuliskan ulang pidato Paus Urban II.


Karyanya:

Historia Iherosolimitana


Pidato Paus Urban II (versi Robert):

“Deus vult! It is the will of God that you hasten to expel that vile race from our lands.”


Terjemahan:

“Ini kehendak Tuhan! Bergegaslah mengusir bangsa yang hina itu dari negeri kami.”


Masalah fatal klaim defensif:

“negeri kami” = Timur Tengah, bukan Eropa. Padahal wilayah itu tidak pernah menjadi milik Kristen Latin.


Artinya:

Ini klaim penaklukan, bukan pembelaan


3. Guibert of Nogent (†1124)


Abbas & teolog Kristen


Karyanya:

Gesta Dei per Francos

(“Perbuatan Tuhan melalui bangsa Frank”)


Kutipan penting:

“God had chosen the Franks to restore Christianity by force of arms.”


Terjemahan:

“Tuhan memilih bangsa Frank untuk memulihkan Kristen melalui kekuatan senjata.”


Ini pengakuan terbuka bahwa: Kekerasan adalah alat, Restorasi dilakukan dengan perang ofensif.


4. William of Tyre (†1186)


Uskup Kristen, sejarawan utama Perang Salib


Karyanya:

Historia rerum in partibus transmarinis gestarum


Pengakuan jujurnya:

“Moved by zeal rather than necessity, the princes of the West undertook the expedition.”


Terjemahan:

“Didorong oleh semangat keagamaan, bukan oleh kebutuhan darurat, para pangeran Barat menjalankan ekspedisi ini.”


๐Ÿ‘‰“bukan kebutuhan darurat” = bukan perang bertahan hidup.


5. Anna Komnene (Kristen Bizantium, bukan Muslim)


 Putri Kaisar Bizantium


Kristen Timur, bukan Islam


Karyanya:

Alexiad


Kesaksiannya:

“The Frankish crusaders came not as guests, but as conquerors.”


Terjemahan:

“Pasukan Frank datang bukan sebagai tamu, tetapi sebagai penakluk.”


Bahkan sesama Kristen pun melihat mereka sebagai agresor.


Kesimpulan Akademik yang Tidak Bisa Dibantah


Dari kronik Kristen sendiri, kita dapati fakta konsisten:


1. Perang Salib dimulai oleh seruan Paus

2. Pasukan Kristen menyerang wilayah Muslim

3. Tidak ada narasi “diserang dulu”

4. Motifnya religius + politik + ekspansi


๐Ÿ‘‰ Tidak satu pun kronik Kristen awal menyebut Perang Salib sebagai perang mempertahankan diri (defensif), tapi pelaku penyerangan.


Jika kronik Kristen sendiri mengakui bahwa perang ini dimulai oleh mereka, maka menyalahkan Islam adalah distorsi sejarah, bukan kajian ilmiah.