Fitnah Sekte Imad terhadap Ahlul Bait: Hasad Busuk yang Menghantarkan pada Kehancuran Akidah

 


Sabtu, 24 Januari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Apa yang dilakukan Imaduddin bin Sarmana bin Arsa bersama Abbas Tompel, Sugeng Chiben, dan jaringan PWI-LS bukan lagi kesalahan berpikir atau kekeliruan metodologi. Ini adalah hasad terbuka terhadap dzurriyah Rasulullah SAW yang telah berubah menjadi permusuhan ideologis terhadap kehormatan Nabi Muhammad SAW sendiri.

Fitnah nasab terhadap Habaib tidak lahir dari penelitian, melainkan dari ambisi identitas yang gagal total. Ketika klaim pribadi sebagai keturunan Walisongo dan Nabi Muhammad SAW runtuh tanpa satu pun bukti sah—tanpa sanad, tanpa dokumen, tanpa pengakuan lembaga nasab resmi—yang muncul bukan taubat, melainkan kemarahan dan kebencian.

Di sinilah persoalan menjadi sangat serius:

ketika kegagalan pribadi dilampiaskan dengan menghina, mencaci, dan memfitnah cucu-cucu Nabi Muhammad SAW, maka yang diserang bukan sekadar manusia, tetapi kehormatan Rasulullah itu sendiri.

Ini Bukan Khilafiyah, Ini Pelanggaran Berat Akidah

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah sepakat tanpa khilaf bahwa menyakiti Ahlul Bait adalah dosa besar.

Imam An-Nawawi menegaskan:

“Menyakiti Ahlul Bait Nabi adalah keharaman yang nyata dan termasuk dosa besar.”

(Syarh Shahih Muslim)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata tegas:

“Jika engkau melihat seseorang merendahkan Ahlul Bait Nabi, maka curigailah agamanya.”

Imam As-Suyuthi menulis:

“Orang yang menyakiti dzurriyah Nabi telah membuka pintu kehancuran bagi dirinya sendiri.”

Kaidah fiqih menyatakan:

من آذى أهل بيت النبي فقد آذى النبي “Barang siapa menyakiti Ahlul Bait Nabi, maka sungguh ia telah menyakiti Nabi.”

Dan Rasulullah SAW bersabda:

“Fatimah adalah bagian dariku. Siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat: hukum ini berlaku bagi seluruh dzurriyah beliau.

Hasad yang Tidak Lagi Bisa Disembuhkan Kecuali Taubat

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut hasad sebagai:

“Penyakit hati yang memakan iman sebagaimana api memakan kayu.”

Hasad Imad cs bukan hasad pasif, tetapi hasad aktif: menyerang, memprovokasi, memfitnah, dan membangun kebencian publik. Dalam fiqih akhlak, ini disebut hasad murakkab—dengki yang telah berubah menjadi kezaliman lisan dan ideologis.

Penyakit ini tidak memiliki obat kecuali:

Penghentian total fitnah

Taubat terbuka

Menarik seluruh tuduhan terhadap Ahlul Bait

Tanpa itu, hasad hanya akan makin membusuk dan menyeret pelakunya dari kesalahan ilmiah menuju kehancuran iman.

Fitnah Nasab: Jalan Menuju Murka, Bukan Kemuliaan

Nasab tidak ditentukan oleh teriakan, kemarahan, atau agitasi media sosial. Nasab ditetapkan oleh sanad, ilmu, adab, dan pengakuan ulama. Dzurriyah Rasulullah SAW telah diakui lintas abad, lintas mazhab, dan lintas negeri oleh naqobah asyraf resmi dunia.

Fitnah terhadap mereka tidak akan meruntuhkan nasab itu—tetapi akan meruntuhkan pelaku fitnahnya sendiri.

Sejarah Islam mencatat dengan jelas:

tidak ada satu pun kelompok yang memusuhi Ahlul Bait kecuali berakhir dengan kehinaan moral dan kebangkrutan akidah.

Penutup: Diamnya Fitnah Setelah Kematian, Kesaksiannya Kekal

Fitnah boleh ribut selama pelakunya hidup. Tetapi setelah mulut terkubur, yang berbicara adalah amal dan dosa. Dan dosa menyakiti Ahlul Bait bukan dosa ringan.

Karena itu, umat Islam wajib bersikap tegas:

fitnah terhadap Habaib bukan kritik, bukan kajian, bukan keberanian—melainkan kedengkian yang menabrak batas iman.

Dan di hadapan Rasulullah SAW kelak, tidak ada pembelaan bagi orang yang hidupnya dihabiskan untuk menyakiti cucu-cucunya.