Diskusi Ilmiah Dinilai Jalan Terbaik Redam Polemik Tabarruk Makam, Tapi Wahabi Takut Semua Lawan Gus Wafi

 


Jum'at, 30 Januari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Wacana diskusi ilmiah secara langsung kembali mengemuka di tengah polemik tabarruk di makam Nabi dan para shalihin. Sejumlah kalangan menilai dialog terbuka antartokoh berilmu jauh lebih sehat dibanding perdebatan sepihak melalui potongan video di media sosial yang kerap memicu salah paham dan sentimen emosional publik.

Pandangan ini menguat setelah beredarnya konten diskusi ilmiah antara Gus Ajir dan Ustadz Faris Baswedan yang dinilai menghadirkan adab, ketenangan, serta argumentasi berbasis dalil. Banyak pihak menilai, diskusi semacam ini menjadi contoh edukasi moral yang baik bagi masyarakat, sekaligus menepis kesan bahwa perbedaan pandangan harus selalu berujung pada kegaduhan.

Dalam konteks polemik tabarruk, masyarakat disebut telah lama terframing seolah-olah seluruh riwayat yang diamalkan kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bermasalah dan harus ditolak. Bahkan muncul narasi bahwa para salaf tidak pernah bertabarruk ke makam Nabi dan orang-orang shalih, serta klaim bahwa mazhab Hanbali—dan bahkan empat mazhab—melarang praktik tersebut. Narasi ini dinilai menyederhanakan persoalan khilafiyah fiqih yang sesungguhnya memiliki spektrum pendapat luas di kalangan ulama.

Ustadz Ahmad Ubaidillah sebelumnya mengangkat sedikitnya tiga diskursus: (1) praktik tabarruk para sahabat, (2) pandangan Imam Ahmad bin Hanbal terkait tabarruk, dan (3) sikap empat mazhab terhadap tabarruk di makam shalihin. Namun, setelah tanggapan disampaikan oleh Ustadz Faris Baswedan, Ustadz Ahmad Ubaidillah menyatakan akan memfokuskan pembahasan pada aspek hadis—sanad dan rijal—seraya menunda pembahasan fiqih mazhab yang semula ia inisiasi.

Sejumlah pengamat keislaman menilai, pergeseran fokus tersebut memperlihatkan pentingnya forum dialog langsung agar seluruh cabang pembahasan—hadis dan fiqih mazhab—dapat diuji secara adil dan seimbang. “Dialog antarsesama orang berilmu akan jauh lebih terhormat dan mencerahkan dibanding monolog di media sosial yang seringkali memicu kebingungan umat,” ujar seorang pemerhati kajian fiqih.

Di sisi lain, sorotan juga diarahkan pada sebagian kalangan yang selama ini dikenal vokal di media sosial—sering dilabeli publik sebagai kelompok Wahabi—yang kerap melontarkan hinaan terhadap amaliah Aswaja. Namun, menurut penilaian sejumlah pihak, ketika diajak duduk bersama dalam diskusi ilmiah terbuka, ajakan tersebut kerap tidak direspons. Fenomena ini dinilai sebagai indikasi kehati-hatian berlebih atau kekhawatiran berhadapan dengan argumentasi fiqih dan rujukan ulama lintas mazhab yang kuat dan terdokumentasi.

Bagi banyak kalangan, inisiatif diskusi langsung antara Gus Wafi dan Ustadz Ahmad Ubaidillah dipandang sebagai langkah terbaik untuk meredam polemik berkepanjangan. Selain menjaga adab sesama Muslim, dialog ilmiah terbuka diyakini mampu mengembalikan perbedaan pada koridor keilmuan, bukan saling serang di ruang publik digital.