TERKAIT SALIB DI BUNDARAN HI, RIZAL FADILLAH: KELOMPOK AGAMA HARUS BERGERAK
Jum'at, 30 Oktober 2026
Faktakini.info
KELOMPOK AGAMA HARUS BERGERAK
by M Rizal Fadillah
Aksi mahasiswa berbagai Perguruan Tinggi 28 Oktober 2026 yang mengkritisi pemerintahan Prabowo Gibran di area Bunderan HI Jakarta sangatlah menarik. Di samping berbagai spanduk aspirasi dan tuntutan di antaranya "Prabowo Gibran Gagal Total, Kami Muak, 2 Tahun Cukup, 5 Tahun Mematikan", juga terlihat tiang salib merah tinggi teracung di antara kerumunan aksi. Simbol agama kristiani tentang nilai penderitaan itu turut memberi warna.
Kita tidak perlu menafsirkan usungan tiang salib tersebut dengan persepsi beragam tetapi ambil nilai konstruktifnya, yaitu agama yang mulai menyertai aksi perjuangan atau perlawanan atas ketidakjujuran dan ketidakadilan. Mungkin ada komunitas mahasiswa kristen manjadi bagian dalam aksi, dan tentu saja banyak pula mahasiswa muslim atau lainnya.
Agama Kekuatan Perubahan dan Perlawanan
Agama adalah induk dari nilai moralitas, etika, bahkan hukum. Semua agama berbicara tentang seruan kebaikan dan mencegah keburukan serta menindak kejahatan. Nilai spiritualias yang dikembangkan bertujuan untuk baiknya kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik atau lainnya. Agama melawan berbagai kebohongan, pengkhianatan, kesewenang-wenangan, dan penindasan. Mengubah keadaan yang serba kacau menjadi harmoni.
Islam Agama Perjuangan
Agama Islam di samping mengajarkan umatnya untuk menyeru juga berjuang. Konsepsi amar ma'ruf nahi munkar dan jihad fie sabilillah menjadi nilai dinamik dari agama ini. Tidak sempurna memahami dan menjalankan ajaran agama tanpa berda'wah dan berjihad. Keduanya melekat pada diri kemusliman setiap orang. Qur'an dan Sunnah memberi tuntunan. Bagi jalan kemulyaan di dunia saat ini maupun di akherat nanti. Perjuangan itu mulai dari do'a, bicara, bekerja nyata, hingga berperang di medan laga.
Unat Islam Harus Bergerak
Persoalan bangsa yang multi dimensional telah sampai pada titik kritis. KKN yang dulu menjadi magnet perubahan kini kembali terjadi. Bahkan brutal sekali. Alih-alih hukum mati pelaku korupsi malah fasilitasi dilakukan tanpa sungkan lagi, kolusi tidak pakai basa-basi dan politik dinasti dianggap tradisi. Pengkhianatan dan jual aset negeri dimaklumi sebagai bagian investasi. Agama dipinggirkan, penodaan tidak berujung sanksi. Kesenjangan kaya dan miskin semakin tinggi. Pengangguran disana-sini, sungguh ngeri dan menyayat hati.
Pemerintahan Prabowo Gibran gagal dan simbol keagamaan yang terangkat adalah sinyal bahwa umat Islam pun harus segera bergerak. Peduli dan bertindak. Nilai moral dan etika sudah semakin diinjak-injak.
Kyai, ulama, santri, da'i, habaib, serta kader-kader organisasi Islam harus meningkatkan kepekaan dan semakin cepat melangkah ke tengah kancah. Tinggalkan peraduan dan segera kibar geleparkan panji-panji. Jangan hanya menanti, karena diam berarti mati.
Rekonstruksi, reformasi, atau revolusi adalah jalan perbaikan negeri.
Pengelola negara sudah terjebak oleh halusinasi hawa nafsu dan benar sendiri.
Tidak mau lagi dengar aspirasi dan ayat-ayat suci.
Kelompok agama harus bergerak dengan gagah berani.
Kalam suci menyentuh kalbu berjuang
Maju serentak mencapai kemenangan
Untuk bangsa, negara, dan keadilan
Panggilan jihad hidupkan, panggilan jihad hidupkan-----Buya Hamka
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 30 Oktober 2026
