DESAIN MASJID APUNG AN’NUR JAKARTA. PERADABAN TURKI USMANI DAN LAKSAMANA CHENG HO
DESAIN MASJID APUNG AN’NUR JAKARTA.
PERADABAN TURKI USMANI DAN LAKSAMANA CHENG HO
Gagasan sejarah ditulis oleh Samsuddin Ch. Haesy, diwujudkan dalam gambar arsitektur oleh Andra Matin.
Geisz Khalifa
Saya ingin memberi sedikit pemahaman tentang latar belakang desain Masjid Apung An-Nur Jakarta yang berada di kawasan Ancol.
Setelah pembangunan Masjid Apung Ancol disetujui dalam rapat komisaris dan direksi pada Rabu, 27 Maret 2019, tepat pukul 11.35 WIB, saya mulai memikirkan satu hal penting: masjid ini harus memiliki cerita. Ia tidak boleh sekadar menjadi bangunan dengan desain yang unik, melainkan harus mempunyai latar belakang sejarah dan makna peradaban.
Saya kemudian berdiskusi dengan Bang Sem, Samsuddin Ch. Haesy, mengenai pengaruh peradaban Islam di kawasan pesisir Jakarta yang kini dikenal sebagai wilayah administratif Jakarta Utara.
Bang Sem memahami sejarah dan peradaban. Dalam diskusi itu, ia bercerita tentang hubungan dunia Islam dengan Nusantara, termasuk peradaban Turki Usmani dan pelayaran Laksamana Cheng Ho.
Bagi saya, pembicaraan itu penting. Saya ingin Masjid Apung Ancol memiliki identitas yang berangkat dari sejarah, bukan semata-mata dari pertimbangan bentuk arsitektur atau selera desain.
Saya ingin menghubungkan sejarah pesisir Jakarta, perjalanan peradaban Islam, dan jejak perjumpaan berbagai bangsa ke dalam sebuah bangunan masjid. Dengan begitu, arsitektur tidak berhenti sebagai bentuk fisik, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan cerita sejarah.
Saat itu, arsitek yang akan merancang masjid belum ditentukan. Ada beberapa kandidat yang dipertimbangkan. Namun, saya meminta jajaran direksi untuk menunggu. Saya ingin bertemu Anies Baswedan terlebih dahulu untuk membicarakan gagasan pembangunan Masjid Apung dan latar belakang sejarah Islam di kawasan Jakarta Utara.
Anies tidak langsung menyebutkan nama arsitek. Ia bercerita bahwa Andra Matin adalah seorang arsitek yang memahami gagasan seperti yang sedang saya bicarakan dan tidak akan serta-merta mendesain berdasarkan seleranya sendiri.
Begitulah cara Anies. Ia memberikan gambaran, tetapi membiarkan saya berpikir dan menarik kesimpulan sendiri.
Maka, saya bertanya dengan tegas, “Jadi, siapa arsiteknya?”
Dari pertemuan itulah saya menarik kesimpulan bahwa Andra Matin adalah arsitek yang tepat untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam desain Masjid Apung Ancol. Kesimpulan itu saya ambil sendiri berdasarkan pembicaraan dengan Anies, bukan karena ia secara langsung menetapkan atau merekomendasikan nama Andra Matin.
Setelah itu, saya kembali menemui Bang Sem. Saya meminta beliau menulis sebuah kajian ilmiah mengenai pengaruh peradaban Islam di kawasan pesisir Jakarta, terutama dalam kaitannya dengan Turki Usmani dan Laksamana Cheng Ho.
Saya ingin gagasan itu memiliki landasan pemikiran yang serius. Sejarah tidak cukup hanya diceritakan dalam percakapan. Ia perlu ditelusuri, ditulis, dan dipelajari agar dapat menjadi pijakan bagi gagasan arsitektur.
Saya kemudian kembali berdiskusi dengan teman-teman direksi Ancol. Saya menyampaikan kesimpulan saya bahwa Andra Matin adalah arsitek yang akan kita ajukan untuk merancang Masjid Apung Ancol. Pilihan tersebut lahir dari pemahaman saya atas pembicaraan dengan Anies Baswedan dan kebutuhan untuk menerjemahkan gagasan sejarah ke dalam arsitektur.
Sekitar sebulan kemudian, kajian yang ditulis Bang Sem selesai. Beliau mengerjakannya dengan sangat serius. Hasilnya berupa tulisan ilmiah sepanjang puluhan halaman.
Dari tulisan Samsuddin Ch. Haesy itulah gagasan mengenai sejarah dan peradaban Islam kemudian menjadi pijakan konseptual bagi Andra Matin untuk menerjemahkannya ke dalam rancangan arsitektur Masjid Apung An-Nur Jakarta.
Lalu, apa makna bentuk arsitektur masjid ini?
Oleh karena itu, jika Anda melihat desain Masjid Apung An-Nur Jakarta menyerupai sebuah bahtera, bentuk itu merupakan simbolisasi Laksamana Cheng Ho dan perjalanan peradaban Islam melalui jalur pelayaran.
Sementara itu, bulan dan bintang merupakan simbolisasi peradaban Turki Usmani.
Kedua unsur tersebut bukan sekadar pilihan bentuk arsitektur. Keduanya merupakan bagian dari gagasan sejarah yang sejak awal ingin saya hadirkan ke dalam desain Masjid Apung An-Nur Jakarta.
Saya ingin sejarah peradaban Islam di kawasan pesisir Jakarta tidak berhenti sebagai cerita yang hanya dibicarakan atau dibaca dalam sebuah kajian. Saya ingin cerita itu hadir, dapat dilihat, dan menjadi bagian dari pengalaman orang yang datang ke masjid ini.
Di sinilah peran masing-masing menjadi jelas.
Saya menghubungkan gagasan sejarah dan peradaban dengan rancangan masjid. Samsuddin Ch. Haesy menuliskan gagasan tersebut dalam sebuah kajian ilmiah. Andra Matin kemudian menerjemahkannya ke dalam gambar dan rancangan arsitektur.
Adapun rapat komisaris dan direksi menjadi bagian dari proses kelembagaan yang memungkinkan pembangunan masjid ini disetujui dan dilaksanakan. Namun, keputusan membangun sebuah bangunan dan gagasan yang memberi bangunan itu makna adalah dua hal yang berbeda.
Lalu apa peran Anies Baswedan?
Peran Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta adalah menyelamatkan proyek Masjid Apung. Tak lama kemudian, Ancol mengalami tekanan berat akibat pandemi COVID-19 pada 2020. Anies mengambil kebijakan agar proyek ini ditangani oleh Pemprov DKI Jakarta.
Tanpa kebijakan Anies, Masjid Apung hanya menjadi cerita kosong yang berhenti setelah diputuskan dalam rapat. Gagasan sudah ada, kajian sejarah sudah ditulis, dan desain sudah dibuat, tetapi masjidnya tidak akan terwujud.
Saya ingin hal ini dipahami dengan baik karena proses lahirnya Masjid Apung An-Nur Jakarta tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, anggaran, atau penunjukan arsitek. Ada sebuah gagasan yang menghubungkan sejarah, peradaban, dan arsitektur.
Bagi saya, sebuah bangunan bisa saja tampil unik dan menarik perhatian. Namun, ketika sebuah bangunan memiliki cerita, gagasan, dan latar belakang sejarah, ia memperoleh makna yang lebih dalam daripada sekadar bentuk fisiknya.
Masjid Apung An-Nur Jakarta bukan hanya tentang bagaimana sebuah masjid berdiri di atas air. Ia juga menghadirkan gagasan tentang sejarah pesisir, perjumpaan berbagai bangsa, dan perjalanan peradaban Islam yang ingin saya hadirkan sebagai bagian dari identitasnya.
Itulah latar belakang pemikiran yang menyertai proses lahirnya desain Masjid Apung An-Nur Jakarta.
Sebab, bagi saya, arsitektur yang baik bukan hanya membangun ruang untuk manusia, tetapi juga menghadirkan cerita yang membuat manusia memahami sejarah dan peradabannya.
