Sekaligus, Gus Rumail Babat Noor Deros dan artikel Imad yang membalas artikel PP. Al-Anwar Sarang

 


Jum'at, 4 September 2026

Faktakini.info

Rumail Abbas

Di tengah-tengah mengikuti sidangnya Nadiem Makarim (banding) dan Gus Yaqut (baru sampai pemanggilan saksi), saya mendapati tiga hal menarik.

Pertama, Ust. Noor Deros dari Malaysia merespon tulisan saya. Kedua, artikel Ki Imad yang membalas artikel PP. Al-Anwar Sarang. Ketiga, video tiga aki-aki ngobrol ngalor-ngidul seperti bapak-bapak pos ronda, ditemani satu orang gondrong tanpa bakat bernama Zulkarnaen.

Saya tidak menonton video mereka. Gak ada isinya juga. Akhirnya saya menonton videonya Ust. Noor yang durasinya dua jam, dan saya pun harus maraton karena ini "pembicara baru" dalam diskursus nasab.

Sembari mendengarkannya, saya membaca artikel Ki Imad yang secara langsung menyebut nasab keluarga Kerajaan Yordania sebagai salah satu keluarga keturunan Nabi Muhammad yang paling sahih secara ilmu nasab dan sejarah.

Kata Ki Imad, nasab yang sahih itu harus dicatat masa ke masa. Jika baru ditulis masa belakangan, maka Abdullah/Ubaidillah (nama yang dia gugat ini merupakan leluhur puncak Bani Alawi) adalah nama yang dibuat-buat orang belakangan.

Ust. Noor dan Ki Imad juga sama-sama menyebutkan yDNA kerajaan Yordania ini sebagai sampel yang paling sahih untuk mencari lineage-path keturunan Imam Ali. Dan Ki Imad bahkan lebih mantap lagi mengatakan:

"Seluruh nama-nama dalam silsilah keluarga Kerajaan Yordan terverifikasi kitab-kitab abad ke-4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15."

Pertanyaan saya: mosok, sih?

Silsilah Bani Qatadah itu, kan, begini:

Muhammad al-Tsa'ir → Abdullah al-Akbar → Muhammad Tsa'lab → Abdullah → Ali Ibn al-Sulamiyyah → Sulaiman → Husain → Isa → Abdul Karim → Mutha'in → Idris → Qatadah (saya ambil dari situs kerajaan, karena versi Ki Imad juga banyak typo-nya)

Tahdzib al-Ansab, kitab nasab yang ditulis al-Ubaidili (w. 435 H) menulis keturunan Muhammad al-Akbar bin Musa al-Tsani seperti ini:

والعقب من ولد محمد الأكبر بن موسى الثاني بن عبد الله بن موسى الجون من خمسة نفر: الحسين، وعبد الله، وعلي، والقاسم الحرابي والحسن الحرابي

Ada lima namanya, dan Abdullah ada di urutan kedua.

Di kitab yang sama, al-Ubaidili melanjutkan keturunan Abdullah:

والعقب من ولد عبد الله بن محمد الأكبر بن موسى بن عبد الله الثاني بن موسى الجون من ثلاثة نفر: علي بن عبد الله وله أولاد، ومحمد بن عبد الله، يلقب ثعلبا قتل، وله ولد [له] أولاد، وأحمد بن عبد الله وله أولاد

Tiga anaknya: Ali, Muhammad yang dijuluki Tsa'lab, serta Ahmad. Dan sampai di sini ada tiga mata rantai nasab yang bisa dipastikan:

Muhammad al-Akbar → Abdullah → Muhammad Tsa'lab.

Persoalannya mulai di anak Muhammad Tsa'lab ini.

Al-Ubaidili menegaskan bahwa Muhammad Tsa'lab mempunyai seorang anak dan dari anak itu lahir beberapa keturunan. Akan tetapi, ia tidak menyebut nama anak tersebut siapa.

Ki Imad bilang nama keturunan Muhammad Tsa'lab itu ada di al-Syajarah al-Mubarakah. Kitab nasab problematik ini dia pakai sebagai ”jembatan” untuk menghubungkan abad kelima (Tahdzib al-Ansab) dengan abad ketujuh (al-Syajarah al-Mubarakah dan al-Fakhri).

Ini kutipannya dari Tahdzib al-Ansab:

والعقب من ولد أبي عبد الله محمد الأصغر وهو الأعرابي من [ابي علي] احمد الأعرج وفيه عدد ومن عبد الله بن محمد [ابي الزوائد]

Ini dari al-Syajarah al-Mubarakah:

واما محمد الأصغر بن موسى الثاني فله من الاولاد المعقبين عبد الله ابو الزوائد واحمد الأعرج

Dan ini dari al-Fakhri:

ولمحمد الاصغر الاعرابي بن موسى الثاني ابنان معقبان احمد ابو على الاعرج، وعبد الله ابو الزوائد لان اصابعه كانت اربعة وعشرين

Sayangnya, jika kalian baca redaksi aslinya, ketiganya membicarakan Muhammad al-Ashgar al-A'rabi, anak Musa al-Tsani. Bukan Muhammad al-Akbar.

Al-Ubaidili sendiri memisahkan kedua Muhammad ini:

والعقب من ولد موسى الثاني بن عبد الله بن موسى الجون من أربعة عشر رجلاً: محمد بن موسى وفيه أفخاذ، والحسن وفيه أفخاذ، وعلي، وإدريس، وصالح وأحمد ويحيى، ويوسف، وداود، ومحمد الأصغر، وحمزة؛ وانقرض، وعبد الله؛ وانقرض، وإبراهيم؛ وانقرض، وسليمان؛ وانقرض

Di daftar empat belas anak Musa al-Tsani itu, Muhammad ada di urutan pertama, dan Muhammad al-Ashgar ada di urutan kesepuluh.

Bandingkan juga daftar anaknya. Muhammad al-Akbar beranak Husain, Abdullah, Ali, Qasim al-Hirabi, Hasan al-Hirabi. Muhammad al-Ashgar beranak Ahmad al-A'raj dan Abdullah Abu Zawaid.

Tidak ada satu nama pun yang beririsan karena merupakan dua orang berbeda yang punya keturunan berbeda pula. Jadi, Abdullah Abu az-Zawaid itu cucu Musa al-Tsani, sedangkan Abdullah yang dibutuhkan silsilah Yordania merupakan keturunan lapis keempat.

Mungkin ada yang membela: bukankah Muhammad al-Ashgar itu juga dijuluki al-Tsa'ir? Betul. Dan persis di situlah Ki Imad terpeleset.

Sebab al-Syajarah al-Mubarakah, empat baris di atas kutipan yang dia ambil, sudah ngomong sendiri:

أما موسى الثاني، فله من الأولاد المعقبين بالاتفاق عشرة: محمد الأكبر، وهو جد أمراء مكة. وإدريس وكان رئيسا ببادية ينبع، وعلي الأصغر، وصالح الأعور، ويوسف الخزف، والحسن، وأحمد، ويحيى النقبب العابد، وداود، ومحمد الأصغر الأعرابي الثائر

Singkatnya, kakek para amir Makkah adalah Muhammad al-Akbar. Sementara yang bergelar al-Tsa’ir adalah Muhammad al-Ashgar.

Lalu Muhammad al-Tsa'ir yang di al-Ashili itu siapa? Dia adalah Muhammad al-Akbar itu sendiri. Ini bukan tafsiran saya. Al-Majdi karya al-Majdi (w. 459 H) menulis:

ومحمد بن موسى الثاني ابن عبد الله بن موسى الجون، وهو الامير الاكبر، الثائر بالمدينة الحراني، يقال لولده الحرانيون

Al-Akbar, al-Tsa'ir, dan al-Harrani adalah tiga julukan untuk satu orang. Dan al-Ashili sendiri, di halaman lain, menulis:

وأمّا الحسن الحراني بن محمّد الثائر بن موسى الثاني ، فأعقب من ولديه : علي ، وسليمان

Al-Hasan al-Harrani itu anak Muhammad al-Akbar, sesuai daftar lima nama al-Ubaidili di atas.

Sejauh ini bisa dipahami, ya, kalau Ki Imad salah mengidentifikasi nama di kitab nasab?

Lalu kapan nama anak Muhammad Tsa'lab (yang menjadi leluhur Bani Qatadah) ini ditulis?

Ternyata baru muncul di al-Ashili karya Ibn Thaqthaqi (w. 709 H). Ini artinya, salah satu leluhur penting Bani Qatadah itu baru ditulis 274 tahun dari al-Ubaidili.

Sekali lagi: 274 tahun dari al-Ubaidili!

وأمّا محمّد ثعلب بن عبد اللّه بن محمّد الثائر ، فعقبه من ولده : عبد اللّه فقط

Al-Fakhri, yang penulisnya wafat 614 H, sekitar 179 tahun sesudah al-Ubaidili, mentok di titik yang sama persis.

وأما عبد اللّه بن محمد الأكبر بن موسى الثاني ، فله ثلاثة معقبون : علي له اثنا عشر ابنا أعقب منهم عشرة وذيلوا . وأحمد له عقب بينبع . ومحمد المعروف ب « تغلب » وقيل : ثعلب ، له ذيل طويل

Pokoknya dia punya keturunan, tapi tidak ditulis namanya siapa saja. Julukannya saja dia masih ragu, Taglab atau Tsa'lab.

Uniknya lagi, di rentang kosong itu, Ibn Funduq al-Baihaqi (w. 565 H) dalam Lubab al-Ansab menaruh bapak Tsa'lab di pasal orang yang tidak berketurunan bi al-ittifaq, meski namanya ditulis tanpa julukan pembeda.

عبد الله بن محمد بن موسى الثاني، لا عقب له بالاتفاق

Nama ini persis di nomor dua dalam silsilah yang dipakai situs kerajaan, lho.

Dan al-Syajarah al-Mubarakah, kitab andalannya itu, ternyata bukan cuma salah cabang. Tapi ternyata ia juga memangkas. Di bagian lain kitab itu tertulis:

وأما عبد الله الأصغر، فله عقب بمكة وينبع، منهم: الفقيه أبو البشر ابن الحسين بن علي بن عبد الله الأصغر، وابنه جعفر الزاهد العالم النسابة بمكة. فهذا هو الكلام في أولاد محمد بن موسى الثاني

Ja'far bin Abi al-Bisyr ini tokoh yang sama yang dipakai al-Ashili dan Umdat al-Thalib sebagai penanda cabang tersebut. Tapi al-Syajarah menaikkannya lewat Husain, lalu Ali, lalu langsung ke Abdullah al-Ashgar. 

Jadi ada tiga nama yang ”raib”, yaitu Tsa’lab, Abdullah, dan Sulaiman.

Ki Imad juga salah memahami al-Ashili: ada dua kalimat yang berurutan tentang dua orang bernama Ali, dan melesetnya di situ.

وأمّا علي بن عبد اللّه ، فعقبه من ولده : الحسن . وللحسن هذا ثلاثة أولاد : حميد ، وعبد اللّه ، ومحمّد . وأمّا علي ابن السلميّة بن عبد اللّه بن محمّد الثائر ، فأعقب من ثلاثة رجال : يحيى ، والحسين الشديد ، وسليمان

Ali yang pertama, anak Abdullah bin Muhammad Tsa'lab, kedudukan yang dipakai situs kerajaan, anaknya adalah al-Hasan saja. Dan tiga cucunya bernama Humaid, Abdullah, dan Muhammad.

Ternyata Sulaiman tidak ada.

Ali yang kedua, Ibn al-Sulamiyyah, memang punya anak Sulaiman, tetapi dinasabkan kepada Abdullah bin Muhammad al-Tsa'ir. Artinya dia saudara Muhammad Tsa'lab, bukan cicitnya.

Nah, Ki Imad mengutip yang kedua, lalu memasangnya di kedudukan yang pertama, lantas mengira nasab Raja Yordania nyambung dari sini.

Andaikan begitu, jika disusun ke atas, maka: Sulaiman, Ali, Abdullah al-Akbar, Muhammad al-Tsa'ir. Hanya empat nama saja, sedangkan situs kerajaan menuntut enam.

Tambahan informasi: rantai naik Qatadah pun tidak seragam. Ibn Rasul (w. 696 H), yang semasa dengan cucu Qatadah, menulis Mutha'in sebagai anak Sulaiman bin Abdul Karim.

قتادة بن إدريس بن مطاعن بن سليمان بن عبد الكريم بن عيسى بن سليمان بن موسى بن عبد اللّه بن موسى بن عبد اللّه بن موسى بن عبد اللّه بن سليمان بن موسى بن عبد اللّه بن الحسن بن الحسن بن عليّ بن أبي طالب

Ini rantai naik Qatadah yang susunannya berbeda dengan yang dipakai Raja Yordania sekarang. Dan penulisnya adalah raja Dinasti Rasuli di Yaman, sezaman dengan cucu-cucu Qatadah.

Kalau dirunut, beginilah silsilah Raja Jordan versi kitab nasab: ada anak yang tidak diberi nama oleh dua kitab sekaligus, lalu nama itu baru ditulis 274 tahun kemudian, sementara di rentang kosong itu kakeknya justru dinyatakan tidak berketurunan menurut kesepakatan, lalu ada dua Ali yang beda orang tapi ditulis Ki Imad sebagai satu orang, dan tiga kutipan yang dia pakai sebagai ”jembatan” ternyata membicarakan paman buyutnya, bukan leluhurnya.

Dan itu semua baru sampai Qatadah yang wafat sekitar 617 H, lho. Masih ada tujuh abad lagi menuju Raja Yordania sekarang.

Ki Imad sendiri yang teguh berkeyakinan bahwa Abdullah/Ubaidillah adalah tokoh fiktih karena tidak tercatat dari masa ke masa (oleh karena itu ia batalkan), dan meyakini Bani Qatadah ini yang paling rapi. Tapi jika memakai cara itu, maka Bani Qatadah juga punya masalah yang sama.

Silsilah semacam inilah yang disebut Ki Imad terverifikasi kitab abad keempat sampai kelima belas, dan dijadikan sampel paling sahih untuk Y-DNA Imam Ali bin Abi Thalib.

Kocak!