KLASTER PARA PEMBENCI RAIS AM
Kamis, 3 September 2026
KLASTER PARA PEMBENCI RAIS AM
Sebagai salah seorang yang merintis kajian dan menulis buku tentang “Islam Siber”, selama setahun ini saya meneliti perundungan siber yang disasarkan pada Rais Am (RA).
Sebagaimana mafhum, perundungan siber yang dialami oleh RA bahkan tak pernah surut dalam setahun ini, utamanya saat konflik dengan GY dan mendekati atau selama Muktamar 35.
Dari hasil pengamatan dan penelitian selam setahun ini, saya lalu mengklaster para pembenci RA menjadi beberapa klaster sebagai berikut:
1. Barisan Sakit Hati (BSH)
Klaster ini berisi para pihak yang pernah terkena pendisiplinan organisasi dan pernah berkonflik dengan RA baik saat RA aktif di PC, PW, maupun PB.
Para aktor di klaster ini menyebarkan narasi negatif dan provokatif yang mendowngrade marwah RA melalui ceramah, siniar, video, dan tulisan.
Klaster ini berisi tokoh-tokoh yang dikenal publik, bahkan punya pesantren yang cukup besar. Menjelang dan saat muktamar, klaster ini memanfaatkan momen muktamar sebagai ajang balas dendam agar reputasi RA jatuh sejatuh-jatuhnya.
2. Buzzer
Saat konflik dg GY, terasa sekali ada barisan buzzer yang solid dan konsisten melakukan penyerangan pada RA. Pola narasinya seragam dan terkoordinasi rapih dengan pengaturan waktu yang terpola.
Mereka ini secara pribadi tak ada masalah dengan RA, bahkan tak pernah terdampak oleh kebijakan pendisiplinan organisasi oleh RA. Beberapa di antara mereka memang buzzer profesional, tapi sebagian lainnya ngebuzzer seraca sukarela karena ikatan primordional dengan pihak yang berkonflik dengan RA.
3. PWI LS
Klaster ini sangat konsisten dan massif dalam menyerang RA karena RA dianggap tidak memihak mereka dalam isu nasab. RA dianggap menjadi benteng kokoh yang melindungi para habaib.
Meski konsisten dan masif, kualitas konten serangan klaster ini rendah sekali kualitasnya. Banyak berisi hoax dan gak berdasar. Maklum, klaster ini berisi orang awam, bukan orang terpelajar, sumbu pendek, gak terlalu paham tentang ajaran Islam, dan rendah kualitas akhlaknya.
4. Residu Muktamar
Hasil muktamar yang tak sesuai harapan membuat tetiba muncul klaster baru (meskipun tak sepenuh baru) yang secara sporadis muncul saat diketahui KMA terpilih kembali menjadi RA.
Klaster ini umumnya mereka yang menjagokan kandidat lain dan berharap KMA tak terpilih lagi sebagai RA.
Yang unik dalam klaster ini muncul fenomena baru para putri kiai (para ning) yang sebagiannya terlihat belum berpengalaman dan hanya ikut-ikutan. Mereka ini tiba-tiba secara bersamaan meluapkan kekecewaannya atas terpilihnya KMA di medsos dan story WA-IG mereka.
5. Residu Konflik
Saat memanasnya konflik dg GY, lalu muncul polarisasi yang mengakibatkan kubu-kubuan menguat secara signifikan.
Kalau melihat peta konflik, kubu pro-GY menguasai peta narasi di medsos. Kubu pro-KMA pasif dan tak terkoordinir seperti kubu pro-GY. Akibatnya narasi kubu pro GY yang merajai narasi di medsos.
Belum lagi kubu GY (bahkan GY sendiri) aktif bersafari ke mana-mana termasuk ke pondok-pondok besar untuk menggalang dukungan dalam konflik melawan KMA.
Klaster ini mengental di masa isu islah, penentuan lokasi Munas dan lokasi Muktamar. Klaster ini melibatkan santri dan alumni , gus dan kiai dari pesantren tertentu yang melakukan serangan sporadis terhadap KMA.
Klaster ini dibangun di atas isu kepatuhan mutlak pada kiai dan loyalitas pada almamater. Klaster ini struktur narasi serangannya terhadap KMA bahkan “diracik” dari “dapur” rumah gus dan kiai pesantren tersebut.
6. Awam FOMO
Klaster ini berisi orang-orang yang tak terkoordinasi dan sebetulnya tak tahu duduk persoalan ihwal konflik. Hanya ikut-ikutan. Yang penting mereka terlihat tak ketinggalan info tentang apa yang sedang terjadi.
Di klaster ini bahkan berasal dari orang di luar Nahdliyin yang hari-hari tampak belum paham apa itu Islam. Ciri paling mudah dari klaster ini: tidak konsisten dan muncul saat medsos sedang ramai membicarakan isu tertentu. Nah, klaster ini selalu pansos.
Keenam klaster ini kadang melakukan serangan kepada RA secara bersamaan, namun dengan agenda yang tak seragam. Intinya menjatuhkan marwah, wibawa, dan kehormatan KMA sebagai RA.
Yang menarik justru RA tak pernah sekalipun menanggapi. Tak ada instruksi apalagi memobilisasi untuk menghadang dan membalas serangan itu, lebih-lebih sampai membayar media dan buzzer seperti dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.
