Ketika Lisan Pengaku Ulama Menjadi Pisau Fitnah: Realita Ceramah Imad bin Sarman
Selasa, 29 September 2026
Faktakini.info
Ketika Lisan Ulama Menjadi Pisau Fitnah: Realita Ceramah Imaduddin Utsman
Dalam tradisi Islam, lisan seorang ulama adalah aset terbesar umat. Dari mulut mereka, untaian ilmu, ketenteraman, dan ajaran akhlak mulia Rasulullah SAW seharusnya mengalir menyejukkan hati jemaah. Namun, realita hari ini menyuguhkan pemandangan sebaliknya melalui fenomena ceramah KH Imaduddin Utsman Al-Bantani. Panggung pengajian yang suci kini bergeser fungsi menjadi media penyebar ghibah massal dan pembatalan nasab klan Ba'alawi (Habaib) secara serampangan.
Kelakuan Imaduddin di atas mimbar luring maupun dalam potongan video yang berseliweran di media sosial menunjukkan bagaimana lisan digunakan sebagai alat pemecah belah. Perdebatan yang ia klaim sebagai kajian ilmiah sejarah, pada kenyataannya disampaikan dengan narasi penuh sinisme, tuduhan, dan provokasi di hadapan masyarakat awam. Menguliti kehormatan garis keturunan orang lain, menuding jutaan keturunan Nabi sebagai "nasab palsu," dan membiarkan mulutnya menjadi corong kebencian adalah bentuk nyata dari penyalahgunaan fungsi mimbar agama.
Secara fikih, tindakan menggunakan mulut untuk meragukan keabsahan keturunan seseorang tanpa proses pengadilan syariah yang sah masuk dalam kategori kejahatan lisan yang serius. Alih-alih membawa maslahah (manfaat), lisan Imaduddin justru memicu ghibah berjamaah. Jutaan penonton di ruang digital kini merasa legal untuk ikut mencaci maki, menghina, dan menyebarkan fitnah terhadap para habaib, hanya karena terprovokasi oleh narasi sepihak yang keluar dari mulut seorang tokoh yang mereka anggap guru.
Dampak dari tidak terjaganya mulut di atas mimbar ini sangat fatal di akar rumput. Polarisasi umat terjadi di mana-mana, pengajian tidak lagi membahas sucinya hati atau indahnya syariat, melainkan dipenuhi riuh rendah pergunjingan silsilah. Fenomena Imaduddin adalah contoh seorang yang berilmu yang tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut kepada Allah dan Hilangnya Etika berukhuwah.
