Pengakuan Internasional Nasab Al-Sari Al-Turabi Tarim oleh Naqobah Asyraf Irak: Bukti Otentisitas Jalur Emas Ba 'Alawi
Jum'at, 17 Juli 2026
Faktakini.info, Jakarta - Keabsahan dan kesucian nasab para Sadah Ba 'Alawi (Sada Baalawi) di Hadramaut, Yaman, kembali mendapatkan penegasan kuat di panggung internasional. Baru-baru ini, lembaga pencatat nasab resmi terkemuka di Timur Tengah, Naqobah Asyraf Irak melalui akun afiliasi resminya, Suhuf Al-Ansab Al-Hasyimiyyah, mempublikasikan ketetapan resmi mengenai kesahihan nasab Sada Al-Sari Al-Turabi Al-Uraidhi Al-Husaini yang berbasis di Kota Tarim, Yaman.
Langkah kodifikasi dan pengakuan lintas negara ini menerbitkan dokumen administratif penting, termasuk Certificate of Iraq Nobles. Hal ini sekaligus mematahkan segala keraguan serta memperkuat posisi klan Al-Sari sebagai bagian tak terpisahkan dari pohon silsilah agung keturunan Nabi Muhammad SAW.
## Akar Silsilah Emas dari Tarim hingga Rasulullah SAW
Dalam maklumat resmi yang dirilis, Naqobah Asyraf Irak menjabarkan secara rinci urutan silsilah keluarga Al-Sari. Mereka merupakan cabang mulia dari klan besar Al-Jamilul Lail, yang bermuara pada tokoh-tokoh kunci penyebar Islam di Hadramaut dan Madinah.
Secara garis besar, silsilah emas ini terbagi menjadi tiga fase sejarah utama:
1. Garis Keturunan Al-Sari di Tarim: Jalur ini dimulai dari Sayyid Asy-Syarif Ali Al-Sari bin Umar bin Abdullah bin Harun bin Hasan bin Ali hingga tersambung kepada Sayyid Muhammad Jamilul Lail (leluhur asal nama klan Al-Jamilul Lail) dan Sayyid Hasan Al-Turabi.
2. Era Pembesar Ba 'Alawi Hadramaut: Jalur di atas kemudian menyatu pada Sultanul Auliya Al-Faqih Al-Muqaddam (Muhammad bin Ali), tokoh spiritual utama Hadramaut, lalu terus ke atas melalui Sayyid Muhammad Shahib Mirbath hingga mencapai Imam Ahmad Al-Muhajir, sosok yang melakukan migrasi besar dari Irak ke Yaman demi menjaga kesucian keturunan kenabian.
3. Puncak Jalur Utama Ahlu Al-Bait: Dari Irak, silsilah ini lurus ke atas menuju Sayyid Ali Al-Uraidhi (Gubernur Madinah), putra dari Imam Ja'far Ash-Shadiq, lalu melintasi garis para Imam suci: Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, hingga puncaknya pada Imam Husain Asy-Syahid, putra dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA dan Sayyidah Fatima Az-Zahra binti Rasulullah SAW.
## Makna Gelar Khusus: Al-Turabi dan Jamilul Lail
Publikasi resmi ini juga menegaskan kembali identitas kultural dan spiritual yang melekat pada nama besar keluarga ini:
* Al-Sari: Merujuk pada Sayyid Ali Al-Sari, leluhur spesifik cabang keluarga ini yang menetap di Tarim.
* Al-Turabi: Merupakan gelar kehormatan untuk Sayyid Hasan bin Ali Al-Annaz. Beliau dijuluki "Al-Turabi" (tanah/debu) karena sifatnya yang sangat tawaduk, zuhud, dan gemar beribadah mendekatkan diri ke bumi.
* Jamilul Lail: Gelar bagi Sayyid Muhammad bin Hasan Al-Mu'allim yang terkenal karena selalu menghidupkan malam hari di Tarim dengan shalat malam dan munajat.
## Signifikansi Pengakuan Naqobah Asyraf Irak
Irak secara historis adalah hulu tempat tinggal Imam Ahmad Al-Muhajir sebelum beliau hijrah ke Yaman. Oleh karena itu, verifikasi yang dikeluarkan oleh Naqobah Asyraf Irak memiliki bobot ilmiah dan legalitas yang sangat tinggi di dunia Islam.
Pencatatan ini bukan sekadar klaim sepihak, melainkan hasil sinkronisasi digital dan naskah dengan kitab-kitab nasab klasik rujukan dunia, salah satunya kitab Syamsu Azh-Zhahirah karya Sayyid Abdurrahman Al-Masyhur. Dengan adanya pengakuan resmi ini, eksistensi Sada Al-Sari Al-Turabi di Tarim maupun keturunannya yang kini berdiaspora ke berbagai belahan dunia—termasuk Asia Tenggara—kian kokoh, sahih, dan diakui secara ijmak (konsensus) para ahli nasab internasional.
