Meluruskan Anakronisme Sejarah: Mengapa Klaim Tes DNA Syekh Ahmad bin Idris Al-Fasi Keliru

 


Kamis, 16 Juli 2026

Faktakini.info

Meluruskan Anakronisme Sejarah: Mengapa Klaim Tes DNA Syekh Ahmad bin Idris Al-Fasi Keliru

Dalam beberapa diskusi mengenai pelacakan silsilah tokoh-tokoh besar Islam, terkadang muncul klaim keliru yang menyebutkan bahwa Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Idrisi (yang lebih dikenal sebagai Syekh Ahmad bin Idris Al-Fasi) secara personal telah melakukan tes Y-DNA. Ditinjau dari sudut pandang sejarah dan sains, klaim ini merupakan sebuah anakronisme fatal—yaitu penempatan peristiwa, objek, atau teknologi yang tidak sesuai dengan masa hidup tokoh tersebut.

## Jarak Garis Waktu yang Mustahil

Syekh Ahmad bin Idris Al-Fasi, ulama sufi besar sekaligus pendiri Tarekat Idrisiyyah, wafat di Sabya, Yaman, pada tahun 1837 M. Sementara itu, sains modern mencatat bahwa struktur heliks ganda DNA baru berhasil diidentifikasi oleh James Watson dan Francis Crick pada tahun 1953 M.

Lebih jauh lagi, pemanfaatan komersial teknologi tes genetik (seperti tes Y-DNA untuk melacak garis keturunan paternal) baru lahir dan diakses publik secara luas pada awal abad ke-21 (sekitar tahun 2000-an). Ada rentang waktu lebih dari 160 tahun antara wafatnya sang ulama dengan penemuan teknologi tersebut. Secara fisik dan kronologis, Syekh Ahmad bin Idris tidak mungkin pernah melakukan tes DNA semasa hidupnya.

## Konteks Tes DNA Masa Kini

Kekeliruan klaim ini kemungkinan besar berakar dari salah paham terhadap riset genetika modern. Di era digital ini, para peneliti dan lembaga nasab memang kerap mengambil sampel DNA dari para keturunan (dzurriyah) beliau yang masih hidup saat ini. Hasil tes Y-DNA dari para keturunan sah itulah yang kemudian digunakan untuk memetakan haplogrup atau melacak jalur paternal lurus ke atas hingga ke Syekh Ahmad bin Idris, bahkan sampai ke jalur Sayyidina Hasan bin Ali RA.

## Kesimpulan

Meluruskan informasi ini sangat penting agar kajian sejarah Islam tetap berjalan di atas koridor ilmiah. Syekh Ahmad bin Idris Al-Fasi adalah figur historis abad ke-19, sedangkan tes DNA adalah produk sains abad ke-21. Mengetahui batasan linimasa ini membantu kita membedakan antara fakta sejarah tokoh masa lalu dan hasil riset genetik para keturunannya di masa modern.