Inggris Kalah 1-2 dari Argentina dan Terhenti di Semi Final, Perubahan Strategi Tuchel Dikritik

 




Kamis, 16 Juli 2026

Faktakini.info, Jakarta - Kutukan semifinal rupanya masih enggan pergi dari Tiga Singa. Kali ini, tiket final yang sudah di depan mata dirampas secara brutal hanya dalam hitungan menit!

Inggris sebenarnya nyaris mengukir sejarah di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. 

Suporter bersorak kegirangan saat Anthony Gordon sukses merobek gawang Argentina di menit ke-55. Namun, bukannya terus menekan, Inggris justru melakukan kesalahan fatal yang pantang dilakukan di laga krusial: memilih bertahan total setelah unggul.

Keputusan taktis ini berujung petaka mematikan. Argentina yang terus membombardir area penalti akhirnya menghukum kelengahan mereka lewat dua gol telat dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Skor berbalik 1-2, memaksa Inggris kembali tersingkir dari semifinal Piala Dunia untuk ketiga kalinya setelah tragedi kelam 1990 dan 2018.

Rasa frustrasi terberat jelas membayangi sang kapten, Harry Kane, yang juga menelan pil pahit pada 2018 lalu. Sebelum harus kembali memeras keringat di laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB, Kane tak kuasa menutupi kehancuran mental timnya.

"Nyesek banget buat anak-anak, untuk semuanya - tim, staf, fans,"

"Kami main bagus di sebagian besar pertandingan. Ketika kami unggul 1-0 kami malah terlihat mencoba bertahan, yang di level ini tidak cukup. Jadi kecewa berat karena kami sudah bekerja begitu keras untuk ada di sini dan anak-anak sudah memberikan segalanya dari lari, darah, keringat, air mata."

"Jadi gagal di saat-saat akhir itu nyesek banget,"

Namun Pelatih Thomas Tuchel membela keputusan taktisnya meskipun Inggris kalah 2-1 dari Argentina, yang mengakhiri perjalanan mereka di semifinal Piala Dunia 2026 pada pagi hari tanggal 16 Juli.

Setelah menjadi sasaran kritik atas perubahan taktiknya di babak kedua, Thomas Tuchel menegaskan bahwa ia tidak menyesali pendekatan taktisnya di semifinal melawan Argentina.

"Saya tidak menyesal. Para pemain telah memberikan yang terbaik dan kami hampir menang. Saya pikir Inggris pantas unggul 1-0. Ini mungkin salah satu pertandingan terbaik kami mengingat keadaan yang ada," ujar pelatih asal Jerman itu.

Keputusan Tuchel yang paling kontroversial adalah beralih ke formasi lima bek setelah Anthony Gordon membuka skor. Menurut pelatih berusia 52 tahun itu, ini adalah langkah yang diperlukan karena Inggris secara konsisten meninggalkan celah di lini tengah dan kesulitan menghadapi serangan udara Argentina.

"Segera setelah mencetak gol, kami membiarkan lawan menciptakan terlalu banyak peluang. Mereka memenangkan sebagian besar duel udara dan terus-menerus membawa bola ke area penalti. Kami beralih ke formasi lima bek untuk menutup celah dan meningkatkan kemampuan kami dalam bertahan melawan bola-bola udara," jelasnya.

Tuchel mengakui bahwa Inggris secara bertahap kehilangan kendali setelah gol pembuka. Tim tersebut tidak mampu merebut kembali penguasaan bola atau mempertahankan kendali untuk meredakan tekanan dari Argentina.

"Tentu saja, kami masih ingin mencetak gol kedua. Tetapi kami menjadi semakin pasif. Kami tidak bisa merebut bola kembali atau menguasainya cukup lama. Menurut saya, itu bukan masalah dengan sistem taktik, melainkan dinamika permainan yang telah berubah sepenuhnya," katanya.

Terlepas dari kritik yang ada, Tuchel percaya bahwa wajar jika keputusan seorang pelatih dikaji setelah kekalahan.

"Jika hasilnya tidak bagus, orang selalu mengatakan pelatih melakukan kesalahan. Setelah setiap pertandingan, ada jutaan pelatih yang tahu apa yang seharusnya dilakukan," ujarnya.

Manajer asal Jerman itu juga menolak memberikan penilaian mendalam tentang keseluruhan perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026.

"Hari ini kami hampir menang. Ini bukan saatnya untuk menengok kembali seluruh turnamen. Kami tersingkir karena kalah dalam pertandingan terpenting," pungkas Tuchel.

Sumber: internet