Di Yaman Ba'alawi Dipanggil Sayyid Syarif Habib, di Indonesia Sekte Imad Ikut-ikutan Minta Dipanggil Sayyid Syarif Habib Juga
Kamis, 16 Juli 2026
Faktakini.info, Jakarta - Di Hadramaut, Yaman, yang merupakan tanah asal Bani Alawi (Ba'alawi), penggunaan gelar bagi dzurriyah Rasulullah SAW telah berlangsung secara turun-temurun dan memiliki adab serta tradisi yang jelas.
Bagi anak-anak, remaja, atau pemuda keturunan Rasulullah SAW dari kalangan Ba'alawi, panggilan yang paling umum adalah Sayyid (سيد). Karena itu, masyarakat Hadramaut sangat lazim menyebut mereka dengan panggilan seperti Sayyid Ahmad, Sayyid Ali, Sayyid Hasan, Sayyid Alwi, dan seterusnya. Dalam situasi yang lebih resmi atau penuh penghormatan juga digunakan bentuk As-Sayyid.
Sementara itu, gelar Habib pada asalnya merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada ulama Ba'alawi yang telah dewasa, memiliki kedalaman ilmu agama, berakhlak mulia, berdakwah, serta mendapat penghormatan luas dari masyarakat. Karena itu, tokoh-tokoh seperti Habib Umar bin Hafidz, Habib Ali Al-Jifri, Habib Abu Bakar Al-Adni, dan ulama Ba'alawi lainnya lebih dikenal dengan gelar Habib.
Adapun seorang Ba'alawi yang telah dewasa tetapi belum dikenal sebagai ulama atau tokoh dakwah, umumnya tetap dipanggil Sayyid, bukan Habib, karena dianggap belum pantas memiliki gelar Habib.
Meski demikian, dalam sebagian keluarga Ba'alawi, panggilan "Habib" juga kadang digunakan kepada anak-anak sebagai ungkapan kasih sayang di lingkungan keluarga. Tradisi serupa juga dapat dijumpai di Indonesia, di mana sebagian masyarakat memanggil ba'alawi muda dengan sebutan Habib sebagai bentuk penghormatan.
Dengan demikian, penggunaan gelar Sayyid dan Habib bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan memiliki fungsi dan konteks yang berbeda dalam tradisi Ba'alawi.
Contoh panggilan yang lazim di Hadramaut antara lain:
Sayyid Hasan Alhaddad
Sayyid Umar Alatas
Sayyid Alwi Alhabsyi
Sayyid Ahmad Assegaf
Sayyid Abdullah Alaydrus, dan lainnya
Sedangkan ulama yang telah dikenal luas lazim dipanggil:
Habib Umar bin Hafidz
Habib Ali Al-Jifri
Habib Abu Bakar Al-Adni
Habib Kazhim As-Saqqaf
dan para masyayikh Ba'alawi lainnya.
Fakta sejarah dan tradisi ini menunjukkan bahwa penggunaan gelar Sayyid bagi anak-anak maupun orang dewasa dari kalangan Ba'alawi telah berlangsung sejak lama di Hadramaut, bahkan jauh sebelum tradisi tersebut berkembang ke berbagai negeri, termasuk Indonesia.
Oleh karena itu, umat Islam hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh narasi atau klaim dari Sekte Imad bin Sarman PWI-LS cs orang-orang ajam gila nasab yang sangat iri dengan nasab habaib, yang berupaya membingungkan masyarakat dengan menyatakan seolah-olah gelar bagi cucu Rasulullah SAW hanyalah "Sayyid" atau "Syarif" dalam pengertian yang mereka tafsirkan sendiri, tanpa memahami keragaman tradisi yang berkembang di dunia Islam.
Perbedaan penggunaan gelar di berbagai daerah merupakan bagian dari tradisi sosial dan budaya yang telah hidup selama berabad-abad. Yang terpenting adalah menjaga adab, menghormati sesama kaum muslimin, dan tidak menjadikan persoalan gelar sebagai sarana memecah belah umat.
Buya Hamka sendiri sudah menyatakan bahwa gelar untuk keturunan Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyid, Iyek, Ayib, Habib, Syarif dan lainnya adalah sama saja artinya.
"Keturunan Rasulullah SAW yang terbanyak berasal dari Hadramaut, Yaman. Semuanya adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Ahmad bin Isa inilah yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut. Selain dipanggilkan Tuan SAYYID, mereka dipanggilkan juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabah disebut TUANKU. Di Pariaman (Sumatra Barat) disebut SIDI.", ujarnya.
Sumber: Majalah “PANJI MASYARAKAT” No. 169 tahun ke-XVII tanggal 15 Pebruari 1975 (4 Shafar 1395 H), halaman 37-38. Makalah tersebut ditulis oleh almarhum Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (BUYA HAMKA) dengan judul: “PENJELASAN ATAS MASALAH GELAR SAYID ” .
Ironisnya, di tengah narasi yang mereka bangun, belakangan justru terlihat kelompok Imad yang selama ini ramai mempersoalkan penggunaan gelar di kalangan Ba'alawi, kini mencantumkan sendiri gelar Sayyid atau Syarif pada akun-akun pribadi mereka di media sosial dan mempromosikan diri sebagai cucu Rasulullah SAW, seperti yang telah dilakukan Abbas Tompel, Dadang Zulfikar, Muhsin bin Abdul Salam, Moggi, Oma Irama dan sejenisnya.
Dulu Abbas Tompel cs ramai-ramai mencatut dan menggunakan gelar Habib, namun setelah ditolak mentah-mentah oleh Rabithah Alawiyah, kini mereka kapok dan berpindah mencoba menyabot gelar Sayyid Syarif. Dan sebagai orang ajam yang tidak ada hubungan kekerabatan apapun dengan Nabi Muhammad SAW, tentu hukumnya haram bagi Abbas Tompel dkk memakai gelar Sayyid, Syarif apalagi Habib.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai konsistensi sikap Sekte Imad yang sering mengkritik penggunaan gelar tersebut. Karena itu, masyarakat hendaknya bersikap kritis, memverifikasi setiap informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh propaganda atau polemik yang dapat menimbulkan kebingungan di tengah umat Islam.
