Dzurriyyah Walisongo Ikut Khidmah Haul Solo

 

Kamis, 2 Juli 2026

Faktakini.info

Dzurriyyah Walisongo Ikut Khidmah Haul Solo

Dzurriyyah Walisongo yang direpresentasikan oleh Ashabul Ma'ahid al-Atiqah, pondok-pondok besar nan sepuh di Jawa, ikut memeriahkan Haul Solo, haul Habib Ali al-Habsyi pengarang Maulid Simtud Duror.

Pesantren sepuh dan besar tersebut antara lain:

1. Pondok Pesantren Langitan Tuban, pondok sepuh yang dulu Syaikhona Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy'ari pernah ngaji di sana.

Para alumni Pondok Langitan yang tergabung dalam KESAN (Keluarga Santri dan Alumni Langitan), sudah sejak beberapa hari lalu stanby rewang di Solo. Air mineral Kesan pun ikut betebaran dibagikan gratis kepada para hadirin.

2. Pondok Sidogiri Pasuruan.

Sabtu, 11 Oktober 2025, Pengurus Pusat IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) mengirim 500 personil bansus untuk ikut andil dalam pengamanan Haul Solo.

3. Pondok Sarang Rembang

Tadi pagi dalam Dars Fajar yang diselenggarakan di Masjid Ar-Riyadl, Gus Taj Yasin bin KH. Maimun Zubair Sarang ikut menjadi qari' kitab Qami' ath-Thughyan sebelum dijelaskan oleh Sidil Habib Umar bin Hafidz.

4. Pondok Lirboyo Kediri

Selain Gus Taj Yasin Maimun, Gus Ahmad bin KH. Kafabihi Mahrus dari PP Lirboyo juga ikut menjadi qari' kitab Qami' ath-Thughyan pada Dars Fajar, 12 Oktober 2025.

Dan masih banyak pondok-pondok sepuh di Jawa dan luar Jawa yang ikut meramaikan Haul Solo.

Haul Solo adalah peringatan haul al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi, seorang ulama besar yang makamnya berada jauh dari Kota Solo, yakni di Kota Seiyun, Yaman. Meski demikian, magnet spiritual beliau mampu menarik ratusan ribu jamaah setiap tahun untuk menghadiri haul tersebut.

Sejarah Penyelenggaraan Haul Solo

Awal mula penyelenggaraan Haul Solo berangkat dari kedatangan putra sohibul haul, al-Habib Alwi bin Ali al-Habsyi, ke tanah Jawa. Sebelum kedatangan beliau, sudah banyak murid al-Habib Ali yang menetap di Indonesia, seperti al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Surabaya), al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), dan al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang, Jakarta), dan lainnya.

Melihat banyak murid ayahnya di Indonesia, para ulama mendesak Habib Alwi agar mengadakan haul untuk mengenang sang ayah. Haul pertama digelar di kediaman beliau, di samping Masjid Riyadh, Solo. Saat itu, yang hadir hanya segelintir murid Habib Ali, namun mereka adalah ulama besar zamannya: Habib Abu Bakar Assegaf (Gresik), Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Alwi al-Haddad (Empang, Bogor), Habib Jafar bin Syaikhon Assegaf, Habib Salim bin Jindan, dan lainnya. Dari pertemuan kecil itu, haul kemudian berkembang menjadi acara akbar yang dihadiri jamaah dari berbagai penjuru.

Peran Kiai Hamid Pasuruan

Salah satu tokoh yang berperan besar dalam meluasnya Haul Solo adalah Kiai Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar dari Pasuruan, murid al-Habib Jafar bin Syaikhon Assegaf. Melalui Kiai Hamid, kabar haul tersebar luas di kalangan masyarakat Pasuruan dan sekitarnya. HIngga ramai jemaah yang hadir di kala itu mayoritas merupakan warga Pasuruan dan sekitarnya. Dikarenakan wilayah Pasuruan dan sekitarnya merupakan kawasan tapal kuda yang mayoritas penduduknya berbahasa Madura, hingga pada akhirnya ceramah di acara Haul Habib Ali al-Habsyi menggunakan bahasa Madura karena mayoritas yang hadir kala itu kebanyakan penduduk kota Pasuruan.

Mengapa Disebut Haul Solo?

Nama “Haul Solo” muncul karena acara ini diselenggarakan di Kota Solo. Dengan jamaah yang datang dari berbagai daerah, penyebutan “Haul Solo” lebih mudah diingat dibanding nama panjang haul al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.

Seiring berjalannya waktu, haul ini berkembang pesat. Ribuan hingga ratusan ribu jamaah memadati kawasan Pasar Kliwon, khususnya sepanjang Jalan Kapten Mulyadi, setiap tahunnya. Antusiasme ini membuat Pemerintah Kota Surakarta menetapkan Haul Solo sebagai agenda tahunan kota.

Tidak hanya pemerintah kota, Keraton Kasunanan Surakarta juga turut mendukung penuh dengan menyediakan tempat istirahat bagi jamaah luar kota. Bahkan, perputaran ekonomi Solo selama haul ini mencapai miliaran rupiah hanya dalam waktu dua hari, menjadikannya salah satu momen ekonomi terbesar di kota tersebut.

Karena ketulusan para murid-murid Habib Ali di Indonesia dan Habib Alwi Al-Habsyi, acara yang dahulunya hanya dihadiri puluhan orang bagai ombak besar menerjang. Sekarang lautan manusia setiap tahunnya memenuhi Kota Surakarta untuk menghadiri Haul Solo.