BA'ALAWI YAMAN, NAMANYA DIABADIKAN MENJADI BANDARA, BUKAN KARENA RAMAI MENCACI, TAPI KARENA BESAR JASA DAN PENGABDIANNYA.
Kamis, 9 Juli 2026
Faktakini.info
BAALAWI YAMAN, NAMANYA DIABADIKAN MENJADI BANDARA, BUKAN KARENA RAMAI MENCACI, TAPI KARENA BESAR JASA DAN PENGABDIANNYA.
Lihatlah salah satu bandara di Indonesia. Namanya Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufri di Palu, Sulawesi Tengah.
"SIS" adalah singkatan dari Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Guru Tua. Beliau adalah ulama besar dari kalangan Ba'alawi yang mengabdikan hidupnya untuk dakwah dan pendidikan. Ribuan murid telah beliau lahirkan, ratusan lembaga pendidikan berkembang dari perjuangannya, dan manfaatnya masih dirasakan hingga hari ini.
Karena itulah, negara mengabadikan nama beliau menjadi nama sebuah bandara. Sebuah penghormatan yang lahir dari jejak pengabdian, bukan dari gaduhnya perdebatan.
Ini menjadi pelajaran bahwa seseorang dikenang bukan karena kerasnya suara ketika mencaci, tetapi karena besarnya manfaat yang ditinggalkan.
Sebaliknya, kita juga menyaksikan ada sebagian orang yang begitu sibuk menyerang dan mencela habaib. Hari-harinya dipenuhi polemik dan permusuhan. Namun waktu selalu menjadi hakim yang adil. Masyarakat akan menilai siapa yang meninggalkan warisan ilmu, akhlak, dan karya, dan siapa yang hanya meninggalkan jejak pertengkaran.
Nama Guru Tua terus dikenang dalam sejarah Indonesia. Ribuan orang datang mengenang jasa beliau. Sementara nama-nama yang hanya hidup dari kebencian akan sangat bergantung pada riuhnya polemik. Ketika polemik itu padam, yang tersisa hanyalah pertanyaan: apa manfaat nyata yang telah mereka tinggalkan untuk umat dan negeri?
Sejarah akhirnya berbicara dengan caranya sendiri. Ada yang namanya diabadikan di bandara karena jasa dan pengabdian. Ada pula yang hanya berharap namanya tetap diingat melalui kontroversi.
Masyarakat tentu dapat menilai sendiri, warisan mana yang lebih layak dihormati.
